Guru Besar UNEJ Rintis AI Ramah Disabilitas Berbasis Sinyal Otak
Jum'at, 27 Februari 2026 - 16:49 WIB
Keunikan lain dari sosok Prof. Anam adalah rekam jejak akademik dan spiritualnya. Meski merupakan seorang pakar teknik, ia adalah seorang Hafidz Qur’an yang juga menempuh pendidikan Magister Studi Islam. Ia meyakini bahwa teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah kehidupan fisik, tetapi juga menguatkan nilai-nilai keagamaan.
Kegelisahannya dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, khususnya bagi orang dewasa dengan keterbatasan waktu dan pendamping murojaah, mendorongnya melakukan riset yang tak biasa.
“Melalui kajian Magister Studi Islam, saya meneliti pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai pendamping pembelajaran tahfidz. AI ini dirancang untuk memprediksi kesalahan bacaan, memberikan umpan balik objektif, dan menjadi teman murojaah yang konsisten. Pengalaman ini memperkuat pandangan saya bahwa teknologi dan agama, ketika dikembangkan dengan niat yang benar, bukanlah dua hal yang berseberangan,” jelasnya.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Anam membangun rekam jejak riset yang kuat melalui publikasi bereputasi internasional, perolehan paten dan hak kekayaan intelektual, serta berbagai penghargaan akademik nasional dan internasional. Ia juga aktif memperluas kolaborasi global, termasuk sebagai Global Research Fellow di Universiti Kuala Lumpur pada 2026.
Meski deretan prestasinya gemilang, Prof. Anam menegaskan bahwa gelar profesor ini bukanlah hasil usaha pribadinya semata. Doa, pengorbanan, dan kesabaran dari istri, anak-anak, serta kedua orang tuanya adalah fondasi utamanya. “Sejak awal, mereka senantiasa menanamkan nilai keikhlasan dan keyakinan bahwa ilmu harus diabdikan untuk kemaslahatan,” pungkasnya.
Pengukuhan ini semakin menegaskan posisi Universitas Jember sebagai kampus riset berdampak yang mengembangkan inovasi teknologi inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan manusia.
Kegelisahannya dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, khususnya bagi orang dewasa dengan keterbatasan waktu dan pendamping murojaah, mendorongnya melakukan riset yang tak biasa.
“Melalui kajian Magister Studi Islam, saya meneliti pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai pendamping pembelajaran tahfidz. AI ini dirancang untuk memprediksi kesalahan bacaan, memberikan umpan balik objektif, dan menjadi teman murojaah yang konsisten. Pengalaman ini memperkuat pandangan saya bahwa teknologi dan agama, ketika dikembangkan dengan niat yang benar, bukanlah dua hal yang berseberangan,” jelasnya.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Anam membangun rekam jejak riset yang kuat melalui publikasi bereputasi internasional, perolehan paten dan hak kekayaan intelektual, serta berbagai penghargaan akademik nasional dan internasional. Ia juga aktif memperluas kolaborasi global, termasuk sebagai Global Research Fellow di Universiti Kuala Lumpur pada 2026.
Meski deretan prestasinya gemilang, Prof. Anam menegaskan bahwa gelar profesor ini bukanlah hasil usaha pribadinya semata. Doa, pengorbanan, dan kesabaran dari istri, anak-anak, serta kedua orang tuanya adalah fondasi utamanya. “Sejak awal, mereka senantiasa menanamkan nilai keikhlasan dan keyakinan bahwa ilmu harus diabdikan untuk kemaslahatan,” pungkasnya.
Pengukuhan ini semakin menegaskan posisi Universitas Jember sebagai kampus riset berdampak yang mengembangkan inovasi teknologi inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan manusia.
(nnz)
Lihat Juga :