Kisah Christopher, Dalang Muda ITS Berdarah Tionghoa yang Angkat Isu Inklusi Sosial

Rabu, 04 Maret 2026 - 15:22 WIB
Sayangnya, di tempat tersebut pemuda kelahiran 26 Agustus 2004 itu justru mendapat ‘celaan’ karena kondisi rhotasisme atau cadel huruf R yang dialaminya. Tak hanya sampai di situ, penolakan karena perbedaan etnis pun juga sempat ia rasakan di usianya yang masih sangat belia saat itu.

Baca juga: ITS Kembangkan Teknologi Deteksi TBC Berbasis Suara Batuk dan IoT

Oleh karena itu, ia pun sempat menjauh dari mimpinya menjadi seorang dalang. Namun, dengan tekad lebih kuat, ia kembali belajar secara otodidak melalui media sosial dan buku hingga meraih berbagai prestasi.

Pada acara See You Soon 2023 di Tower 2 ITS, ia bahkan membawakan cerita wayang dalam tiga bahasa, yakni Inggris, Jawa, dan Mandarin. “Saya sempat berhenti (mendalang), tapi kembali belajar wayang karena ini warisan budaya Indonesia untuk semua tanpa memandang perbedaan apapun,” ujar pemuda yang gemar juga membaca buku ini.

Langkahnya tak berhenti sampai di situ. Sebagai mahasiswa, ia sering melakukan riset budaya dan sosial masyarakat. Untuk kelulusannya sebagai sarjana, ia telah mengerjakan tugas akhir berjudul Pembangunan Inklusi Sosial di Kota Surabaya: Studi Fenomenologi Diskriminasi Interseksionalistik terhadap Penutur dengan Rhotasisme yang membahas tentang bagaimana orang dengan rhotasisme di kota bisa mengalami inklusi sosial.

“Bahkan, salah satu penelitian saya telah mengantarkan saya menjadi pembicara dalam forum bertaraf dunia, International Symposium on Javanese Culture 2024,” ungkap pemuda kelahiran Surabaya ini dengan bangga.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!