Melawan Jeruji Korporasi: Lika-Liku Yusof Ferdinand Raih Gelar Doktor Hukum
Kamis, 14 Mei 2026 - 08:42 WIB
Yusof Ferdinand Wangania
JAKARTA - Suasana khidmat menyelimuti prosesi wisuda Universitas Pancasila (UP) hari ini (13/5) di Jakarta. Di antara ratusan wisudawan yang berbahagia, sosok Yusof Ferdinand Wangania menarik perhatian. Bukan sekadar merayakan kelulusan, Yusof baru saja menuntaskan perjalanan panjang dan berliku di jenjang tertinggi akademik: Program Doktor (S3) Ilmu Hukum.
Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan cerita tentang kegigihan, keresahan moral, hingga "kejutan" bagi rekan-rekan sejawatnya yang tak menyangka ia mampu merengkuh gelar doktor dengan raihan IPK nyaris sempurna, 3,95 yang diselesaikan hanya dalam waktu 5 semester.
Perjuangan Membagi Waktu dan Melawan Rasa Menyerah
Menyelesaikan pendidikan S3 di Fakultas Hukum Universitas Pancasila diakui Yusof bukanlah perkara mudah. Sejak awal perkuliahan, ia harus berhadapan dengan kewajiban tatap muka setiap sore hariāsebuah tantangan besar bagi seorang praktisi yang harus membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan keluarga.
"Sangat bangga dan berterima kasih kepada istri serta anak-anak. Tanpa dukungan mereka, sulit bagi saya membagi waktu antara kerja dan kuliah," ungkap Yusof penuh haru.
Momentum tersulit hadir saat ia harus melakukan penelitian mendalam. Tuntutan prodi untuk menemukan kaidah atau teori baru bagi kehidupan masyarakat sempat membuatnya nyaris menyerah. Namun, dorongan dari keluarga dan beban moral untuk tidak meninggalkan jejak digital yang negatif membuatnya bangkit.
Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan cerita tentang kegigihan, keresahan moral, hingga "kejutan" bagi rekan-rekan sejawatnya yang tak menyangka ia mampu merengkuh gelar doktor dengan raihan IPK nyaris sempurna, 3,95 yang diselesaikan hanya dalam waktu 5 semester.
Perjuangan Membagi Waktu dan Melawan Rasa Menyerah
Menyelesaikan pendidikan S3 di Fakultas Hukum Universitas Pancasila diakui Yusof bukanlah perkara mudah. Sejak awal perkuliahan, ia harus berhadapan dengan kewajiban tatap muka setiap sore hariāsebuah tantangan besar bagi seorang praktisi yang harus membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan keluarga.
"Sangat bangga dan berterima kasih kepada istri serta anak-anak. Tanpa dukungan mereka, sulit bagi saya membagi waktu antara kerja dan kuliah," ungkap Yusof penuh haru.
Momentum tersulit hadir saat ia harus melakukan penelitian mendalam. Tuntutan prodi untuk menemukan kaidah atau teori baru bagi kehidupan masyarakat sempat membuatnya nyaris menyerah. Namun, dorongan dari keluarga dan beban moral untuk tidak meninggalkan jejak digital yang negatif membuatnya bangkit.
Lihat Juga :