Mahasiswa Diminta Waspada Terhadap Kelompok yang Memecah Belah Bangsa
Selasa, 31 Agustus 2021 - 21:58 WIB
Menurutnya, boleh dibilang semua teroris pasti berpaham radikal, bersikap intoleran dan pasti eksklusif. Namun belum tentu seseorang yang terpapar paham radikal itu otomatis menjadi teroris. Dan kalau masyarakat menemukan seseorang yang seolah-olah tidak toleran dan tidak eksklusif padahal dia ingin Khilafah, dan ingin anti Pancasila, sebenarnya dia dalam rangka taqqiyah, menyembunyikan diri atau bersiasat untuk mengamankan visi dan misinya.
“Karena radikalisme terorisme mengatasnamakan Islam dalam konteks di Indonesia khususnya, sejatinya adalah gerakan politik yang memanipulasi agama untuk mengambil kekuasaan dan ingin mengganti ideologi negara dan ideologi atau sistem negara. Sebenarnya endingnya, output atau visi misinya sama. Tentunya ini yang harus kita waspadai semua,” ujar mantan Kapolres Jembrana ini.
Untuk itu alumni Akpol tahun 1989 ini pun mengimbau kepada para generasi muda untuk berhenti mengikuti ustad atau tokoh yang menyebarkan paham radikal dan intoleran baik di lingkungan sosial maupun media sosial.
“Jangan lagi mem-follow ustad ataupun tokoh-tokoh yang berpaham radikal yang suka mengadu domba, memprovokasi yang akhirnya kalian nanti malah terpecah belah. Karena sejatinnya tidak ada tokoh atapun ustad yang mengajarkan kekerasan, mengadu domba atau memprovokasi bahkan melakukan ujaran kebencian,” ujar mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri
Oleh karenanya perwira tinggi yang pernah menjabat sebagai Kapolres Gianyar ini berpesan kepada para generasi muda untuk selalu ikut berperan serta dalam menangkal radikalisme dan terorisme dengan cara militan yaitu dengan menangkal sebaran hoax dan propaganda dengan aktif menyebarkan konten persatuan dan toleransi.
“Terakhir, follow ustad dan tokoh yang moderat, toleran dan damai serta cinta NKRI dan Pancasila baik di ligkungan sosial maupun media sosial. Sehingga kita semua wajib menjadi buzzer dan influencer bagi perdamaian persatuan, toleransi dan kebhinekaan dalam keberagamanan,” ujar Kadensus 88/Anti Teror 88, Ditrekrim Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengakhiri.
Sementara itu Ditjen Pothan Kemhan RI, Mayjen TNI Dadang Hendrayudha yang juga hadir membuka acara tersebut juga turut menyampaikan pentingnya peran para pemuda khususnya para mahasiswa untuk ikut serta dalam upaya bela negara ditengah banyaknya potensi ancaman bangsa saat ini. “Saya minta kepada adik-adik semuanya untuk melakukan Bela Negara dengan cara berbuat baik dan benar apapun status sosial kita. Hanya itu!” tegas Mayjen TNI Dadang Hendrayudha
“Karena radikalisme terorisme mengatasnamakan Islam dalam konteks di Indonesia khususnya, sejatinya adalah gerakan politik yang memanipulasi agama untuk mengambil kekuasaan dan ingin mengganti ideologi negara dan ideologi atau sistem negara. Sebenarnya endingnya, output atau visi misinya sama. Tentunya ini yang harus kita waspadai semua,” ujar mantan Kapolres Jembrana ini.
Untuk itu alumni Akpol tahun 1989 ini pun mengimbau kepada para generasi muda untuk berhenti mengikuti ustad atau tokoh yang menyebarkan paham radikal dan intoleran baik di lingkungan sosial maupun media sosial.
“Jangan lagi mem-follow ustad ataupun tokoh-tokoh yang berpaham radikal yang suka mengadu domba, memprovokasi yang akhirnya kalian nanti malah terpecah belah. Karena sejatinnya tidak ada tokoh atapun ustad yang mengajarkan kekerasan, mengadu domba atau memprovokasi bahkan melakukan ujaran kebencian,” ujar mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri
Oleh karenanya perwira tinggi yang pernah menjabat sebagai Kapolres Gianyar ini berpesan kepada para generasi muda untuk selalu ikut berperan serta dalam menangkal radikalisme dan terorisme dengan cara militan yaitu dengan menangkal sebaran hoax dan propaganda dengan aktif menyebarkan konten persatuan dan toleransi.
“Terakhir, follow ustad dan tokoh yang moderat, toleran dan damai serta cinta NKRI dan Pancasila baik di ligkungan sosial maupun media sosial. Sehingga kita semua wajib menjadi buzzer dan influencer bagi perdamaian persatuan, toleransi dan kebhinekaan dalam keberagamanan,” ujar Kadensus 88/Anti Teror 88, Ditrekrim Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengakhiri.
Sementara itu Ditjen Pothan Kemhan RI, Mayjen TNI Dadang Hendrayudha yang juga hadir membuka acara tersebut juga turut menyampaikan pentingnya peran para pemuda khususnya para mahasiswa untuk ikut serta dalam upaya bela negara ditengah banyaknya potensi ancaman bangsa saat ini. “Saya minta kepada adik-adik semuanya untuk melakukan Bela Negara dengan cara berbuat baik dan benar apapun status sosial kita. Hanya itu!” tegas Mayjen TNI Dadang Hendrayudha
Lihat Juga :