Mahasiswa ITB-UI Rancang Produk One Step Solution untuk Perawatan Kulit
Jum'at, 02 September 2022 - 13:41 WIB
Sejak tahap pertama, yaitu pengajuan ide proyek bergulir, terdapat 144 tim yang berpartisipasi. 10 tim terbaik akhirnya berkompetisi di babak final. Naqi menuturkan di babak final mereka mengikuti beberapa agenda, yakni Meet Up Day, Training Session, Mentoring Day, Hack Day, Demo Day, dan Awarding Night dalam kurun waktu 1 minggu.
Baca juga: Program Magang Kemendikbudristek untuk Mahasiswa Dibuka Kembali
“Saat Mentoring Day, kami diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan mentor yang sudah mumpuni di bidang produk dan software development. Saat Hack Day, kami dan tim finalis lainnya melakukan realisasi produk yang telah diinisiasi. Selain itu, kami membuat PPT untuk pitching serta video TVC. Saat Demo Day, kami mempresentasikan hasil kerja kami secara langsung kepada juri selama 15 menit,” ungkap Naqi.
Ini adalah kali pertama ketiganya mengikuti hackathon. Saat H-1 pendaftaran akan ditutup, mereka baru mendaftarkan diri. Meskipun masih minim persiapan, Tim Upside Down langsung menggodok ide bersama dan melakukan riset mengenai masalah yang akan diangkat. Dalam kurun waktu 32 jam, mereka berhasil menciptakan aplikasinya menggunakan JavaScript.
Menurut Celine, kuncinya adalah tidak takut mencoba. “Berkompetisi, apa pun jenis lombanya, akan menambah pengalaman sekaligus bisa mencicipi learning by doing. Akan ada banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang didapat. Untuk hasilnya adalah bonus, yang utama kita sudah semaksimal mungkin untuk mengerjakan lombanya," pungkasnya.
Baca juga: Program Magang Kemendikbudristek untuk Mahasiswa Dibuka Kembali
“Saat Mentoring Day, kami diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan mentor yang sudah mumpuni di bidang produk dan software development. Saat Hack Day, kami dan tim finalis lainnya melakukan realisasi produk yang telah diinisiasi. Selain itu, kami membuat PPT untuk pitching serta video TVC. Saat Demo Day, kami mempresentasikan hasil kerja kami secara langsung kepada juri selama 15 menit,” ungkap Naqi.
Ini adalah kali pertama ketiganya mengikuti hackathon. Saat H-1 pendaftaran akan ditutup, mereka baru mendaftarkan diri. Meskipun masih minim persiapan, Tim Upside Down langsung menggodok ide bersama dan melakukan riset mengenai masalah yang akan diangkat. Dalam kurun waktu 32 jam, mereka berhasil menciptakan aplikasinya menggunakan JavaScript.
Menurut Celine, kuncinya adalah tidak takut mencoba. “Berkompetisi, apa pun jenis lombanya, akan menambah pengalaman sekaligus bisa mencicipi learning by doing. Akan ada banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang didapat. Untuk hasilnya adalah bonus, yang utama kita sudah semaksimal mungkin untuk mengerjakan lombanya," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :