Berbasis IoT, Alat Monitong Cuaca dan Udara Unair Raih HKI
Sabtu, 21 Januari 2023 - 09:04 WIB
loading...
A
A
A
“Selain itu, monitoring cuaca dari perangkat AIRFEEL ini juga penting terutama terkait dengan pengetahuan kondisi cuaca dan perubahan iklim,” imbuhnya.
Secara luas, AIRFEEL dapat digunakan baik oleh akademisi, mahasiswa, masyarakat, maupun industri untuk mengukur kondisi cuaca dan kualitas udara di berbagai lokasi dan dalam berbagai kondisi.
“Jadi, manfaatnya banyak sekali. Di bidang keilmuan misalnya, AIRFEEL ini dapat digunakan baik di bidang ilmu instrumentasi, lingkungan, kesehatan, maupun bidang lainnya. AIRFEEL juga dapat digunakan untuk mengukur potensi energi angin dan energi surya. Dan, AIRFEEL bisa jadi pendukung penelitian untuk bidang ilmu lain yang berkaitan dengan cuaca dan kualitas udara,” papar Prisma.
Meski berhasil ciptakan inovasi tersebut, tentu saja penelitian yang digawangi dosen FTMM Unair ini berjalan bukan tanpa tantangan. Pasalnya, FTMM pada saat itu masih menjadi fakultas yang benar-benar baru, sehingga penelitian dilakukan tanpa bantuan mahasiswa.
Baru pada akhir tahun 2020, penelitian ini dilakukan dengan kolaborasi bersama mahasiswa FTMM sehingga pengembangan dapat lebih luas dan lebih canggih.
“Akhir 2020 baru ada mahasiswa, lalu dilanjutkan 2021-2022 sehingga alat ini bisa lebih canggih dan pengembangannya lebih luas,” ujar Prisma.
Ke depan, Prisma berharap, pengembangan AIRFEEL dapat terus dilanjutkan dengan berbagai penambahan inovasi dan sistem yang lebih canggih. Selain itu, ia juga berharap AIRFEEL dapat menarik minat industri serta dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat secara luas.
“Saya harap, produk ini bisa menarik minat industri dan dapat digunakan sebagai alat-alat pendukung. Kedua, saya harap alat ini bisa digunakan secara meluas di masyarakat dan bisa mengembangkan kehidupan masyarakat seperti untuk keperluan pariwisata maupun lingkungan,” pungkasnya.
Secara luas, AIRFEEL dapat digunakan baik oleh akademisi, mahasiswa, masyarakat, maupun industri untuk mengukur kondisi cuaca dan kualitas udara di berbagai lokasi dan dalam berbagai kondisi.
“Jadi, manfaatnya banyak sekali. Di bidang keilmuan misalnya, AIRFEEL ini dapat digunakan baik di bidang ilmu instrumentasi, lingkungan, kesehatan, maupun bidang lainnya. AIRFEEL juga dapat digunakan untuk mengukur potensi energi angin dan energi surya. Dan, AIRFEEL bisa jadi pendukung penelitian untuk bidang ilmu lain yang berkaitan dengan cuaca dan kualitas udara,” papar Prisma.
Meski berhasil ciptakan inovasi tersebut, tentu saja penelitian yang digawangi dosen FTMM Unair ini berjalan bukan tanpa tantangan. Pasalnya, FTMM pada saat itu masih menjadi fakultas yang benar-benar baru, sehingga penelitian dilakukan tanpa bantuan mahasiswa.
Baru pada akhir tahun 2020, penelitian ini dilakukan dengan kolaborasi bersama mahasiswa FTMM sehingga pengembangan dapat lebih luas dan lebih canggih.
“Akhir 2020 baru ada mahasiswa, lalu dilanjutkan 2021-2022 sehingga alat ini bisa lebih canggih dan pengembangannya lebih luas,” ujar Prisma.
Ke depan, Prisma berharap, pengembangan AIRFEEL dapat terus dilanjutkan dengan berbagai penambahan inovasi dan sistem yang lebih canggih. Selain itu, ia juga berharap AIRFEEL dapat menarik minat industri serta dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat secara luas.
“Saya harap, produk ini bisa menarik minat industri dan dapat digunakan sebagai alat-alat pendukung. Kedua, saya harap alat ini bisa digunakan secara meluas di masyarakat dan bisa mengembangkan kehidupan masyarakat seperti untuk keperluan pariwisata maupun lingkungan,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :