Unpad Tambah 11 Guru Besar Baru, Berikut Profil Singkatnya
Rabu, 25 Januari 2023 - 15:32 WIB
loading...
A
A
A
Saat ini roadmap penelitiannya adalah mengenai inklusivitas untuk pembangunan berkelanjutan berkolaborasi dengan berbagai mitra internasional. “Riset-riset yang dilakukan itu fokus kepada isu pembangunan. Bagaimana caranya pembangunan itu bisa didesain untuk lebih inklusif melibatkan kelompok-kelompok marginal dan tetap memperhatikan keberlanjutannya,” ungkap Prof. Ida. Prof. Ida pun berkolaborasi dengan berbagai bidang, mengingat penelitian mengenai inklusif tidak dapat bekerja sendiri di satu bidang.
8. Prof. Nunung Nurwati
Prof. Nunung diangkat sebagai Guru Besar bidang ilmu Kesejahteraan Keluarga dan Anak pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dalam kajiannya, Prof. Nunung fokus pada isu anak dan keluarga. Menurutnya, kehidupan anak sangat berharga dan sangat menentukan kehidupan kita di masa mendatang.
Dalam kenyataanya, ada banyak kondisi lingkungan yang tidak berpihak kepada anak sehingga anak menjadi tidak terpenuhi haknya. Hak yang tidak terpenuhi diantaranya adalah hak untuk bermain dan bersekolah. Fenomena yang ia soroti di antaranya adalah mengenai anak bekerja.
Menurutnya, penggulangan masalah tersebut memerlukan peran keluarganya. “Solusinya, keluarga harus memiliki ketahanan yang kuat,” kata Prof. Nunung. Selain itu,ketidakberdayaan anak untuk menolak sesuatu yang seharusnya tidak ia terima pun menjadi sorotan Prof. Nunung.
Ia juga berupaya mengefektifkan kontrol sosial untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya, semua stakeholders harus berperan sesuai dengan fungsinya.
9. Prof Rita Rostika
Prof. Rita diangkat sebagai Guru Besar bidang ilmu Akuakultur pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ia banyak mengkaji mengenai optimalisasi marikultur di Indonesia. Ia mengatakan bahwa budidaya perikanan laut atau disebut juga marikultur belum banyak diupayakan.
Padahal sumber daya alam utama yang sangat memadai, yakni garis pantai Indonesia no. 2 terpanjang di dunia dan ketersediaan ikan laut yang memadai sebagai benih. “Seharusnya kita bisa melakukan budidaya laut dengan lebih baik lagi,” ujar Prof. Rita.
Oleh karena itu, budidaya perikanan yang saat ini sedang ia geluti yakni komoditas finfish seperti kerapu cantang, bawal bintang, cobia, kakap putih, giant travelly atau kuwe dan dari golongan prawn yaitu lobster.
Prof. Rita pun menyebutkan bahwa marikultur merupakan raksasa yang masih tidur. Ia berharap, raksasa yang masih tidur ini segera bangun dan tumbuh untuk sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
10. Prof. Irna Sufiawati
Prof. Irna Sufiawati diangkat sebagai Guru Besar Bidang ilmu Penyakit Mulut pada Fakultas Kedokteran Gigi. Dikatakan Prof. Irna, ilmu penyakit mulut merupakan bidang ilmu yang menjadi perantara dan mampu mengintegrasikan antara ilmu kedokteran dengan kedokteran gigi.
“Fokus kepakaran keilmuan saya adalah penyakit infeksius dalam perspektif ilmu penyakit mulut, dengan tujuan untuk menyoroti masalah penyakit infeksius dan peran penting Ilmu Penyakit Mulut di masa depan layanan kesehatan, agar penyakit akibat infeksi mikroorganisme di rongga mulut menjadi lebih dikenal, dipahami dan diberi perhatian oleh masyarakat Indonesia dalam usaha penanggulangan penyakit ini secara nasional dan global,” ujar Prof. Irna.
Berbagai penelitian telah Prof. Irna lakukan dengan kolaborasi skala nasional dan internasional. Saat ini, ia dan tim dari Fakultas Kedokteran Gigi berkerja sama Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, dan Fakultas Psikologi meneliti dan mengembangkan efektifitas obat herbal untuk mengatasi infeksi mukosa mulut. Salah satu bahan yang digunakan adalah curcuma. Selain itu, ia dan tim juga mencoba mengembangkan media kultur untuk mikroba penyebab infeksi rongga mulut dari tanaman kentang granola Pangalengan.
11. Prof. Didin Muhafidin
Prof. Didin Muhafidin diangkat sebagai Guru Besar bidang ilmu Kebijakan Publik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Berbagai penelitian telah ia lakukan mengenai kebijakan publik. Ia pun banyak diikutsertakan dalam penyusunan Undang-undang, salah satunya Undang-Undang Desa tahun 2006. Saat ini, Prof. Didin pun fokus dalam pendampingan pemerintah daerah untuk melakukan penyusunan sejumlah Peraturan Daerah.
8. Prof. Nunung Nurwati
Prof. Nunung diangkat sebagai Guru Besar bidang ilmu Kesejahteraan Keluarga dan Anak pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dalam kajiannya, Prof. Nunung fokus pada isu anak dan keluarga. Menurutnya, kehidupan anak sangat berharga dan sangat menentukan kehidupan kita di masa mendatang.
Dalam kenyataanya, ada banyak kondisi lingkungan yang tidak berpihak kepada anak sehingga anak menjadi tidak terpenuhi haknya. Hak yang tidak terpenuhi diantaranya adalah hak untuk bermain dan bersekolah. Fenomena yang ia soroti di antaranya adalah mengenai anak bekerja.
Menurutnya, penggulangan masalah tersebut memerlukan peran keluarganya. “Solusinya, keluarga harus memiliki ketahanan yang kuat,” kata Prof. Nunung. Selain itu,ketidakberdayaan anak untuk menolak sesuatu yang seharusnya tidak ia terima pun menjadi sorotan Prof. Nunung.
Ia juga berupaya mengefektifkan kontrol sosial untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya, semua stakeholders harus berperan sesuai dengan fungsinya.
9. Prof Rita Rostika
Prof. Rita diangkat sebagai Guru Besar bidang ilmu Akuakultur pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ia banyak mengkaji mengenai optimalisasi marikultur di Indonesia. Ia mengatakan bahwa budidaya perikanan laut atau disebut juga marikultur belum banyak diupayakan.
Padahal sumber daya alam utama yang sangat memadai, yakni garis pantai Indonesia no. 2 terpanjang di dunia dan ketersediaan ikan laut yang memadai sebagai benih. “Seharusnya kita bisa melakukan budidaya laut dengan lebih baik lagi,” ujar Prof. Rita.
Oleh karena itu, budidaya perikanan yang saat ini sedang ia geluti yakni komoditas finfish seperti kerapu cantang, bawal bintang, cobia, kakap putih, giant travelly atau kuwe dan dari golongan prawn yaitu lobster.
Prof. Rita pun menyebutkan bahwa marikultur merupakan raksasa yang masih tidur. Ia berharap, raksasa yang masih tidur ini segera bangun dan tumbuh untuk sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
10. Prof. Irna Sufiawati
Prof. Irna Sufiawati diangkat sebagai Guru Besar Bidang ilmu Penyakit Mulut pada Fakultas Kedokteran Gigi. Dikatakan Prof. Irna, ilmu penyakit mulut merupakan bidang ilmu yang menjadi perantara dan mampu mengintegrasikan antara ilmu kedokteran dengan kedokteran gigi.
“Fokus kepakaran keilmuan saya adalah penyakit infeksius dalam perspektif ilmu penyakit mulut, dengan tujuan untuk menyoroti masalah penyakit infeksius dan peran penting Ilmu Penyakit Mulut di masa depan layanan kesehatan, agar penyakit akibat infeksi mikroorganisme di rongga mulut menjadi lebih dikenal, dipahami dan diberi perhatian oleh masyarakat Indonesia dalam usaha penanggulangan penyakit ini secara nasional dan global,” ujar Prof. Irna.
Berbagai penelitian telah Prof. Irna lakukan dengan kolaborasi skala nasional dan internasional. Saat ini, ia dan tim dari Fakultas Kedokteran Gigi berkerja sama Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, dan Fakultas Psikologi meneliti dan mengembangkan efektifitas obat herbal untuk mengatasi infeksi mukosa mulut. Salah satu bahan yang digunakan adalah curcuma. Selain itu, ia dan tim juga mencoba mengembangkan media kultur untuk mikroba penyebab infeksi rongga mulut dari tanaman kentang granola Pangalengan.
11. Prof. Didin Muhafidin
Prof. Didin Muhafidin diangkat sebagai Guru Besar bidang ilmu Kebijakan Publik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Berbagai penelitian telah ia lakukan mengenai kebijakan publik. Ia pun banyak diikutsertakan dalam penyusunan Undang-undang, salah satunya Undang-Undang Desa tahun 2006. Saat ini, Prof. Didin pun fokus dalam pendampingan pemerintah daerah untuk melakukan penyusunan sejumlah Peraturan Daerah.
(nnz)
Lihat Juga :