Rektor UIN Jakarta Prof Asep Saepudin Jahar Ingin Wujudkan Integrasi Islam, Sains, dan Teknologi
Rabu, 29 Maret 2023 - 19:49 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, secara insititusional supaya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi perguruan tinggi keagamaan Islam negeri berbadan hukum. Ini supaya kita punya kemampuan dan kemandirian karena itu akan menopang yang tadi saya jelaskan.
Yang kedua, supaya UIN Jakarta ini menjadi world class university, supaya recognize secara global. Nah, supaya di-recognize secara global tadi itulah yang tadi saya jelaskan bahwa keunikan-keunikan apa yang harus terus dikembangkan.
Integrasi Islam, sains, dan teknologi itulah yang harus terus, bukan islamisasi sains. Harus diingat ya, bukan islamisasi sains tapi mendialogkan berbagai pendekatan, berbagai disiplin ilmu diramu, sehingga ada suatu kesepahaman, ada suatu pemahaman, sehingga kita tidak totaly exclusive.
Mengapa UIN Jakarta di bawah kepemimpinan Bapak mendorong ke arah mewujudkan integrasi Islam, sains, dan teknologi?
Karena kan sebenarnya kita belum tergali ya dalam konteks apa sih khazanah Islam itu yang begitu dalam dan juga ini (Islam) menjadi spirit dan menjadi karakter. Kemudian, kita juga perlu memberikan nilai-nilai ilahiah kepada dunia ini, kepada alam ini.
Sekarang kan tidak sekadar emotional quotients dan intelligence quotient tapi juga harus ada spritual quotient. Nah, yang lebih penting, kita bagaimana membumikan Islam sehingga tidak dianggap bahwa Islam ini menjadi problem atau menjadi “biang kerok” kehidupan sosial.
Seberapa efektif lembaga pendidikan seperti UIN Jakarta menjadi jalan solusi tersebut karena di sisi lain tentu ada organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain?
Betul, karena UIN ini kan menyiapkan intelektual, menyiapkan aktivis, menyiapkan juga enterpreneur, menyiapkan juga birokrat, menyiapkan juga politisi, dan lain-lain. Kalau mereka keluar dengan pemahaman terhadap Islam sangat kaku ataupun ekstrem, itu bahaya.
Nah, kalau ini kita tidak kelola dengan baik, berarti kita menyiapkan generasi yang akan menggerogoti Pancasila, menggerogoti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Karena itulah, hadirnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari dulu, dari zamannya Harun Nasution, itu terkait dengan rasionalisme. Nah, UIN Jakarta menghadirkan perspektif yang bisa lebih komprehensif.
Sehingga, walaupun kita melihat dari depan dan belakang atau samping, maka punya kesimpulan yang sama. Apa itu? Islam for harmony, Islam for peace, Islam for freedom. Itulah konteksnya, arahnya ke sana.
Bagaimana Bapak menilai posisi Rektor yang memiliki otoritas “besar” dengan nilai-nilai latar belakang Bapak dari keluarga guru?
Kebahagiaan saya dalam saya menjabat sebagai Rektor ini, ada imajinasinya saya, ada obsesi, kemudian punya otoritas. Alhamdulillah. Saya ingin terbuka dan transparan. Tapi yang lebih penting, saya punya otoritas kebijakan. Saya pengen maju UIN Jakarta ini. Ya Allah semoga diridhoi, saya ingin memperbaiki ini.
Wakaf saya sebagai Rektor adalah membuat kebijakan untuk kepentingan kemajuan UIN Jakarta. Setiap wakaf itu akan dicatat kebaikannya. Semua yang kita miliki nisbi semua. Maksud saya, kebaikan yang terbaik adalah membahagiakan orang, menyenangkan orang. Itulah yang saya bangun sebagai Rektor. Dalam arti, jabatan sebagai Rektor kan enggak lama. Hidup kan juga sementara, apalah arti hidup ini. Hidup ini kan “mazro’atul akhiroh”, hidup ini sebagai ladang berbuat baik untuk akhirat.
Pengalaman hidup saya yang guru, orang tua saya ya guru. Jadi, dedikasinya mengajar kepada masyarakat, kehidupannya juga tidak ada yang bergaya dan berlebihan seperti yang lain. Mungkin juga itu sebagai doa dari mereka ya untuk saya. Artinya, bagi saya ya mudah-mudahan diberikan umur panjang, kesehatan, dan kemampuan untuk berdedikasi melakukan perbaikan dan pengembangan untuk kemajuan UIN Jakarta.
Bagaimana cara UIN Jakarta untuk menyelaraskan Islam, sains, dan teknologi?
Yang memang harus selalu ditekankan adalah dalam sistem kurikulum kita. Contoh, apa sih basic knowledge yang harus dikuasai mahasiswa/i? Misalnya mahasiswa/i Fakultas Kedokteran di dalam konteks integrasi tadi? Tentu bukan berarti Islam itu nyuntik pasien itu beda, kan sama saja nyuntiknya.
Ketika dia nyuntik, bahwa ini (pasien) adalah human, tujuan kita adalah menyelamatkan nyawa manusia, dan itu adalah ibadah, itu adalah perintah Tuhan, maka inilah sebagai sebuah humanity. Sehingga, dia paham bahwa dasar-dasar tentang kedokteran itu dan natural science jalan, tetapi kita memperlakukan dia (pasien) dalam konteks humanity.
Di ekonomi juga sama kan. Ketika kita menyebut korupsi, dia korupsi itu kan bukan karena dia tidak paham, padahal itu kan sudah ada (larangan) dalam Islam. Di dalam Islam kan disebutkan bahwa ini harus ada kestabilan dalam harta, harus ada distribusi.
Maka itu, harus ada transparansi dan sebagainya. Islam mengajarkan itu. Bukan berarti secara tekstual disebutkan begini, enggak lagi begitu. Jadi, tidak secara doktrinal tetapi sudah menyatu. Tetapi itu menjadi tindakan yang sudah membaur dan menjadi nilai-nilai.
Selain integrasi Islam, sains, dan teknologi melalui kurikulum, apa cara lain yang ditempuh UIN Jakarta?
Tentu kalau kita menyebutkan kurikulum kan itu terkait dengan semua aktivitas ya, apakah itu di dalam dan di luar kelas.
Kemudian juga tentu risetnya kita kembangkan dan tingkatan, misalnya bagaimana mendialogkan ke kampus-kampus di dalam dan di luar negeri untuk itu. Sehingga, ada program yang alumni doktor ini kita postdoctoral-kan. Misalnya, yang doktor dari Barat itu postdoctoral-kan di Mesir dan yang dari Mesir, kita postdoctoral-kan di Barat. Itu supaya balancing, integrasi.
Yang kedua, supaya UIN Jakarta ini menjadi world class university, supaya recognize secara global. Nah, supaya di-recognize secara global tadi itulah yang tadi saya jelaskan bahwa keunikan-keunikan apa yang harus terus dikembangkan.
Integrasi Islam, sains, dan teknologi itulah yang harus terus, bukan islamisasi sains. Harus diingat ya, bukan islamisasi sains tapi mendialogkan berbagai pendekatan, berbagai disiplin ilmu diramu, sehingga ada suatu kesepahaman, ada suatu pemahaman, sehingga kita tidak totaly exclusive.
Mengapa UIN Jakarta di bawah kepemimpinan Bapak mendorong ke arah mewujudkan integrasi Islam, sains, dan teknologi?
Karena kan sebenarnya kita belum tergali ya dalam konteks apa sih khazanah Islam itu yang begitu dalam dan juga ini (Islam) menjadi spirit dan menjadi karakter. Kemudian, kita juga perlu memberikan nilai-nilai ilahiah kepada dunia ini, kepada alam ini.
Sekarang kan tidak sekadar emotional quotients dan intelligence quotient tapi juga harus ada spritual quotient. Nah, yang lebih penting, kita bagaimana membumikan Islam sehingga tidak dianggap bahwa Islam ini menjadi problem atau menjadi “biang kerok” kehidupan sosial.
Seberapa efektif lembaga pendidikan seperti UIN Jakarta menjadi jalan solusi tersebut karena di sisi lain tentu ada organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain?
Betul, karena UIN ini kan menyiapkan intelektual, menyiapkan aktivis, menyiapkan juga enterpreneur, menyiapkan juga birokrat, menyiapkan juga politisi, dan lain-lain. Kalau mereka keluar dengan pemahaman terhadap Islam sangat kaku ataupun ekstrem, itu bahaya.
Nah, kalau ini kita tidak kelola dengan baik, berarti kita menyiapkan generasi yang akan menggerogoti Pancasila, menggerogoti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Karena itulah, hadirnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari dulu, dari zamannya Harun Nasution, itu terkait dengan rasionalisme. Nah, UIN Jakarta menghadirkan perspektif yang bisa lebih komprehensif.
Sehingga, walaupun kita melihat dari depan dan belakang atau samping, maka punya kesimpulan yang sama. Apa itu? Islam for harmony, Islam for peace, Islam for freedom. Itulah konteksnya, arahnya ke sana.
Bagaimana Bapak menilai posisi Rektor yang memiliki otoritas “besar” dengan nilai-nilai latar belakang Bapak dari keluarga guru?
Kebahagiaan saya dalam saya menjabat sebagai Rektor ini, ada imajinasinya saya, ada obsesi, kemudian punya otoritas. Alhamdulillah. Saya ingin terbuka dan transparan. Tapi yang lebih penting, saya punya otoritas kebijakan. Saya pengen maju UIN Jakarta ini. Ya Allah semoga diridhoi, saya ingin memperbaiki ini.
Wakaf saya sebagai Rektor adalah membuat kebijakan untuk kepentingan kemajuan UIN Jakarta. Setiap wakaf itu akan dicatat kebaikannya. Semua yang kita miliki nisbi semua. Maksud saya, kebaikan yang terbaik adalah membahagiakan orang, menyenangkan orang. Itulah yang saya bangun sebagai Rektor. Dalam arti, jabatan sebagai Rektor kan enggak lama. Hidup kan juga sementara, apalah arti hidup ini. Hidup ini kan “mazro’atul akhiroh”, hidup ini sebagai ladang berbuat baik untuk akhirat.
Pengalaman hidup saya yang guru, orang tua saya ya guru. Jadi, dedikasinya mengajar kepada masyarakat, kehidupannya juga tidak ada yang bergaya dan berlebihan seperti yang lain. Mungkin juga itu sebagai doa dari mereka ya untuk saya. Artinya, bagi saya ya mudah-mudahan diberikan umur panjang, kesehatan, dan kemampuan untuk berdedikasi melakukan perbaikan dan pengembangan untuk kemajuan UIN Jakarta.
Bagaimana cara UIN Jakarta untuk menyelaraskan Islam, sains, dan teknologi?
Yang memang harus selalu ditekankan adalah dalam sistem kurikulum kita. Contoh, apa sih basic knowledge yang harus dikuasai mahasiswa/i? Misalnya mahasiswa/i Fakultas Kedokteran di dalam konteks integrasi tadi? Tentu bukan berarti Islam itu nyuntik pasien itu beda, kan sama saja nyuntiknya.
Ketika dia nyuntik, bahwa ini (pasien) adalah human, tujuan kita adalah menyelamatkan nyawa manusia, dan itu adalah ibadah, itu adalah perintah Tuhan, maka inilah sebagai sebuah humanity. Sehingga, dia paham bahwa dasar-dasar tentang kedokteran itu dan natural science jalan, tetapi kita memperlakukan dia (pasien) dalam konteks humanity.
Di ekonomi juga sama kan. Ketika kita menyebut korupsi, dia korupsi itu kan bukan karena dia tidak paham, padahal itu kan sudah ada (larangan) dalam Islam. Di dalam Islam kan disebutkan bahwa ini harus ada kestabilan dalam harta, harus ada distribusi.
Maka itu, harus ada transparansi dan sebagainya. Islam mengajarkan itu. Bukan berarti secara tekstual disebutkan begini, enggak lagi begitu. Jadi, tidak secara doktrinal tetapi sudah menyatu. Tetapi itu menjadi tindakan yang sudah membaur dan menjadi nilai-nilai.
Selain integrasi Islam, sains, dan teknologi melalui kurikulum, apa cara lain yang ditempuh UIN Jakarta?
Tentu kalau kita menyebutkan kurikulum kan itu terkait dengan semua aktivitas ya, apakah itu di dalam dan di luar kelas.
Kemudian juga tentu risetnya kita kembangkan dan tingkatan, misalnya bagaimana mendialogkan ke kampus-kampus di dalam dan di luar negeri untuk itu. Sehingga, ada program yang alumni doktor ini kita postdoctoral-kan. Misalnya, yang doktor dari Barat itu postdoctoral-kan di Mesir dan yang dari Mesir, kita postdoctoral-kan di Barat. Itu supaya balancing, integrasi.
Lihat Juga :