Rektor UIN Jakarta Prof Asep Saepudin Jahar Ingin Wujudkan Integrasi Islam, Sains, dan Teknologi
Rabu, 29 Maret 2023 - 19:49 WIB
loading...
Wawancara Khusus Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. Foto/Dok/Koran Sindo
A
A
A
Wawancara Khusus Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D
UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta akan memasuki usia ke-66 pada 1 Juni mendatang. Perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang berdiri dengan nama awal Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) itu memiliki sejarah dan rekam jejak panjang dalam khazanah dunia pendidikan Indonesia.
Alumninya pun memiliki peran dan kontribusi signifikan di berbagai sektor dan bidang. Pun ada banyak tokoh dan intelegensia dari UIN Jakarta berkaliber nasional hingga memiliki nama mendunia.
Reputasi UIN Jakarta pun diakui oleh berbagai kalangan baik di level nasional maupun di kancah internasional. Karena itu, setiap Rektor yang memimpin UIN Jakarta memikul “tugas akbar”, yakni haruslah tetap mempertahankan rekognisi nasional dan global, serta terus mengembangkan dan memperkokoh kualitas, peran, dan kontribusi civitas akademika dan alumni UIN Jakarta.
Jumat (17/3) sore, tim KORAN SINDO berkesempatan mewawancarai Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A. Ph.D., Rektor UIN Jakarta masa bakti 2023-2027 (Rektor ke-14). Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo itu resmi menjabat per 1 Maret 2023 setelah dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Asep yang juga lulusan Universitas McGill, Kanada dan Universitas Leipzig, Jerman.
Ihwal utama yang menjadi penekanan mantan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum serta Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta itu adalah mengintegrasikan Islam, sains, dan teknologi sehingga mampu memperkokoh kiprah civitas akademika dan lulusan UIN Jakarta.
Sorot mata Asep tajam, penuturannya penuh optimisme, dan disertai pula tamsil, canda, dan tawa. Berikut petikan wawancara khusus KORAN SINDO dengan Rektor UIN Syarif Hidayatullah yang baru saja terpilih.
Apa visi-misi Bapak sebagai Rektor UIN Jakarta periode 2023-2027 agar UIN Jakarta menjadi barometer pendidikan Islam?
Tentu saya tetap menghadirkan UIN Jakarta sebagai poros keilmuan dari sebagaimana telah dihadirkan oleh Harun Nasution, kemudian Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, dan seterusnya. Dan, dalam konteks ini UIN Jakarta adalah kiblat keilmuan, bagaimana positioning UIN dalam kajian Islam ini adalah sebagai core values dan core academic. Itu poin besar.
Tentu dua core ini yang ingin kita unggulkan di dalam konteks percaturan akademik, perhelatan global, yang akan kita kembangkan adalah bagaimana studi Islam yang bisa merespon perubahan-perubahan modern dalam konteks di dunia muslim dan internasional. Sehingga, inilah yang disebut integrasi.
Jadi, integrasi Islam, sains, dan teknologi. Dan, bagaimana itu menjadi perhatian besar dunia. Poin saya, bagaimana kajian-kajian studi itu di Timur Tengah dan di mana, di sinilah menjadi tempatnya. Yang kedua, kalau untuk merespon modernitas, ini bagaimana di dalam merespon isu-isu sosial, politik, dan ekonomi Islam yang memang diramu di UIN Jakarta.
Yang sudah dirintis tapi belum selesai (oleh rektor-rektor sebelumnya), formulasinya seperti apa di dalam konteks kurikulum, kajian, dan teaching. Ibaratnya dalam kaidah usul fikih “maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu”. Karena itulah bagaimana kita melakukan integrasi Islam, sains, dan teknologi.
Maka, kalau dinarasikan secara singkat adalah kita ingin menghadirkan UIN Jakarta ini sebagai suatu universitas yang unggul di dunia global dalam kajian Islam, sains, dan teknologi atau integrasi Islam, sains, dan teknologi. Itu secara core academic-nya.
Namun, tetap di dalamnya ya itu tadi dia menjadi poros, menjadi kiblat, menjadi pusat kajian, yang memang dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Sehingga, kalau ingin melihat potret Islam, ingin melihat potret masyarakat untuk bagaimana mensinergikan dan bagaimana mendialogkan Islam dengan perubahan-perubahan ya ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Memang harus kerja keras. Karena, budaya yang sudah ada harus kita rombak lagi dan itulah tantangannya. Tapi harus kita ubah dan itu butuh keberanian. Insya Allah kita bersinergi dengan para pimpinan (fakultas dan sekolah pascasarjana) untuk melakukan itu. Kita juga ubah bagian-bagian di biro yang men-support-nya. Karena, untuk perubahan itu butuh pemahaman.
Apakah sinergi yang Bapak maksud tadi karena selama ini belum maksimal upaya memajukan potret Islam dan masyarakat maupun dalam mensinergikan Islam dengan perubahan-perubahan?
Artinya, kita mereaktualisasikan dan aktualisasikan pemikiran, supaya ini bisa menjadi kebutuhan dunia. Itu salah satunya ya. Nah, seperti itulah UIN Jakarta, ingin menghadirkan harmoni. Maka itulah, untuk kajian-kajian yang sains, kemudian sosial, kemudian islamic studies kita tekankan, tentu core islamic studies harus dijaga walaupun secara kapitalisasi dalam konteks payment itu kan tidak sama dengan kedokteran dan sebagainya.
Tetapi dia (islamic studies) adalah menjadi tradisi UIN yang harus kita subsidi karena ini (islamic studies) yang menjadi distingtif-nya, menjadi nilai tambahnya. Ya kita melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh Harun Nasution, oleh Azyumardi Azra, oleh seluruh yang lain, oleh para pemimpin (rektor) sebelumnya. Kira-kira itu poin besarnya.
Bagaimana cara mewujudkan visi-misi tersebut?
Untuk implementasinya, paling mendasar adalah tentu kita melakukan restrukturisasi di dalam sistem. Supaya dikenal tentu teknologi informasi harus bagus. Tentu semuanya harus diisi di website dan jaringan supaya bisa terdeteksi oleh orang.
Itu yang kita benahi. Kemudian juga bagaimana peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa/i, riset, dan lain sebagainya. Jadi, dalam konteks inilah memang ini proyek kelanjutan tetapi memang ikhtiar besar.
Apa saja pesan dan amanah Menteri Agama untuk pengembangan, kemajuan, dan kontribusi UIN Jakarta baik di tingkat nasional maupun global?
Ada dua yang diamanatkan Menteri Agama, Gus Yaqut Cholil Qoumas secara konkret.
UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta akan memasuki usia ke-66 pada 1 Juni mendatang. Perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang berdiri dengan nama awal Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) itu memiliki sejarah dan rekam jejak panjang dalam khazanah dunia pendidikan Indonesia.
Alumninya pun memiliki peran dan kontribusi signifikan di berbagai sektor dan bidang. Pun ada banyak tokoh dan intelegensia dari UIN Jakarta berkaliber nasional hingga memiliki nama mendunia.
Reputasi UIN Jakarta pun diakui oleh berbagai kalangan baik di level nasional maupun di kancah internasional. Karena itu, setiap Rektor yang memimpin UIN Jakarta memikul “tugas akbar”, yakni haruslah tetap mempertahankan rekognisi nasional dan global, serta terus mengembangkan dan memperkokoh kualitas, peran, dan kontribusi civitas akademika dan alumni UIN Jakarta.
Jumat (17/3) sore, tim KORAN SINDO berkesempatan mewawancarai Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A. Ph.D., Rektor UIN Jakarta masa bakti 2023-2027 (Rektor ke-14). Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo itu resmi menjabat per 1 Maret 2023 setelah dilantik oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Asep yang juga lulusan Universitas McGill, Kanada dan Universitas Leipzig, Jerman.
Ihwal utama yang menjadi penekanan mantan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum serta Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta itu adalah mengintegrasikan Islam, sains, dan teknologi sehingga mampu memperkokoh kiprah civitas akademika dan lulusan UIN Jakarta.
Sorot mata Asep tajam, penuturannya penuh optimisme, dan disertai pula tamsil, canda, dan tawa. Berikut petikan wawancara khusus KORAN SINDO dengan Rektor UIN Syarif Hidayatullah yang baru saja terpilih.
Apa visi-misi Bapak sebagai Rektor UIN Jakarta periode 2023-2027 agar UIN Jakarta menjadi barometer pendidikan Islam?
Tentu saya tetap menghadirkan UIN Jakarta sebagai poros keilmuan dari sebagaimana telah dihadirkan oleh Harun Nasution, kemudian Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, dan seterusnya. Dan, dalam konteks ini UIN Jakarta adalah kiblat keilmuan, bagaimana positioning UIN dalam kajian Islam ini adalah sebagai core values dan core academic. Itu poin besar.
Tentu dua core ini yang ingin kita unggulkan di dalam konteks percaturan akademik, perhelatan global, yang akan kita kembangkan adalah bagaimana studi Islam yang bisa merespon perubahan-perubahan modern dalam konteks di dunia muslim dan internasional. Sehingga, inilah yang disebut integrasi.
Jadi, integrasi Islam, sains, dan teknologi. Dan, bagaimana itu menjadi perhatian besar dunia. Poin saya, bagaimana kajian-kajian studi itu di Timur Tengah dan di mana, di sinilah menjadi tempatnya. Yang kedua, kalau untuk merespon modernitas, ini bagaimana di dalam merespon isu-isu sosial, politik, dan ekonomi Islam yang memang diramu di UIN Jakarta.
Yang sudah dirintis tapi belum selesai (oleh rektor-rektor sebelumnya), formulasinya seperti apa di dalam konteks kurikulum, kajian, dan teaching. Ibaratnya dalam kaidah usul fikih “maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu”. Karena itulah bagaimana kita melakukan integrasi Islam, sains, dan teknologi.
Maka, kalau dinarasikan secara singkat adalah kita ingin menghadirkan UIN Jakarta ini sebagai suatu universitas yang unggul di dunia global dalam kajian Islam, sains, dan teknologi atau integrasi Islam, sains, dan teknologi. Itu secara core academic-nya.
Namun, tetap di dalamnya ya itu tadi dia menjadi poros, menjadi kiblat, menjadi pusat kajian, yang memang dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Sehingga, kalau ingin melihat potret Islam, ingin melihat potret masyarakat untuk bagaimana mensinergikan dan bagaimana mendialogkan Islam dengan perubahan-perubahan ya ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Memang harus kerja keras. Karena, budaya yang sudah ada harus kita rombak lagi dan itulah tantangannya. Tapi harus kita ubah dan itu butuh keberanian. Insya Allah kita bersinergi dengan para pimpinan (fakultas dan sekolah pascasarjana) untuk melakukan itu. Kita juga ubah bagian-bagian di biro yang men-support-nya. Karena, untuk perubahan itu butuh pemahaman.
Apakah sinergi yang Bapak maksud tadi karena selama ini belum maksimal upaya memajukan potret Islam dan masyarakat maupun dalam mensinergikan Islam dengan perubahan-perubahan?
Artinya, kita mereaktualisasikan dan aktualisasikan pemikiran, supaya ini bisa menjadi kebutuhan dunia. Itu salah satunya ya. Nah, seperti itulah UIN Jakarta, ingin menghadirkan harmoni. Maka itulah, untuk kajian-kajian yang sains, kemudian sosial, kemudian islamic studies kita tekankan, tentu core islamic studies harus dijaga walaupun secara kapitalisasi dalam konteks payment itu kan tidak sama dengan kedokteran dan sebagainya.
Tetapi dia (islamic studies) adalah menjadi tradisi UIN yang harus kita subsidi karena ini (islamic studies) yang menjadi distingtif-nya, menjadi nilai tambahnya. Ya kita melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh Harun Nasution, oleh Azyumardi Azra, oleh seluruh yang lain, oleh para pemimpin (rektor) sebelumnya. Kira-kira itu poin besarnya.
Bagaimana cara mewujudkan visi-misi tersebut?
Untuk implementasinya, paling mendasar adalah tentu kita melakukan restrukturisasi di dalam sistem. Supaya dikenal tentu teknologi informasi harus bagus. Tentu semuanya harus diisi di website dan jaringan supaya bisa terdeteksi oleh orang.
Itu yang kita benahi. Kemudian juga bagaimana peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa/i, riset, dan lain sebagainya. Jadi, dalam konteks inilah memang ini proyek kelanjutan tetapi memang ikhtiar besar.
Apa saja pesan dan amanah Menteri Agama untuk pengembangan, kemajuan, dan kontribusi UIN Jakarta baik di tingkat nasional maupun global?
Ada dua yang diamanatkan Menteri Agama, Gus Yaqut Cholil Qoumas secara konkret.
Lihat Juga :