Tim Mahasiswa ITB Ciptakan Aplikasi Guna Cegah Perundungan di Sekolah
Jum'at, 14 Juli 2023 - 15:30 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu anggota tim, Deftendy Virgiatman mengatakan tim mereka mempresentasikan inovasi berupa aplikasi bernama Bersuara. Aplikasi ini akan terintegrasi untuk memulihkan korban perundungan melalui pendekatan dari seorang psikiater sekaligus peneliti, Judith Herman.
“Pendekatan ini menjelaskan bahwa terdapat beberapa tahapan dalam model penerimaan dari trauma yang dialami oleh korban perundungan, yaitu tahap security, reconciliation, reconsolidation, dan transformation,” katanya, dikutip dari laman ITB, Jumat (14/7/2023).
Lebih lanjut, Deftendy menjelaskan bahwa aplikasi Bersuara memiliki tiga fitur utama, yaitu report, feedback, dan community. Pada tahap security, aplikasi ini menciptakan keamanan bagi korban untuk menyampaikan pengalaman mereka melalui fitur report.
Laporan yang masuk akan langsung ditangani oleh Pusat Pembinaan dan Pemberdayaan Anak (P3A) dan Bimbingan Konseling (BK) Sekolah. Pada tahap rekonsiliasi, korban diharapkan dapat memahami dan menerima kejadian yang terjadi melalui fitur feedback.
Fitur ini memungkinkan korban untuk melakukan konseling dengan para pakar yang terintegrasi dengan P3A, guru BK, dan konselor sebaya.
Selanjutnya, pada tahap rekonsolidasi, korban dapat memulai kembali kehidupan mereka setelah mengalami trauma. Hal ini diimplementasikan melalui fitur community yang memungkinkan para korban untuk saling mendukung satu sama lain.
Baca juga: Ini 15 Jurusan IPS yang Dibutuhkan 5 Tahun ke Depan, Siapkan Yuk Biar Tak Menyesal
“Pendekatan ini menjelaskan bahwa terdapat beberapa tahapan dalam model penerimaan dari trauma yang dialami oleh korban perundungan, yaitu tahap security, reconciliation, reconsolidation, dan transformation,” katanya, dikutip dari laman ITB, Jumat (14/7/2023).
Lebih lanjut, Deftendy menjelaskan bahwa aplikasi Bersuara memiliki tiga fitur utama, yaitu report, feedback, dan community. Pada tahap security, aplikasi ini menciptakan keamanan bagi korban untuk menyampaikan pengalaman mereka melalui fitur report.
Laporan yang masuk akan langsung ditangani oleh Pusat Pembinaan dan Pemberdayaan Anak (P3A) dan Bimbingan Konseling (BK) Sekolah. Pada tahap rekonsiliasi, korban diharapkan dapat memahami dan menerima kejadian yang terjadi melalui fitur feedback.
Fitur ini memungkinkan korban untuk melakukan konseling dengan para pakar yang terintegrasi dengan P3A, guru BK, dan konselor sebaya.
Selanjutnya, pada tahap rekonsolidasi, korban dapat memulai kembali kehidupan mereka setelah mengalami trauma. Hal ini diimplementasikan melalui fitur community yang memungkinkan para korban untuk saling mendukung satu sama lain.
Baca juga: Ini 15 Jurusan IPS yang Dibutuhkan 5 Tahun ke Depan, Siapkan Yuk Biar Tak Menyesal
Lihat Juga :