Program Pembelajaran Inggriya PPM Manajemen: Experiential Learning, Apakah Hanya Cukup Belajar dari Pengalaman?
Sabtu, 15 Juli 2023 - 11:04 WIB
loading...
A
A
A
“Perkembangan teknologi membuat opsi pembelajaran semakin mudah diakses, Chat GBT, AI, VR, atau teknologi lainnya dapat dipilih namun tantangannya adalah ketepatan pengembangan bagi sasaran perusahaan. Sedangkan dalam pengembangan soft skill yang harus dilibatkan adalah penggabungan kemampuan kognitif, afektif dan konatif. Pada aspek emosi dalam tahap pembelajaran inilah banyak dilatihkan dalam metode EL” ujar Meinita Nurul R, Kepala Divisi Pembelajaran Inggriya dan learning designer PPM Manajemen dalam keterangan pers-nya.
Biasanya, pelatihan berbasis EL menyasar soft kompetensi, jadi kalau bicara penting tidaknya metode tersebut bisa dilihat dari seberapa pentingnya soft kompetensi harus dipunyai oleh seseorang seperti kemampuan berinisiatif, bekerjasama, memimpin sebuah tim, perencanaan kerja, berorientasi pada kualitas kerja, teknik bernegosiasi, kecakapan komunikasi, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan belajar dari pengalaman, mentoring dan mengembangkan orang lain, dan lain sebagainya yang semua itu seyogyanya dimiliki atau harus diasah oleh setiap pribadi.
Manajer Penjualan dan Learning Designer Divisi Pembelajaran Inggriya, Titis Setyawardani mengatakan, untuk mengimplementasikan metode ini tentu saja berjangkar pada kebutuhan kompetensi yang ingin dikembangkan oleh klien. Tidak hanya soft kompetensi, namun juga pada kebutuhan hard kompetensi pun bisa dikembangkan dengan metode EL ini.
Diawali dengan memahami kompetensi yang ingin dikembangkan, sadar definisi kompetensi serta perilaku kuncinya, kemudian para pendesain pembelajaran akan melakukan diskusi untuk menurunkannya ke dalam silabus dan modul pembelajaran.
Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi untuk menentukan alur pembelajaran yang sesuai kebutuhan serta menentukan aktivitas-aktivitas yang sekiranya dibutuhkan dalam rangkaian pembelajarannya.
Titis menambahkan, ketika sudah dapat dipastikan, maka pendesain pembelajaran akan berkolaborasi dengan SME (subject matter expert) untuk menyusun materi, bisa berupa PPT, kasus, video, artikel, dan lain-lain.
Biasanya, pelatihan berbasis EL menyasar soft kompetensi, jadi kalau bicara penting tidaknya metode tersebut bisa dilihat dari seberapa pentingnya soft kompetensi harus dipunyai oleh seseorang seperti kemampuan berinisiatif, bekerjasama, memimpin sebuah tim, perencanaan kerja, berorientasi pada kualitas kerja, teknik bernegosiasi, kecakapan komunikasi, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan belajar dari pengalaman, mentoring dan mengembangkan orang lain, dan lain sebagainya yang semua itu seyogyanya dimiliki atau harus diasah oleh setiap pribadi.
Manajer Penjualan dan Learning Designer Divisi Pembelajaran Inggriya, Titis Setyawardani mengatakan, untuk mengimplementasikan metode ini tentu saja berjangkar pada kebutuhan kompetensi yang ingin dikembangkan oleh klien. Tidak hanya soft kompetensi, namun juga pada kebutuhan hard kompetensi pun bisa dikembangkan dengan metode EL ini.
Diawali dengan memahami kompetensi yang ingin dikembangkan, sadar definisi kompetensi serta perilaku kuncinya, kemudian para pendesain pembelajaran akan melakukan diskusi untuk menurunkannya ke dalam silabus dan modul pembelajaran.
Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi untuk menentukan alur pembelajaran yang sesuai kebutuhan serta menentukan aktivitas-aktivitas yang sekiranya dibutuhkan dalam rangkaian pembelajarannya.
Titis menambahkan, ketika sudah dapat dipastikan, maka pendesain pembelajaran akan berkolaborasi dengan SME (subject matter expert) untuk menyusun materi, bisa berupa PPT, kasus, video, artikel, dan lain-lain.
Lihat Juga :