Mahasiswi Program Doktor Double Degree UGM Raih Beasiswa dari Jerman, Apa Penelitiannya?
Jum'at, 15 September 2023 - 08:11 WIB
loading...
A
A
A
Dalam perjalanan sebelumnya di tahun 2022, Tiara juga telah menerima award Bayer Foundation Fellowship in Drug Discovery (Germany).
Sebagai penerima kedua beasiswa tersebut, Tiara saat ini tengah menjalani studi double degree jenjang doktoralnya di Department of Molecular Genetics and Infection Biology, Universität Greifswald, di bawah bimbingan Prof. Dr. rer. nat Sven Hammerschmidt, dan Prof. Budi Setiadi Daryono, Dekan Fakultas Biologi UGM.
Proyek penelitian yang dilakukannya saat ini berkolaborasi dengan Pusat Riset Biologi Molekular Eijkman, BRIN, dengan bertindak selaku co-promotor Dr. Dodi Safari, kepala laboratorium Molecular Bacteriology. Riset yang dilakukan mengusung topik Viral-Bacterial Coinfection of Streptococcus pneumoniae and Influenza A Virus in the Upper Respiratory Tract.
Terkait proyek penelitian tersebut, Tiara menjelaskan berdasarkan penelitian sebelumnya lebih dari 95 persen morbiditas dan mortalitas akibat pandemi influenza yang telah terjadi di dunia disebabkan oleh koinfeksi dengan bakteri.
Streptococcus pneumoniae merupakan patogen bakteri yang paling banyak diisolasi dalam pandemi influenza tersebut, dan WHO melaporkan bahwa bakteri ini menyebabkan hingga satu juta kematian anak per tahun, sehingga merupakan isu khusus dalam sistem kesehatan global.
Baca juga: Kisah Rahmat, Gagal Kuliah Kedokteran di China karena Pandemi Kini Raih Beasiswa ke Amerika
Karenanya untuk meneliti lebih lanjut mengenai koinfeksi bakteri dan virus ini, Tiara menggunakan potongan jaringan paru-paru tikus sebagai pengganti hewan uji tikus. Menurutnya metode ini merupakan alternatif yang sangat bagus untuk memenuhi kebutuhan terhadap model hewan uji di laboratorium dan klinik.
Sebagai penerima kedua beasiswa tersebut, Tiara saat ini tengah menjalani studi double degree jenjang doktoralnya di Department of Molecular Genetics and Infection Biology, Universität Greifswald, di bawah bimbingan Prof. Dr. rer. nat Sven Hammerschmidt, dan Prof. Budi Setiadi Daryono, Dekan Fakultas Biologi UGM.
Proyek penelitian yang dilakukannya saat ini berkolaborasi dengan Pusat Riset Biologi Molekular Eijkman, BRIN, dengan bertindak selaku co-promotor Dr. Dodi Safari, kepala laboratorium Molecular Bacteriology. Riset yang dilakukan mengusung topik Viral-Bacterial Coinfection of Streptococcus pneumoniae and Influenza A Virus in the Upper Respiratory Tract.
Terkait proyek penelitian tersebut, Tiara menjelaskan berdasarkan penelitian sebelumnya lebih dari 95 persen morbiditas dan mortalitas akibat pandemi influenza yang telah terjadi di dunia disebabkan oleh koinfeksi dengan bakteri.
Streptococcus pneumoniae merupakan patogen bakteri yang paling banyak diisolasi dalam pandemi influenza tersebut, dan WHO melaporkan bahwa bakteri ini menyebabkan hingga satu juta kematian anak per tahun, sehingga merupakan isu khusus dalam sistem kesehatan global.
Baca juga: Kisah Rahmat, Gagal Kuliah Kedokteran di China karena Pandemi Kini Raih Beasiswa ke Amerika
Karenanya untuk meneliti lebih lanjut mengenai koinfeksi bakteri dan virus ini, Tiara menggunakan potongan jaringan paru-paru tikus sebagai pengganti hewan uji tikus. Menurutnya metode ini merupakan alternatif yang sangat bagus untuk memenuhi kebutuhan terhadap model hewan uji di laboratorium dan klinik.
Lihat Juga :