Sejarah Lahirnya UII, Almamater Cawapres Mahfud MD Menempuh Studi Hukum Tata Negara
Rabu, 15 November 2023 - 11:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Visi Misi Ganjar-Mahfud: Menerapkan 5R Ekonomi Sirkuler
Awalnya, UII memiliki empat fakultas yang mulai beroperasi pada Juni 1948. Namun UII harus ditutup sementara akibat agresi militer Belanda pada akhir 1947, dan banyak siswa serta dosen bergabung dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Setelah perang, UII melanjutkan kegiatan di berbagai lokasi di Yogyakarta, termasuk di Keraton Yogyakarta dan rumah dosen.
Dalam dekade 1960-an, di bawah kepemimpinan Prof. M.R. R.H.A. Kasmat Bahuwinangun dan Prof. Dr. dr. M. Sardjito, UII mengalami perkembangan signifikan.
Prof. Kasmat membantu pengembangan Fakultas Syariah dan Tarbiyah serta ekspansi UII ke Purwokerto. Di bawah kepemimpinan Prof. Sardjito, UII berkembang hingga memiliki 22 fakultas yang tersebar di Jawa Tengah dan Sulawesi Utara. Namun, UII harus menutup kampus-kampus cabangnya ketika pemerintah melarang kegiatan pendidikan di luar Yogyakarta.
Pada 1970-an hingga 1982, UII mengalami perkembangan infrastruktur dengan pembangunan gedung kantor pusat dan fakultas. UII juga mendapatkan akreditasi untuk beberapa fakultasnya dan memulai kolaborasi dengan lembaga nasional dan internasional.
Sejak 1990-an, UII telah mengembangkan kampus terpadu di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dengan berbagai program pendidikan dari Diploma hingga Doktor. UII mendapatkan pengakuan sebagai perguruan tinggi dengan penjaminan mutu internal terbaik di Indonesia pada 2009 dan akreditasi institusi A pada 2013.
Universitas swasta yang salah satu kampusnya berada di Jl. Kaliurang km 14.5, Sleman ini juga menduduki peringkat tinggi di berbagai pemeringkatan nasional dan internasional, termasuk masuk dalam THE World University Rankings pada 2023.
Itulah sejarah UII, kampus almamater Mahfud MD yang kini menjadi Cawapres dari Capres Ganjar Pranowo
Fakultas Awal dan Agresi Militer Belanda
Awalnya, UII memiliki empat fakultas yang mulai beroperasi pada Juni 1948. Namun UII harus ditutup sementara akibat agresi militer Belanda pada akhir 1947, dan banyak siswa serta dosen bergabung dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Setelah perang, UII melanjutkan kegiatan di berbagai lokasi di Yogyakarta, termasuk di Keraton Yogyakarta dan rumah dosen.
Perkembangan Pasca Penjajahan Belanda
Dalam dekade 1960-an, di bawah kepemimpinan Prof. M.R. R.H.A. Kasmat Bahuwinangun dan Prof. Dr. dr. M. Sardjito, UII mengalami perkembangan signifikan.
Prof. Kasmat membantu pengembangan Fakultas Syariah dan Tarbiyah serta ekspansi UII ke Purwokerto. Di bawah kepemimpinan Prof. Sardjito, UII berkembang hingga memiliki 22 fakultas yang tersebar di Jawa Tengah dan Sulawesi Utara. Namun, UII harus menutup kampus-kampus cabangnya ketika pemerintah melarang kegiatan pendidikan di luar Yogyakarta.
Meningkatnya Kualitas Infrastruktur
Pada 1970-an hingga 1982, UII mengalami perkembangan infrastruktur dengan pembangunan gedung kantor pusat dan fakultas. UII juga mendapatkan akreditasi untuk beberapa fakultasnya dan memulai kolaborasi dengan lembaga nasional dan internasional.
Pengakuan Penjaminan Mutu Internal Terbaik
Sejak 1990-an, UII telah mengembangkan kampus terpadu di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dengan berbagai program pendidikan dari Diploma hingga Doktor. UII mendapatkan pengakuan sebagai perguruan tinggi dengan penjaminan mutu internal terbaik di Indonesia pada 2009 dan akreditasi institusi A pada 2013.
Universitas swasta yang salah satu kampusnya berada di Jl. Kaliurang km 14.5, Sleman ini juga menduduki peringkat tinggi di berbagai pemeringkatan nasional dan internasional, termasuk masuk dalam THE World University Rankings pada 2023.
Itulah sejarah UII, kampus almamater Mahfud MD yang kini menjadi Cawapres dari Capres Ganjar Pranowo
(wyn)
Lihat Juga :