Kukuhkan Tujuh Profesor Baru, UIN Jakarta Jadi PTKIN dengan Guru Besar Terbanyak
Kamis, 09 Mei 2024 - 11:03 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, Rektor Asep mengingatkan bahwa guru besar adalah mentor yang bertanggung jawab dalam mengajar dan membimbing mahasiswa. Ia menegaskan pentingnya keterlibatan guru besar dalam kehidupan akademik perguruan tinggi dan tidak boleh menjauh dari mahasiswa.
Dengan demikian, pengukuhan guru besar baru ini tidak hanya menandai pencapaian akademik, tetapi juga menegaskan komitmen UIN Jakarta dalam memberikan pendidikan berkualitas dan pelayanan yang baik kepada mahasiswa.
Rektor Asep mengapresiasi perjuangan para guru besar atas pencapaian akademik di bidang ilmunya masing-masing. Namun, di balik itu, ada tanggung jawab yang besar yang harus diemban oleh mereka.
"Guru besar adalah guru sejati, berarti mengajarkan dan menjadi pembimbing. Bukan berarti setelah menjadi guru besar malah menjauh dari mahasiswanya atau bahkan susah dihubungi oleh mahasiswa. Ini adalah ironi yang tidak mungkin dan tidak boleh terjadi di dalam perguruan tinggi,” ungkapnya seperti dikutip dari laman resmi UIN Jakarta
Dalam kesempatan itu Profesor Abd. Rahman Dahlan menyampaikan orasi ilmiah berjudul Teori al-Maslahah Najm al-Tufi dan Fatwa Hukum Islam. Lalu, Profesor Hasanudin, menyampaikan orasi berjudul Telaah Ulang (I'adat al-Nazhar) terhadap Pendapat Ulama dalam Rangka Pengembangan Fikih Muamalat Maliyah.
Kolega keduanya, Profesor Yayan Sopyan membacakan orasi ilmiahnya yang bertajuk Integrasi Hukum Islam ke Hukum Nasional: Upaya Undang-undang Perkawinan Menjamin Terwujudnya Keluarga yang Damai, Sejahtera dan Berkeadilan. Kemudian, Profesor Mesraini menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pembaruan Hak Perempuan dalam Keluarga : Keberanjakan dari Fikih Mazhab ke dalam Fikih Negara di Indonesia.
Dengan demikian, pengukuhan guru besar baru ini tidak hanya menandai pencapaian akademik, tetapi juga menegaskan komitmen UIN Jakarta dalam memberikan pendidikan berkualitas dan pelayanan yang baik kepada mahasiswa.
Rektor Asep mengapresiasi perjuangan para guru besar atas pencapaian akademik di bidang ilmunya masing-masing. Namun, di balik itu, ada tanggung jawab yang besar yang harus diemban oleh mereka.
"Guru besar adalah guru sejati, berarti mengajarkan dan menjadi pembimbing. Bukan berarti setelah menjadi guru besar malah menjauh dari mahasiswanya atau bahkan susah dihubungi oleh mahasiswa. Ini adalah ironi yang tidak mungkin dan tidak boleh terjadi di dalam perguruan tinggi,” ungkapnya seperti dikutip dari laman resmi UIN Jakarta
Dalam kesempatan itu Profesor Abd. Rahman Dahlan menyampaikan orasi ilmiah berjudul Teori al-Maslahah Najm al-Tufi dan Fatwa Hukum Islam. Lalu, Profesor Hasanudin, menyampaikan orasi berjudul Telaah Ulang (I'adat al-Nazhar) terhadap Pendapat Ulama dalam Rangka Pengembangan Fikih Muamalat Maliyah.
Kolega keduanya, Profesor Yayan Sopyan membacakan orasi ilmiahnya yang bertajuk Integrasi Hukum Islam ke Hukum Nasional: Upaya Undang-undang Perkawinan Menjamin Terwujudnya Keluarga yang Damai, Sejahtera dan Berkeadilan. Kemudian, Profesor Mesraini menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pembaruan Hak Perempuan dalam Keluarga : Keberanjakan dari Fikih Mazhab ke dalam Fikih Negara di Indonesia.
Lihat Juga :