LIPI Tambah 4 Profesor Riset
Kamis, 27 Agustus 2020 - 14:34 WIB
loading...
A
A
A
Ia menambahkan pemanfaatan teknologi sensor berpotensi digunakan khususnya untuk bidang lingkungan, pertanian dan perikanan. Dalam orasi berjudul “Agama, Kultur (In)Toleransi, dan Dilema Minoritas di Indonesia” Ahmad Najib Burhani memaparkan empat rekomendasi untuk mengatasi problematika dan dilema minoritas di Indonesia.
Pertama, penekanan dan pendekatan Hak Asasi Manusia Kedua, penekanan tentang adanya kewarganegaraan yang setara (non-differentiated citizenship) tanpa dibedakan berdasarkan agama atau etnis. Juga pendekatan teologis atau keagamaan serta pendidikan perdamaian dan pemberlakukan kebijakan non-diskriminatif . (Baca juga: 15 Perguruan Tinggi Masuk Klaster 1, Ini Harapan Kemendikbud )
Membahas tentang konflik sosial, Cahayo Pamungkas dalam “Rekonstruksi Pendekatan dalam Kajian Konflik di Asia Tenggara: Kasus Indonesia, Filipina, Thailand, dan Myanmar” menyebutkan bahwa pendekatan yang memandang bahwa identitas etnis dan agama merupakan sumber utama dari intoleransi, radikalisme dan konflik sosial perlu direkonstruksi kembali.
Orasi Profesor Riset Dwi Susilaningsih yang berjudul “Energi Masa Depan Generasi Tiga Berbasis Mikroba Fotosintetik dan Mikroalga” menjelaskan jumlah kebutuhan yang meningkat dan laju jumlah penduduk yang tinggi di Indonesia menuntut adanya alternatif energi yang baru, terbarukan, dapat berdaur ulang cepat, dan ramah lingkungan
“Biofuel dari generasi tiga sangat berpotensi dikembangkan sebagai energi baru terbarukan di Indonesia karena ketersediaan sumber daya genetik yang melimpah, perairan yang luas, cahaya matahari sepanjang tahun dan fluktuasi suhu yang rendah antara siang dan malam, terang Dwi.
Pertama, penekanan dan pendekatan Hak Asasi Manusia Kedua, penekanan tentang adanya kewarganegaraan yang setara (non-differentiated citizenship) tanpa dibedakan berdasarkan agama atau etnis. Juga pendekatan teologis atau keagamaan serta pendidikan perdamaian dan pemberlakukan kebijakan non-diskriminatif . (Baca juga: 15 Perguruan Tinggi Masuk Klaster 1, Ini Harapan Kemendikbud )
Membahas tentang konflik sosial, Cahayo Pamungkas dalam “Rekonstruksi Pendekatan dalam Kajian Konflik di Asia Tenggara: Kasus Indonesia, Filipina, Thailand, dan Myanmar” menyebutkan bahwa pendekatan yang memandang bahwa identitas etnis dan agama merupakan sumber utama dari intoleransi, radikalisme dan konflik sosial perlu direkonstruksi kembali.
Orasi Profesor Riset Dwi Susilaningsih yang berjudul “Energi Masa Depan Generasi Tiga Berbasis Mikroba Fotosintetik dan Mikroalga” menjelaskan jumlah kebutuhan yang meningkat dan laju jumlah penduduk yang tinggi di Indonesia menuntut adanya alternatif energi yang baru, terbarukan, dapat berdaur ulang cepat, dan ramah lingkungan
“Biofuel dari generasi tiga sangat berpotensi dikembangkan sebagai energi baru terbarukan di Indonesia karena ketersediaan sumber daya genetik yang melimpah, perairan yang luas, cahaya matahari sepanjang tahun dan fluktuasi suhu yang rendah antara siang dan malam, terang Dwi.
(mpw)
Lihat Juga :