Delegasi FDIKOM UIN Jakarta Presentasikan Riset Komunikasi Lembaga Islam di CSEAS Kyoto University
Selasa, 19 November 2024 - 13:46 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Mengenal Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar, Alumni Terbaik UIN Jakarta
Pusat Studi Kawasan Terpadu didirikan pada tahun 2006 sebagai departemen penelitian di Universitas Kyoto yang berbasis di Pusat Studi Kawasan Jepang, Museum Nasional Etnologi.
Pada kunjungan tersebut, akademisi FDIKOM UIN Jakarta Fita Faturakhmah mempresentasikan hasil riset berjudul Analysis on the Religious “Institutions” Social Media Discourse on the Worship Restrictions by the Ministry of Religious Affairs during the Covid Pandemic: Communicative Actions or Not?.
Kegiatan ini dihadiri oleh para peneliti di CSEAS Kyoto University berasal dari Jepang, Uganda maupun Indonesia.
Pemaparan mengenai organisasi Islam di Indonesia memanfaatkan media sosial di masa krisis yang dipicu oleh pandemi SARS-CoV-2 secara khusus mengkaji komunikasi berbagai lembaga keagamaan melalui media sosial dalam menyikapi pembatasan ibadah Kementerian Agama dengan mengacu pada teori tindakan komunikatif Habermas.
Analisis terhadap berbagai sumber media sosial menemukan dua kelompok berbeda tersebut memiliki pandangan berbeda mengenai pembatasan ibadah. Di satu sisi, Kementerian Agama sendiri dan organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama (NU) melonggarkan pembatasan pasca pembatasan awal.
Pusat Studi Kawasan Terpadu didirikan pada tahun 2006 sebagai departemen penelitian di Universitas Kyoto yang berbasis di Pusat Studi Kawasan Jepang, Museum Nasional Etnologi.
Pada kunjungan tersebut, akademisi FDIKOM UIN Jakarta Fita Faturakhmah mempresentasikan hasil riset berjudul Analysis on the Religious “Institutions” Social Media Discourse on the Worship Restrictions by the Ministry of Religious Affairs during the Covid Pandemic: Communicative Actions or Not?.
Kegiatan ini dihadiri oleh para peneliti di CSEAS Kyoto University berasal dari Jepang, Uganda maupun Indonesia.
Pemaparan mengenai organisasi Islam di Indonesia memanfaatkan media sosial di masa krisis yang dipicu oleh pandemi SARS-CoV-2 secara khusus mengkaji komunikasi berbagai lembaga keagamaan melalui media sosial dalam menyikapi pembatasan ibadah Kementerian Agama dengan mengacu pada teori tindakan komunikatif Habermas.
Analisis terhadap berbagai sumber media sosial menemukan dua kelompok berbeda tersebut memiliki pandangan berbeda mengenai pembatasan ibadah. Di satu sisi, Kementerian Agama sendiri dan organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama (NU) melonggarkan pembatasan pasca pembatasan awal.
Lihat Juga :