UMJ Kukuhkan Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Paru
Jum'at, 07 Februari 2025 - 14:21 WIB
loading...
Prof. Dr. dr. Muhammad Fachri resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang ilmu Penyakit Paru FKK UMJ. Foto/UMJ.
A
A
A
JAKARTA - Prof. Dr. dr. Muhammad Fachri resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang ilmu Penyakit Paru Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ). Orasinya berjudul Pendidikan, Penelitian, dan Kontribusi Ilmiah Ilmu Penyakit Paru: Refleksi terhadap Peran Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Universitas Swasta dalam Pengembangan Ilmu Penyakit Paru di Indonesia.
Fachri membahas tentang betapa pentingnya pendidikan dan penelitian bidang ilmu penyakit paru dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks, khususnya di Indonesia.
Baca juga: Peneliti Maarif Institute Jadi Doktor Administrasi Publik Pertama di UMJ
Indonesia menghadapi tantangan besar pada sektor kesehatan paru. Berbagai penyakit seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), tuberkulosis (TB), asma dan dampak polusi udara terus menimbulkan masalah kesehatan yang signifikan.
Penelitian yang dilakukan oleh Fachri mengenai Biomarker eosinofil dapat digunakan untuk membedakan antara fase stabil dan fase eksarsebasi PPOK, sehingga memungkinkan personalisasi terapi yang lebih efektif. Selain itu, ditemukan molekul ADAM33 yang memiliki peran penting dalam jalur inflamasi PPOK serta menjadi target potensial untuk pengembangan obat baru.
Fachri membahas tentang betapa pentingnya pendidikan dan penelitian bidang ilmu penyakit paru dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks, khususnya di Indonesia.
Baca juga: Peneliti Maarif Institute Jadi Doktor Administrasi Publik Pertama di UMJ
Indonesia menghadapi tantangan besar pada sektor kesehatan paru. Berbagai penyakit seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), tuberkulosis (TB), asma dan dampak polusi udara terus menimbulkan masalah kesehatan yang signifikan.
Penelitian yang dilakukan oleh Fachri mengenai Biomarker eosinofil dapat digunakan untuk membedakan antara fase stabil dan fase eksarsebasi PPOK, sehingga memungkinkan personalisasi terapi yang lebih efektif. Selain itu, ditemukan molekul ADAM33 yang memiliki peran penting dalam jalur inflamasi PPOK serta menjadi target potensial untuk pengembangan obat baru.
Lihat Juga :