Mengenal Kurikulum Cinta yang Diinisiasi Kemenag, Ada Mapel Baru?
Minggu, 02 Maret 2025 - 14:58 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Wamenag Kunjungi Menteri Hukum, Bahas Pemekaran Ditjen Pendidikan Islam
Kecintaan terhadap Tanah Air menjadi pilar penting. “Banyak anak-anak kita yang setelah belajar di luar negeri, justru lebih merasa menjadi orang luar dibandingkan bagian dari bangsanya sendiri. Kita ingin menginsersi agar anak-anak kita tetap berpegang teguh pada akar budayanya,” ungkapnya.
Amien menegaskan bahwa Kurikulum Cinta tidak diperkenalkan sebagai mata pelajaran baru, melainkan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada. Kemenag telah menyiapkan buku panduan sebagai acuan bagi para pendidik dalam menyisipkan nilai-nilai cinta, toleransi, dan spiritualitas ke dalam proses pembelajaran.
Strategi implementasi kurikulum ini disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Di tingkat Raudhatul Athfal (RA/PAUD), metode pembelajaran akan menggunakan permainan dan pembiasaan positif. Sementara itu, di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pendekatan berbasis pengalaman dan refleksi akan lebih ditekankan.
“Kami sudah melakukan riset dan survei terkait kondisi keberagaman di Indonesia, dan memang masih ada tantangan yang perlu kita hadapi bersama. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi landasan utama untuk memperbaiki kondisi ini,” ujar Suyitno.
Sebagai langkah awal, Kemenag akan memberikan pendampingan kepada para pendidik dan menyiapkan instrumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan Kurikulum Cinta secara berkelanjutan.
Dengan demikian, diharapkan kurikulum ini dapat membentuk generasi yang lebih toleran, peduli, dan mencintai sesama serta lingkungannya.
4. Cinta kepada Bangsa (Hubbul Wathan)
Kecintaan terhadap Tanah Air menjadi pilar penting. “Banyak anak-anak kita yang setelah belajar di luar negeri, justru lebih merasa menjadi orang luar dibandingkan bagian dari bangsanya sendiri. Kita ingin menginsersi agar anak-anak kita tetap berpegang teguh pada akar budayanya,” ungkapnya.
Integrasi ke dalam Mata Pelajaran yang Ada
Amien menegaskan bahwa Kurikulum Cinta tidak diperkenalkan sebagai mata pelajaran baru, melainkan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada. Kemenag telah menyiapkan buku panduan sebagai acuan bagi para pendidik dalam menyisipkan nilai-nilai cinta, toleransi, dan spiritualitas ke dalam proses pembelajaran.
Metode Pembelajaran yang Beragam
Strategi implementasi kurikulum ini disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Di tingkat Raudhatul Athfal (RA/PAUD), metode pembelajaran akan menggunakan permainan dan pembiasaan positif. Sementara itu, di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pendekatan berbasis pengalaman dan refleksi akan lebih ditekankan.
“Kami sudah melakukan riset dan survei terkait kondisi keberagaman di Indonesia, dan memang masih ada tantangan yang perlu kita hadapi bersama. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi landasan utama untuk memperbaiki kondisi ini,” ujar Suyitno.
Langkah Implementasi dan Evaluasi
Sebagai langkah awal, Kemenag akan memberikan pendampingan kepada para pendidik dan menyiapkan instrumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan Kurikulum Cinta secara berkelanjutan.
Dengan demikian, diharapkan kurikulum ini dapat membentuk generasi yang lebih toleran, peduli, dan mencintai sesama serta lingkungannya.
(nnz)
Lihat Juga :