Wujudkan Tridarma Perguruan Tinggi, Unika Atma Jaya Kukuhkan 3 Profesor
Jum'at, 25 April 2025 - 08:47 WIB
loading...
A
A
A
Studinya menggunakan metode generalized vector autoregressive untuk mengukur volatility spillover antar entitas dalam konglomerasi dan telah memperoleh penghargaan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) atas kontribusi risetnya.
Hasil penelitiannya mengungkap bahwa intensitas ancaman risiko sistemik dari interconnectedness antar-unit bisnis dalam konglomerasi cenderung meningkat saat perekonomian memasuki fase kontraksi, fase yang secara umum memiliki probabilitas tinggi terhadap potensi risiko sistemik.
Temuan ini menjadi penting sebagai salah satu early warning system dalam mendeteksi risiko sistemik yang bisa ditransmisikan dengan cepat.
Menariknya, pendekatan spillover yang digunakan juga menunjukkan bahwa transmisi shock tidak hanya berasal dari perusahaan induk ke anak perusahaan, tetapi juga bisa sebaliknya dari anak ke induk.
Hal ini mempertegas perlunya pengawasan dua arah dalam struktur konglomerasi keuangan guna menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh.
Sustainable Climate Resilience: Pendekatan Holistik Integratif Hukum Internasional dalam Penanggulangan Bencana
Prof. Natalia dalam orasi ilmiahnya mengusung topik “Sustainable Climate Resilience: Pendekatan Holistik Integratif Hukum Internasional dalam Penanggulangan Bencana”.
Ia menekankan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan hukum internasional yang menyeluruh dan terintegrasi.
“Bencana iklim bukan lagi isu lokal, tetapi krisis global yang memerlukan respons lintas negara dengan sinergi regulasi, kebijakan, dan peran masyarakat. Hukum internasional harus menjembatani semua ini secara integratif,” ujar Prof. Natalia.
Dalam orasinya, Prof. Natalia menjelaskan bahwa ketahanan iklim berkelanjutan harus dibangun melalui kerangka hukum yang mampu mengantisipasi, merespons, dan memulihkan dampak bencana secara holistik, serta menjamin pemenuhan hak asasi manusia.
Ia menguraikan peran instrumen hukum internasional seperti Paris Agreement dan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction dalam menciptakan sistem mitigasi dan adaptasi global terhadap bencana iklim.
Hasil penelitiannya mengungkap bahwa intensitas ancaman risiko sistemik dari interconnectedness antar-unit bisnis dalam konglomerasi cenderung meningkat saat perekonomian memasuki fase kontraksi, fase yang secara umum memiliki probabilitas tinggi terhadap potensi risiko sistemik.
Temuan ini menjadi penting sebagai salah satu early warning system dalam mendeteksi risiko sistemik yang bisa ditransmisikan dengan cepat.
Menariknya, pendekatan spillover yang digunakan juga menunjukkan bahwa transmisi shock tidak hanya berasal dari perusahaan induk ke anak perusahaan, tetapi juga bisa sebaliknya dari anak ke induk.
Hal ini mempertegas perlunya pengawasan dua arah dalam struktur konglomerasi keuangan guna menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh.
Sustainable Climate Resilience: Pendekatan Holistik Integratif Hukum Internasional dalam Penanggulangan Bencana
Prof. Natalia dalam orasi ilmiahnya mengusung topik “Sustainable Climate Resilience: Pendekatan Holistik Integratif Hukum Internasional dalam Penanggulangan Bencana”.
Ia menekankan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan hukum internasional yang menyeluruh dan terintegrasi.
“Bencana iklim bukan lagi isu lokal, tetapi krisis global yang memerlukan respons lintas negara dengan sinergi regulasi, kebijakan, dan peran masyarakat. Hukum internasional harus menjembatani semua ini secara integratif,” ujar Prof. Natalia.
Dalam orasinya, Prof. Natalia menjelaskan bahwa ketahanan iklim berkelanjutan harus dibangun melalui kerangka hukum yang mampu mengantisipasi, merespons, dan memulihkan dampak bencana secara holistik, serta menjamin pemenuhan hak asasi manusia.
Ia menguraikan peran instrumen hukum internasional seperti Paris Agreement dan Sendai Framework for Disaster Risk Reduction dalam menciptakan sistem mitigasi dan adaptasi global terhadap bencana iklim.
Lihat Juga :