Cucu Ki Hajar Dewantara Sebut 8 Keterampilan Dasar Ini Perlu Dikenalkan Sejak Dini
Jum'at, 02 Mei 2025 - 19:10 WIB
loading...
A
A
A
Dia mencontohkan penguatan karakter dan nilai dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk kegiatan ekstrakurikuler, proyek kolaboratif, dan interaksi sehari-hari di sekolah.
"Misal saat proses anak-anak makan bersama, dalam kegiatan itu dalam diselipkan penguatan karakter, nilai, norma sosial, dan kesadaran akan lingkungan," jelasnya. Dengan demikian, pendidikan karakter menjadi bagian menyeluruh dalam proses pembelajaran tanpa harus terkotak-kotak dalam mata pelajaran tertentu saja. Pendekatan ini memungkinkan siswa menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam pengalaman nyata dan interaksi sosial positif.
Filosofi Ki Hajar Dewantara untuk Membangun Generasi Unggul
Menariknya, dalam buku yang mendapatkan respons positif dari dalam dan luar negeri ini, Antarina mengangkat salah satu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mendalam dan relevan hingga kini yaitu Niteni (mengamati), Nirokke (meniru), dan Nambahi (mengembangkan). Antarina SF Amir menjelaskan filosofi 3N Ki Hadjar Dewantara menggambarkan proses belajar yang dinamis dan berkelanjutan.
Niteni menekankan pentingnya observasi dan pengamatan yang cermat terhadap lingkungan ekitar. Nirokke menunjukkan bahwa meniru atau mempelajari dari contoh-contoh yang baik adalah bagian dari proses belajar. Dan yang terpenting, Nambahi mengajak untuk tidak hanya meniru, tetapi juga mengembangkan, menambahkan, dan menciptakan sesuatu yang baru.
“Filosofi ini menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pengembangan kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir kritis,” jelasnya. Siswa tidak hanya diharapkan untuk menerima informasi, tetapi juga untuk mengolahnya, mengembangkannya, dan menciptakan pengetahuan baru.
Dia berpendapat bahwa filosofi 3N Ki Hajar Dewantara sangat relevan di dalam dunia yang penuh dengan informasi dan perubahan cepat, kemampuan untuk mengamati, belajar dari contoh, dan berinovasi menjadi semakin penting.
Sisi lain, Antarina mengakui perjalanan untuk mencapai pendidikan ideal tidaklah mudah. Namun, ia melihat adanya kemajuan dan kesadaran yang semakin meningkat di kalangan pemangku kepentingan pendidikan. "Yang penting keinginan dan kesadarannya sudah mengarah," ujarnya, menekankan pentingnya
niat baik dan upaya berkelanjutan.
"Misal saat proses anak-anak makan bersama, dalam kegiatan itu dalam diselipkan penguatan karakter, nilai, norma sosial, dan kesadaran akan lingkungan," jelasnya. Dengan demikian, pendidikan karakter menjadi bagian menyeluruh dalam proses pembelajaran tanpa harus terkotak-kotak dalam mata pelajaran tertentu saja. Pendekatan ini memungkinkan siswa menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam pengalaman nyata dan interaksi sosial positif.
Filosofi Ki Hajar Dewantara untuk Membangun Generasi Unggul
Menariknya, dalam buku yang mendapatkan respons positif dari dalam dan luar negeri ini, Antarina mengangkat salah satu filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mendalam dan relevan hingga kini yaitu Niteni (mengamati), Nirokke (meniru), dan Nambahi (mengembangkan). Antarina SF Amir menjelaskan filosofi 3N Ki Hadjar Dewantara menggambarkan proses belajar yang dinamis dan berkelanjutan.
Niteni menekankan pentingnya observasi dan pengamatan yang cermat terhadap lingkungan ekitar. Nirokke menunjukkan bahwa meniru atau mempelajari dari contoh-contoh yang baik adalah bagian dari proses belajar. Dan yang terpenting, Nambahi mengajak untuk tidak hanya meniru, tetapi juga mengembangkan, menambahkan, dan menciptakan sesuatu yang baru.
“Filosofi ini menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pengembangan kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir kritis,” jelasnya. Siswa tidak hanya diharapkan untuk menerima informasi, tetapi juga untuk mengolahnya, mengembangkannya, dan menciptakan pengetahuan baru.
Dia berpendapat bahwa filosofi 3N Ki Hajar Dewantara sangat relevan di dalam dunia yang penuh dengan informasi dan perubahan cepat, kemampuan untuk mengamati, belajar dari contoh, dan berinovasi menjadi semakin penting.
Sisi lain, Antarina mengakui perjalanan untuk mencapai pendidikan ideal tidaklah mudah. Namun, ia melihat adanya kemajuan dan kesadaran yang semakin meningkat di kalangan pemangku kepentingan pendidikan. "Yang penting keinginan dan kesadarannya sudah mengarah," ujarnya, menekankan pentingnya
niat baik dan upaya berkelanjutan.
(nnz)
Lihat Juga :