Melawan Banjir dengan Buku Digital, Jejak Perubahan dari SDN Tambakrejo 1 Semarang
Sabtu, 03 Mei 2025 - 15:39 WIB
loading...
A
A
A
Ketika 2021 ia ditugaskan memimpin SDN Tambakrejo 01, tantangan besar langsung menghampar di hadapannya. Banjir tahunan merusak fasilitas, memperparah rendahnya minat baca peserta didik, dan memperlemah dukungan masyarakat terhadap sekolah.
Dari kondisi sekolahnya yang membuat buku-buku rusak itulah Tri kemudian melahirkan Subadi-Sudut Baca Digital. “Subadi adalah tempat buku-buku digital karya peserta didik tersimpan dan dapat diakses kapan saja melalui gawai mereka,” kata Tri.
Setiap kelas dari kelas 1 hingga kelas 6 memiliki sudut baca digital sendiri, yang dapat diakses melalui tablet, laptop, maupun gawai.
Buku tak lagi harus bertahan di rak-rak kayu rapuh. Kini, cerita dan ilmu hidup telah hadir di sekotak layar kecil dalam genggaman tangan anak-anak, di mana pun dan kapan pun mereka mau membaca.
Subadi tidak hanya menyelamatkan buku-buku dari banjir. Ia mengubah cara berpikir seluruh warga sekolah tentang literasi. Membaca bukan lagi beban, melainkan pengalaman yang akrab, menyenangkan, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari peserta didik.
Tri sadar, perubahan sejati tidak bisa lahir dari satu orang saja. Maka, ia menggerakkan seluruh warga sekolah. Mulai dari guru, peserta didik, orang tua, bahkan masyarakat sekitar.
Guru-guru mengikuti pelatihan literasi dan numerasi berbasis teknologi. Peserta didik diajak menulis cerita digital mereka sendiri, membuat ilutrasi di buku gambar mereka, memindai halaman per halamannya, dan mengunggahnya ke sudut baca digital di kelas masing-masing agar dapat diakses teman-teman mereka.
Orang tua tak hanya mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah, tetapi turut menghias sudut baca, menyumbang perangkat sederhana, bahkan mengajar dalam program "Orang Tua Mengajar" setiap Jumat pekan keempat. Budaya gotong royong yang lahir membuat perubahan terasa nyata di setiap sudut sekolah.
Dari kondisi sekolahnya yang membuat buku-buku rusak itulah Tri kemudian melahirkan Subadi-Sudut Baca Digital. “Subadi adalah tempat buku-buku digital karya peserta didik tersimpan dan dapat diakses kapan saja melalui gawai mereka,” kata Tri.
Setiap kelas dari kelas 1 hingga kelas 6 memiliki sudut baca digital sendiri, yang dapat diakses melalui tablet, laptop, maupun gawai.
Buku tak lagi harus bertahan di rak-rak kayu rapuh. Kini, cerita dan ilmu hidup telah hadir di sekotak layar kecil dalam genggaman tangan anak-anak, di mana pun dan kapan pun mereka mau membaca.
Subadi tidak hanya menyelamatkan buku-buku dari banjir. Ia mengubah cara berpikir seluruh warga sekolah tentang literasi. Membaca bukan lagi beban, melainkan pengalaman yang akrab, menyenangkan, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari peserta didik.
Tri sadar, perubahan sejati tidak bisa lahir dari satu orang saja. Maka, ia menggerakkan seluruh warga sekolah. Mulai dari guru, peserta didik, orang tua, bahkan masyarakat sekitar.
Guru-guru mengikuti pelatihan literasi dan numerasi berbasis teknologi. Peserta didik diajak menulis cerita digital mereka sendiri, membuat ilutrasi di buku gambar mereka, memindai halaman per halamannya, dan mengunggahnya ke sudut baca digital di kelas masing-masing agar dapat diakses teman-teman mereka.
Orang tua tak hanya mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah, tetapi turut menghias sudut baca, menyumbang perangkat sederhana, bahkan mengajar dalam program "Orang Tua Mengajar" setiap Jumat pekan keempat. Budaya gotong royong yang lahir membuat perubahan terasa nyata di setiap sudut sekolah.
Lihat Juga :