Pendidikan Indonesia di Titik Nadir? Ini Seruan Kritis GSM pada Hardiknas 2025
Sabtu, 10 Mei 2025 - 11:37 WIB
loading...
A
A
A
Kebijakan dan program kementerian seharusnya menguatkan fondasi berpikir dan budaya ilmiah siswa, yang sudah pasti memerlukan proses dan waktu tidak sebentar, tapi justru gonta ganti kebijakan yang tidak substantif.
“Jika hal ini terus terjadi, maka perubahan struktur yang kerap pemerintah lakukan tidak akan membuat masyarakat bergeliat karena tidak menyentuh kebutuhan mereka akan pendidikan. Yang kita butuhkan saat ini adalah perubahan mendasar atau revolusi kultural. Untuk itu, program pendidikan yang paling prioritas kita lakukan saat ini adalah Kembali ke Akar dan Kebudayaan”, tegas Rizal memberikan jawaban atas jalan keluar yang dilakukan GSM.
Rizal menjelaskan, “Apa yang dimaksud dengan kembali ke akar kebudayaan? Pendidikan harus kembali untuk menuntun kekuatan kodrat alam agar tumbuh sesuai dengan dunianya sendiri, seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Kodrat itu adalah rasa ingin tahu, kreativitas, dan potensi yang beragam. Tapi hal itu harus dijalankan dalam kebudayaan yang tidak mengekang guru.”
Kembali ke akar berarti memberikan kedaulatan penuh pada guru untuk berkreativitas dalam mengajar. Kebijakan dan ekosistem pemerintah harus memantik guru berani membongkar mentalitas terjajah atau budaya feodalisme selama ini, dan merebut kembali ruang kreativitas dan keberanian berpikir.
"Guru diajak kembali ke akar sebagai manusia pembelajar, akar pedagogis sebagai penumbuh karakter, dan akar historis untuk memutus rantai penindasan kultural yang melahirkan manusia terpelajar namun terjajah secara jiwa. Inilah jati diri bangsa sebagai pijakan untuk berkompetisi di ranah global”, ujar Rizal.
Maka dari itu, GSM mengajak semua guru, anak muda dan masyarakat untuk turun membangun aksi rekonstruksi kesadaran kultural melalui beberapa kegiatan seperti: Arisan Ilmu antar Guru, Gerakan Anak Muda Turun ke Sekolah, dan NgKaji Filsafat Pendidikan untuk menentukan arah dan peta jalan pendidikan dari kebutuhan akar rumput.
Arisan Ilmu bertujuan untuk membangun kembali ekosistem pembelajaran kolaboratif, membumi, dan saling menguatkan antar pendidik sebagai agen perubahan. Kegiatan ini akan membalik arah pengetahuan dari atas (pakar/pemerintah) ke bawah menjadi horizontal partisipatif.
Sedangkan Gerakan Anak Muda Turun ke Sekolah, dilaksanakan selama tiga hari, pada 7-9 Mei 2025, di sebelas sekolah di Kulonprogo bersama sembilan puluh mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus di Yogyakarta.
Bulan Pendidikan akan ditutup dengan acara NgKaji Filsafat Pendidikan di Kabupaten Kebumen yang akan dihadiri oleh lima ratus lebih guru, kepala sekolah, dan pegiat GSM dari berbagai daerah.
“Jika hal ini terus terjadi, maka perubahan struktur yang kerap pemerintah lakukan tidak akan membuat masyarakat bergeliat karena tidak menyentuh kebutuhan mereka akan pendidikan. Yang kita butuhkan saat ini adalah perubahan mendasar atau revolusi kultural. Untuk itu, program pendidikan yang paling prioritas kita lakukan saat ini adalah Kembali ke Akar dan Kebudayaan”, tegas Rizal memberikan jawaban atas jalan keluar yang dilakukan GSM.
Rizal menjelaskan, “Apa yang dimaksud dengan kembali ke akar kebudayaan? Pendidikan harus kembali untuk menuntun kekuatan kodrat alam agar tumbuh sesuai dengan dunianya sendiri, seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Kodrat itu adalah rasa ingin tahu, kreativitas, dan potensi yang beragam. Tapi hal itu harus dijalankan dalam kebudayaan yang tidak mengekang guru.”
Kembali ke akar berarti memberikan kedaulatan penuh pada guru untuk berkreativitas dalam mengajar. Kebijakan dan ekosistem pemerintah harus memantik guru berani membongkar mentalitas terjajah atau budaya feodalisme selama ini, dan merebut kembali ruang kreativitas dan keberanian berpikir.
"Guru diajak kembali ke akar sebagai manusia pembelajar, akar pedagogis sebagai penumbuh karakter, dan akar historis untuk memutus rantai penindasan kultural yang melahirkan manusia terpelajar namun terjajah secara jiwa. Inilah jati diri bangsa sebagai pijakan untuk berkompetisi di ranah global”, ujar Rizal.
Maka dari itu, GSM mengajak semua guru, anak muda dan masyarakat untuk turun membangun aksi rekonstruksi kesadaran kultural melalui beberapa kegiatan seperti: Arisan Ilmu antar Guru, Gerakan Anak Muda Turun ke Sekolah, dan NgKaji Filsafat Pendidikan untuk menentukan arah dan peta jalan pendidikan dari kebutuhan akar rumput.
Arisan Ilmu bertujuan untuk membangun kembali ekosistem pembelajaran kolaboratif, membumi, dan saling menguatkan antar pendidik sebagai agen perubahan. Kegiatan ini akan membalik arah pengetahuan dari atas (pakar/pemerintah) ke bawah menjadi horizontal partisipatif.
Sedangkan Gerakan Anak Muda Turun ke Sekolah, dilaksanakan selama tiga hari, pada 7-9 Mei 2025, di sebelas sekolah di Kulonprogo bersama sembilan puluh mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus di Yogyakarta.
Bulan Pendidikan akan ditutup dengan acara NgKaji Filsafat Pendidikan di Kabupaten Kebumen yang akan dihadiri oleh lima ratus lebih guru, kepala sekolah, dan pegiat GSM dari berbagai daerah.
(nnz)
Lihat Juga :