Pendidikan Indonesia di Titik Nadir? Ini Seruan Kritis GSM pada Hardiknas 2025
Sabtu, 10 Mei 2025 - 11:37 WIB
loading...
A
A
A
Jika peringatan Hari Pendidikan hanya penuh seremoni tanpa menyuarakan inovasi nyata dan
kegelisahan terhadap kualitas, maka ia kehilangan rohnya. Ini bisa menunjukkan betapa kualitas belum menjadi cermin yang jujur di ruang publik.
Jadi, benar—lesunya peringatan Hari Pendidikan dapat dibaca sebagai simbol bahwa kualitas pendidikan di negeri ini belum menjadi “cermin yang berbicara”, apalagi menggugah.
Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) memandang lesunya animo publik terutama yang dirasakan kalangan guru dan anak muda karena mereka apatis dengan gonta-gantinya kebijakan kementerian pendidikan yang tidak menyentuh ke akar masalah. Masyarakat memandang kebijakan baru sekedar ganti istilah atau program yang tampak blingsatan tidak punya arah mau dibawa kemana.
Padahal dunia berubah sangat cepat dan tidak pasti. Kita seperti tidak memiliki visi dan peta jalan Pendidikan yang disepakati untuk diwujudkan bersama-sama.
Demikian yang disampaikan Muhammad Nur Rizal, selaku founder GSM dalam merefleksikan momentum Hari Pendidikan Nasional, Jumat (2/5/2025), dalam kegiatan Workshop GSM Bersama jajaran wakil bupati, kepala dinas pendidikan dan diikuti oleh lebih dari empat ratus kepala sekolah setingkat SD dan SMP dari Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan.
Contoh ketidaksinambungan antara visi untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya dengan program yang akan diluncurkan kementrian pendidikan adalah pembelajaran coding dan AI.
Di tengah rendahnya fondasi berpikir kritis dan ilmiah anak kita dengan ekosistem sekolah yang mengekang, menyebabkan masih banyak siswa belum mampu membedakan fakta dan opini.
Anak kita belum terbiasa berpikir sebab-akibat sederhana, membaca grafik atau statistik atau belum tuntas berpikir konkret - logis, tiba tiba diajak belajar Coding dan AI yang berada di level abstrak–reflektif.
Maka yang terjadi adalah kecemasan belajar yang akan melahirkan ilusi kecerdasan. Bukan lompatan kemajuan yang terjadi, melainkan kemunduran yang terselubung oleh kemasan modernitas.
kegelisahan terhadap kualitas, maka ia kehilangan rohnya. Ini bisa menunjukkan betapa kualitas belum menjadi cermin yang jujur di ruang publik.
Jadi, benar—lesunya peringatan Hari Pendidikan dapat dibaca sebagai simbol bahwa kualitas pendidikan di negeri ini belum menjadi “cermin yang berbicara”, apalagi menggugah.
Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) memandang lesunya animo publik terutama yang dirasakan kalangan guru dan anak muda karena mereka apatis dengan gonta-gantinya kebijakan kementerian pendidikan yang tidak menyentuh ke akar masalah. Masyarakat memandang kebijakan baru sekedar ganti istilah atau program yang tampak blingsatan tidak punya arah mau dibawa kemana.
Padahal dunia berubah sangat cepat dan tidak pasti. Kita seperti tidak memiliki visi dan peta jalan Pendidikan yang disepakati untuk diwujudkan bersama-sama.
Demikian yang disampaikan Muhammad Nur Rizal, selaku founder GSM dalam merefleksikan momentum Hari Pendidikan Nasional, Jumat (2/5/2025), dalam kegiatan Workshop GSM Bersama jajaran wakil bupati, kepala dinas pendidikan dan diikuti oleh lebih dari empat ratus kepala sekolah setingkat SD dan SMP dari Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan.
Contoh ketidaksinambungan antara visi untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya dengan program yang akan diluncurkan kementrian pendidikan adalah pembelajaran coding dan AI.
Di tengah rendahnya fondasi berpikir kritis dan ilmiah anak kita dengan ekosistem sekolah yang mengekang, menyebabkan masih banyak siswa belum mampu membedakan fakta dan opini.
Anak kita belum terbiasa berpikir sebab-akibat sederhana, membaca grafik atau statistik atau belum tuntas berpikir konkret - logis, tiba tiba diajak belajar Coding dan AI yang berada di level abstrak–reflektif.
Maka yang terjadi adalah kecemasan belajar yang akan melahirkan ilusi kecerdasan. Bukan lompatan kemajuan yang terjadi, melainkan kemunduran yang terselubung oleh kemasan modernitas.
Lihat Juga :