Perpusnas Luncurkan Program KKN Tematik Literasi dan Relima
Sabtu, 17 Mei 2025 - 13:29 WIB
loading...
A
A
A
Program KKN Tematik Literasi merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan budaya baca dan kecakapan literasi. Wamen Fauzan mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya institusi pendidikan tinggi, untuk berperan aktif dan membangun budaya literasi.
“Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Literasi bukan hanya tanggung jawab perpustakaan, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menegaskan kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading. Kampus harus berkontribusi langsung dalam mengatasi persoalan sosial di lingkungan sekitarnya.
“Keberadaan kampus harus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kalau kampusnya bagus, tapi masyarakatnya miskin dan penuh masalah, maka tanggung jawab sosial kampus itu dipertanyakan,” tegasnya.
Sebagai informasi, di hari pertambahan usianya, Perpusnas tercatat menorehkan prestasi. Naskah kuno koleksi Perpusnas yakni, Sang Hyang Siksa Kandang Karesian dan Karya-karya Hamzah Fansuri ditetapkan sebagai Memory of the World Unesco. Penetapan dua warisan dokumenter bangsa sebagai bagian dari ingatan kolektif dunia ini berlangsung dalam Sidang ke-221 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, pada April 2025.
Perpusnas memilih tema peringatan tahun ini sejalan dengan penetapan visi baru yakni “Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa”. Visi ini menjadi doktrin baru perpustakaan dalam mengukuhkan jati diri dan fungsi perjuangannya untuk ikut mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Perpusnas ingin hadir secara nyata mengawal pembangunan literasi agar upaya mencapai martabat tinggi derajat bangsa, dapat terwujud melalui upaya bersama.
“Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Literasi bukan hanya tanggung jawab perpustakaan, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menegaskan kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading. Kampus harus berkontribusi langsung dalam mengatasi persoalan sosial di lingkungan sekitarnya.
“Keberadaan kampus harus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kalau kampusnya bagus, tapi masyarakatnya miskin dan penuh masalah, maka tanggung jawab sosial kampus itu dipertanyakan,” tegasnya.
Sebagai informasi, di hari pertambahan usianya, Perpusnas tercatat menorehkan prestasi. Naskah kuno koleksi Perpusnas yakni, Sang Hyang Siksa Kandang Karesian dan Karya-karya Hamzah Fansuri ditetapkan sebagai Memory of the World Unesco. Penetapan dua warisan dokumenter bangsa sebagai bagian dari ingatan kolektif dunia ini berlangsung dalam Sidang ke-221 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, pada April 2025.
Perpusnas memilih tema peringatan tahun ini sejalan dengan penetapan visi baru yakni “Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa”. Visi ini menjadi doktrin baru perpustakaan dalam mengukuhkan jati diri dan fungsi perjuangannya untuk ikut mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Perpusnas ingin hadir secara nyata mengawal pembangunan literasi agar upaya mencapai martabat tinggi derajat bangsa, dapat terwujud melalui upaya bersama.
(nnz)
Lihat Juga :