7 Perguruan Tinggi Suarakan Kolegium Dokter Indonesia Tak Diambil Alih Pemerintah
Kamis, 12 Juni 2025 - 20:28 WIB
loading...
A
A
A
"Misal pengampu dalam bidang bedah, apakah diambilalih negara? Tidak. Standar bedah itu sama antara di Indonesia dengan negara lain. Jadi tidak ada yang diambilalih negara. Negara boleh memberikan power ke kolegium, memberikan support dan menaungi, bukan mengambil alih," tandasnya.
Karenanya orang yang berkecimpung di kolegium itu harus orang yang ahli. Jika tidak ahli maka tidak bisa mengelola dan mengambilalihnya. Karena kolegium itu menentukan tiga standar seorang dokter di Indonesia yakni keilmuan, kompetensi dan kurikulum.
"Jika dikelola orang yang tidak ahli, maka akan terjadi kekacauan dalam pengelolaan keilmuan itu sendiri. Orangnya tidak pernah berkecimpung di ilmu itu bagaimana bisa mengelola dengan baik. Yang dikhawatirkan itu sekarang diambil orang-orangnya maka ke depan diambilalih ilmunya," tandasnya.
Guru besar FK Unair yang lain, Prof Joni Wahyuhadi, SpBS menambahkan harusnya semua pihak bergandengan tangan untuk memajukan dunia kedokteran di Indonesia. Apalagi, saat ini banyak orang Indonesia yang berobat ke luar negeri. Padahal kompetensi dan kemampuan para dokter di Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan di luar negeri.
“Ada tiga hal yang harus dimiliki seorang dokter, ilmunya, empatinya dan etikanya. Terkadang pasien mengakui kemampuan dokter di sini, namun mereka tidak suka karena dokter itu tidak punya empati dan etika. Makanya ketiga hal ini harus dirumuskkan dalam kurikulum,” katanya.
Karenanya orang yang berkecimpung di kolegium itu harus orang yang ahli. Jika tidak ahli maka tidak bisa mengelola dan mengambilalihnya. Karena kolegium itu menentukan tiga standar seorang dokter di Indonesia yakni keilmuan, kompetensi dan kurikulum.
"Jika dikelola orang yang tidak ahli, maka akan terjadi kekacauan dalam pengelolaan keilmuan itu sendiri. Orangnya tidak pernah berkecimpung di ilmu itu bagaimana bisa mengelola dengan baik. Yang dikhawatirkan itu sekarang diambil orang-orangnya maka ke depan diambilalih ilmunya," tandasnya.
Guru besar FK Unair yang lain, Prof Joni Wahyuhadi, SpBS menambahkan harusnya semua pihak bergandengan tangan untuk memajukan dunia kedokteran di Indonesia. Apalagi, saat ini banyak orang Indonesia yang berobat ke luar negeri. Padahal kompetensi dan kemampuan para dokter di Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan di luar negeri.
“Ada tiga hal yang harus dimiliki seorang dokter, ilmunya, empatinya dan etikanya. Terkadang pasien mengakui kemampuan dokter di sini, namun mereka tidak suka karena dokter itu tidak punya empati dan etika. Makanya ketiga hal ini harus dirumuskkan dalam kurikulum,” katanya.
(nnz)
Lihat Juga :