Pendidikan Nurhayati Subakat, Pemilik Wardah Lulusan Farmasi ITB
Rabu, 18 Juni 2025 - 20:02 WIB
loading...
Riwayat pendidikan Nurhayati Subakat menarik untuk diketahui. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Riwayat pendidikan Nurhayati Subakat menarik untuk diketahui. Ia adalah founder perusahaan Paragon Corp yang kini menjelma sebagai perusahaan kosmetik terkemuka di Indonesia.
Nama Nurhayati Subakat mungkin sudah tidak asing lagi di industri kecantikan Indonesia. Di balik suksesnya ParagonCorp—perusahaan yang menaungi merek-merek populer seperti Wardah , Make Over, hingga Emina—tersimpan kisah perjuangan dan pendidikan yang penuh inspirasi.
Tak hanya membangun bisnis kosmetik halal terbesar di Tanah Air, Nurhayati juga menjadi simbol ketekunan dan keberanian perempuan Indonesia dalam menembus batas mimpi.
Baca juga: Profil Pendidikan Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM yang Jadi Sorotan Terkait Tambang Nikel di Raja Ampat
Nurhayati Subakat lahir di Padang Panjang pada 27 Juli 1950, sebagai anak keempat dari delapan bersaudara dalam keluarga Minangkabau dari Nagari Bungo Tanjung, Tanah Datar. Sejak kecil, ia menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Latihan SPG dan melanjutkan ke sekolah berbasis pendidikan Islam perempuan, Diniyyah Puteri. Pendidikan menengah atas ia selesaikan di SMA Negeri 1 Padang—salah satu sekolah favorit di Sumatera Barat.
Baca juga: 5 Jurusan Kuliah Ini Sangat Dibutuhkan di Wardah Cosmetics, Nomor 2 Miliki Peluang Besar
Namun, perjalanan intelektualnya tak berhenti di sana. Nurhayati sukses menembus Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Farmasi—sebuah pencapaian besar bagi perempuan Minang pada masanya.
Ia meraih gelar sarjana Farmasi pada tahun 1975 dengan predikat lulusan terbaik, dan kembali mencetak prestasi serupa saat menuntaskan pendidikan profesi apoteker di ITB tahun 1976.
Dedikasinya dalam pendidikan bahkan membuahkan gelar Doktor Honoris Causa dari almamaternya, sebagai penghargaan atas kontribusinya dalam dunia sains dan industri.
Baca juga: Nurhayati Subakat, Bos Wardah yang Pernah Jadi Apoteker Bergaji Minim
Namun jalan hidup tak selalu mulus.
Dalam sebuah diskusi di ITB pada 2019 lalu, Nurhayati menceritakan jatuh bangun dirinya dalam mendirikan bisnis kosmetik.
“Walaupun saya berhasil lulus dari ITB dengan predikat terbaik, namun saya bukanlah orang yang beruntung dalam mendapatkan pekerjaan. Saya kerap kali ditolak saat melamar kerja dan itu berkali-kali. Awalnya saya bercita-cita menjadi dosen, namun saya ditolak. Memang setiap kemauan kita belum tentu kemauan Allah namun kita jangan kecewa atas jalan-Nya,” kenang Nurhayati, melansir laman ITB, Rabu (18/6/2025).
Setelah menikah, Nurhayati hijrah ke Jakarta dan kembali mencoba peruntungan. Ia akhirnya diterima bekerja sebagai apoteker di perusahaan kosmetik multinasional. “Saat itu saya sudah berpuas diri karena saya akhirnya mendapatkan kerja yang saya inginkan dengan gaji yang lumayan,” katanya.
Namun, kehidupan memintanya untuk beralih peran. Ia memilih berhenti bekerja untuk fokus mengurus keluarga. Meski begitu, api semangat dalam dirinya tak pernah padam. Berbekal ilmu farmasi dan pengalaman kerja, ia mendirikan PT Pusaka Tradisi Ibu pada 1985 dan meluncurkan produk pertamanya: Putri, produk haircare untuk salon profesional.
Tahun 1990 menjadi titik kritis dalam hidupnya. Pabrik dan kantor perusahaan miliknya terbakar, meninggalkan utang dan ketidakpastian. Tapi Nurhayati tidak menyerah. “Saya teringat oleh almarhum ayah saya yang memiliki prinsip bahwa setiap kesusahan pasti ada kemudahan,” ucapnya. Ia pun mengajukan kredit bank dan kembali membangun bisnisnya dari nol.
Ketekunan dan keikhlasannya membuahkan hasil. Tahun 1995, Wardah lahir sebagai pelopor kosmetik halal di Indonesia—merek yang kini merajai pasar lokal dan bahkan menembus pasar internasional. Tak hanya itu, ia terus berinovasi: MAKE OVER hadir pada 2010 sebagai brand kosmetik profesional, dan Emina hadir pada 2014 menyasar generasi muda.
Transformasi besar pun dilakukan pada 2011, saat PT Pusaka Tradisi Ibu berubah nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation, atau kini dikenal sebagai ParagonCorp. Di bawah kepemimpinannya yang penuh nilai-nilai integritas, inovasi, dan kebermanfaatan sosial, Paragon menjelma menjadi raksasa kosmetik nasional.
Demikian riwayat pendidikan Nurhayati Subakat . Semoga informasi ini bermanfaat.
Nama Nurhayati Subakat mungkin sudah tidak asing lagi di industri kecantikan Indonesia. Di balik suksesnya ParagonCorp—perusahaan yang menaungi merek-merek populer seperti Wardah , Make Over, hingga Emina—tersimpan kisah perjuangan dan pendidikan yang penuh inspirasi.
Tak hanya membangun bisnis kosmetik halal terbesar di Tanah Air, Nurhayati juga menjadi simbol ketekunan dan keberanian perempuan Indonesia dalam menembus batas mimpi.
Baca juga: Profil Pendidikan Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM yang Jadi Sorotan Terkait Tambang Nikel di Raja Ampat
Awal Mula: Lahir di Tanah Minang, Berjuang Lewat Pendidikan
Nurhayati Subakat lahir di Padang Panjang pada 27 Juli 1950, sebagai anak keempat dari delapan bersaudara dalam keluarga Minangkabau dari Nagari Bungo Tanjung, Tanah Datar. Sejak kecil, ia menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Latihan SPG dan melanjutkan ke sekolah berbasis pendidikan Islam perempuan, Diniyyah Puteri. Pendidikan menengah atas ia selesaikan di SMA Negeri 1 Padang—salah satu sekolah favorit di Sumatera Barat.
Baca juga: 5 Jurusan Kuliah Ini Sangat Dibutuhkan di Wardah Cosmetics, Nomor 2 Miliki Peluang Besar
Namun, perjalanan intelektualnya tak berhenti di sana. Nurhayati sukses menembus Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Farmasi—sebuah pencapaian besar bagi perempuan Minang pada masanya.
Ia meraih gelar sarjana Farmasi pada tahun 1975 dengan predikat lulusan terbaik, dan kembali mencetak prestasi serupa saat menuntaskan pendidikan profesi apoteker di ITB tahun 1976.
Dedikasinya dalam pendidikan bahkan membuahkan gelar Doktor Honoris Causa dari almamaternya, sebagai penghargaan atas kontribusinya dalam dunia sains dan industri.
Baca juga: Nurhayati Subakat, Bos Wardah yang Pernah Jadi Apoteker Bergaji Minim
Namun jalan hidup tak selalu mulus.
Dalam sebuah diskusi di ITB pada 2019 lalu, Nurhayati menceritakan jatuh bangun dirinya dalam mendirikan bisnis kosmetik.
“Walaupun saya berhasil lulus dari ITB dengan predikat terbaik, namun saya bukanlah orang yang beruntung dalam mendapatkan pekerjaan. Saya kerap kali ditolak saat melamar kerja dan itu berkali-kali. Awalnya saya bercita-cita menjadi dosen, namun saya ditolak. Memang setiap kemauan kita belum tentu kemauan Allah namun kita jangan kecewa atas jalan-Nya,” kenang Nurhayati, melansir laman ITB, Rabu (18/6/2025).
Titik Balik: Dari Apoteker ke Pengusaha
Setelah menikah, Nurhayati hijrah ke Jakarta dan kembali mencoba peruntungan. Ia akhirnya diterima bekerja sebagai apoteker di perusahaan kosmetik multinasional. “Saat itu saya sudah berpuas diri karena saya akhirnya mendapatkan kerja yang saya inginkan dengan gaji yang lumayan,” katanya.
Namun, kehidupan memintanya untuk beralih peran. Ia memilih berhenti bekerja untuk fokus mengurus keluarga. Meski begitu, api semangat dalam dirinya tak pernah padam. Berbekal ilmu farmasi dan pengalaman kerja, ia mendirikan PT Pusaka Tradisi Ibu pada 1985 dan meluncurkan produk pertamanya: Putri, produk haircare untuk salon profesional.
ParagonCorp: Tumbuh dari Abu Kebangkitan
Tahun 1990 menjadi titik kritis dalam hidupnya. Pabrik dan kantor perusahaan miliknya terbakar, meninggalkan utang dan ketidakpastian. Tapi Nurhayati tidak menyerah. “Saya teringat oleh almarhum ayah saya yang memiliki prinsip bahwa setiap kesusahan pasti ada kemudahan,” ucapnya. Ia pun mengajukan kredit bank dan kembali membangun bisnisnya dari nol.
Ketekunan dan keikhlasannya membuahkan hasil. Tahun 1995, Wardah lahir sebagai pelopor kosmetik halal di Indonesia—merek yang kini merajai pasar lokal dan bahkan menembus pasar internasional. Tak hanya itu, ia terus berinovasi: MAKE OVER hadir pada 2010 sebagai brand kosmetik profesional, dan Emina hadir pada 2014 menyasar generasi muda.
Transformasi besar pun dilakukan pada 2011, saat PT Pusaka Tradisi Ibu berubah nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation, atau kini dikenal sebagai ParagonCorp. Di bawah kepemimpinannya yang penuh nilai-nilai integritas, inovasi, dan kebermanfaatan sosial, Paragon menjelma menjadi raksasa kosmetik nasional.
Demikian riwayat pendidikan Nurhayati Subakat . Semoga informasi ini bermanfaat.
(nnz)
Lihat Juga :