Lomba Video Animasi Nasional UBL Dorong Tumbuhnya Industri Kreatif
Jum'at, 22 Agustus 2025 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Lebih jauh Aditya menuturkan, event lomba video animasi 2025 ini bukan sekedar kompetisi semata, akan tetapi menjadi wadah untuk melihat talenta-talenta Indonesia di bidang film animasi.
Sementara itu, Deputi Bidang Kreativitas Media, Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Agustini Rahayu mengatakan, potensi film animasi di Indonesia sangat besar, apalagi pascafilm Jumbo yang menarik lebih dari 10 juta penonton di Indonesia.
"Sukses film animasi Jumbo menjadikan animator Indonesia semangat. Dan ini jadi titik terang industri animasi dan video di Tanah Air," jelasnya.
Agustini menyebut, perkembangan film animasi di Indonesia saat ini sangat luar biasa. Pada dekade terakhir pertumbuhannya mencapai 26 persen pertahun.
"Dengan keberhasilan film animasi Jumbo, kita harus membangun animator-animator yang lebih berkualitas lagi," katanya.
Sebab, lanjutnya, animator Indonesia bukan lagi amatir. Banyak animator Indonesia terlibat dalam film-film animasi dunia, salah satunya dalam film animasi Avengers.
"Dalam film animasi Jumbo ada 463 animator dilibatkan. Sebagus Jumbo saja perlu waktu panjang. Jadi harus bersabar, ke depan pembuatan film animasi bisa dibantu dengan AI," ujar Agustini.
"Jadi AI ancaman animasi atau tidak? Sebetulnya tidak, tapi kehadiran AI justru membantu dengan nilai kreatif yang lebih tinggi. Kita tidak bisa menutup mata dengan teknologi," imbuhnya.
Agustini mengaku bangga dan mendukung program lomba video animasi nasional 2025. Apalagi tema lomba tersebut sesuai untuk mempersiapkan film animasi ke depan.
"Kami siap mendukung terwujudnya ekosistem ekonomi kreatif. Sehingga film animasi kita banyak dan mendunia serta animator kita juga berdaya saing global," ucapnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Kreativitas Media, Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Agustini Rahayu mengatakan, potensi film animasi di Indonesia sangat besar, apalagi pascafilm Jumbo yang menarik lebih dari 10 juta penonton di Indonesia.
"Sukses film animasi Jumbo menjadikan animator Indonesia semangat. Dan ini jadi titik terang industri animasi dan video di Tanah Air," jelasnya.
Agustini menyebut, perkembangan film animasi di Indonesia saat ini sangat luar biasa. Pada dekade terakhir pertumbuhannya mencapai 26 persen pertahun.
"Dengan keberhasilan film animasi Jumbo, kita harus membangun animator-animator yang lebih berkualitas lagi," katanya.
Sebab, lanjutnya, animator Indonesia bukan lagi amatir. Banyak animator Indonesia terlibat dalam film-film animasi dunia, salah satunya dalam film animasi Avengers.
"Dalam film animasi Jumbo ada 463 animator dilibatkan. Sebagus Jumbo saja perlu waktu panjang. Jadi harus bersabar, ke depan pembuatan film animasi bisa dibantu dengan AI," ujar Agustini.
"Jadi AI ancaman animasi atau tidak? Sebetulnya tidak, tapi kehadiran AI justru membantu dengan nilai kreatif yang lebih tinggi. Kita tidak bisa menutup mata dengan teknologi," imbuhnya.
Agustini mengaku bangga dan mendukung program lomba video animasi nasional 2025. Apalagi tema lomba tersebut sesuai untuk mempersiapkan film animasi ke depan.
"Kami siap mendukung terwujudnya ekosistem ekonomi kreatif. Sehingga film animasi kita banyak dan mendunia serta animator kita juga berdaya saing global," ucapnya.
(nnz)
Lihat Juga :