30 PTN Bahas Bonus Demografi di Simposium Nasional Kependudukan 2025
Jum'at, 12 September 2025 - 21:28 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Inspiratif Qori, Anak Driver Ojol Lulus Cumlaude dari Undip dengan IPK 3,95
Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Sekretaris Utama BKKBN, Prof. Budi Setiyono, dalam sambutannya mewakili Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, menegaskan bahwa bonus demografi yang sedang dialami Indonesia adalah peluang emas yang bersifat sementara sehingga harus secara serius dimanfaatkan seoptimal mungkin.
“Dengan 196 juta jiwa (69,68%) penduduk usia produktif pada saat ini, Indonesia memiliki modal pembangunan terbesar dalam sejarahnya. Tidak mustahil, dengan pemanfaatan bonus demografi tersebut, target pertumbuhan ekonomi 8 % sesuai Asta Cita Presiden akan dapat tercapai”. Namun, tanpa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, peluang ini bisa berubah menjadi beban.
Beberapa isu krusial kependudukan yang menjadi sorotan adalah fenomena fatherless dan lemahnya peran ayah dalam pengasuhan, stunting dan kualitas gizi anak usia dini, isu perceraian, pernikahan usia dini, kesehatan mental remaja serta kesiapan memasuki dunia kerja, penuaan penduduk yang berpotensi menjadi beban sosial-ekonomi di masa depan dan ketimpangan spasial dan urbanisasi yang menuntut redistribusi pembangunan lebih merata.
Dalam simposium tersebut, dibahas pula strategi kolaboratif Kemendukbangga/BKKBN dalam mengaplikasikan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) 2025–2029. Dokumen lima tahunan ini memuat 30 indikator strategis yang mengintegrasikan isu-isu kependudukan dengan indikator ekonomi nasional, berupa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) wanita, Gini Ratio (ketimpangan ekonomi), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Tingkat kemiskinan.
PJPK 2025–2029 menjadi instrumen penting untuk memastikan kebijakan kependudukan selaras dengan target pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial menuju Indonesia Emas 2045.
Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Sekretaris Utama BKKBN, Prof. Budi Setiyono, dalam sambutannya mewakili Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, menegaskan bahwa bonus demografi yang sedang dialami Indonesia adalah peluang emas yang bersifat sementara sehingga harus secara serius dimanfaatkan seoptimal mungkin.
“Dengan 196 juta jiwa (69,68%) penduduk usia produktif pada saat ini, Indonesia memiliki modal pembangunan terbesar dalam sejarahnya. Tidak mustahil, dengan pemanfaatan bonus demografi tersebut, target pertumbuhan ekonomi 8 % sesuai Asta Cita Presiden akan dapat tercapai”. Namun, tanpa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, peluang ini bisa berubah menjadi beban.
Beberapa isu krusial kependudukan yang menjadi sorotan adalah fenomena fatherless dan lemahnya peran ayah dalam pengasuhan, stunting dan kualitas gizi anak usia dini, isu perceraian, pernikahan usia dini, kesehatan mental remaja serta kesiapan memasuki dunia kerja, penuaan penduduk yang berpotensi menjadi beban sosial-ekonomi di masa depan dan ketimpangan spasial dan urbanisasi yang menuntut redistribusi pembangunan lebih merata.
Dalam simposium tersebut, dibahas pula strategi kolaboratif Kemendukbangga/BKKBN dalam mengaplikasikan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) 2025–2029. Dokumen lima tahunan ini memuat 30 indikator strategis yang mengintegrasikan isu-isu kependudukan dengan indikator ekonomi nasional, berupa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) wanita, Gini Ratio (ketimpangan ekonomi), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Tingkat kemiskinan.
PJPK 2025–2029 menjadi instrumen penting untuk memastikan kebijakan kependudukan selaras dengan target pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial menuju Indonesia Emas 2045.
Lihat Juga :