SDN 5 Arcawinangun, Sekolah di Purwokerto yang Jadi Rumah Kedua Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Jum'at, 19 September 2025 - 18:15 WIB
loading...
SDN 5 Arcawinangun, Purwokerto Timur, Banyumas sejak tahun 2011 ditetapkan sebagai sekolah inklusi rujukan. Foto/Saladin Ayyubi.
A
A
A
PURWOKERTO - Setiap anak berhak memperoleh pendidikan bermutu, tanpa terkecuali bagi penyandang disabilitas . Hal itu diwujudkan oleh Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Arcawinangun, Purwokerto Timur, Banyumas, yang sejak tahun 2011 ditetapkan sebagai sekolah inklusi rujukan.
Sekolah ini menerima dan mendidik siswa berkebutuhan khusus dengan berbagai latar belakang, mulai dari down syndrome, tuna daksa, slow learner, hingga speech delay. Hingga kini, tercatat ada 56 siswa berkebutuhan khusus yang belajar bersama dengan siswa reguler di sekolah tersebut.
Baca juga: Kemendikdasmen Sediakan Program RPL bagi Guru yang Belum Sarjana, Ini Syaratnya
Kiky, salah satu siswa, mengaku senang bisa belajar di sekolah inklusi ini. “Seneng sekolah di sini karena banyak temannya. Temannya baik,” ujarnya polos. Hal senada diungkapkan Dea, siswa lainnya, yang merasa betah karena memiliki banyak teman yang ramah.
![SDN 5 Arcawinangun, Sekolah di Purwokerto yang Jadi Rumah Kedua Bagi Anak Berkebutuhan Khusus]()
Untuk mendukung pembelajaran, SDN 5 Arcawinangun memiliki 14 tenaga pengajar, terdiri dari enam guru kelas dan enam guru pendamping khusus. Kehadiran guru pendamping membuat siswa dengan kebutuhan khusus bisa tetap mengikuti materi yang sama dengan siswa reguler, namun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Karena kebijakan pemerintah, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan. Jadi kami menerima anak-anak kebutuhan khusus yang belajar bersama dengan siswa reguler,” ujar Aminah Agustina, Kepala Sekolah SDN 5 Arcawinangun.
![SDN 5 Arcawinangun, Sekolah di Purwokerto yang Jadi Rumah Kedua Bagi Anak Berkebutuhan Khusus]()
Aminah menjelaskan, dukungan dari Dinas Pendidikan sangat besar. Setiap awal tahun ajaran, sekolah mendapat bantuan asesmen bagi seluruh anak secara khusus, parenting untuk orang tua, hingga kegiatan tambahan yang dibiayai oleh dinas.
Selain ruang kelas reguler, sekolah ini juga menyediakan Ruang Bina Diri. Di tempat tersebut, siswa berkebutuhan khusus mendapat pelatihan motorik kasar, motorik halus, serta kesempatan untuk menggali minat dan bakat mereka.
![SDN 5 Arcawinangun, Sekolah di Purwokerto yang Jadi Rumah Kedua Bagi Anak Berkebutuhan Khusus]()
“Untuk programnya, anak-anak belajar di kelas sesuai kurikuler. Ada juga ko-kurikuler berupa ekstrakurikuler anyaman, melukis, menyanyi, hingga bola boci yang memang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pagi hingga siang mereka belajar bersama di kelas, namun satu jam terakhir secara bergiliran dipisahkan di Ruang Bina Diri untuk fokus melatih keterampilan motorik dan menggali potensi,” jelas Aminah.
Dengan pendekatan inklusi, SDN 5 Arcawinangun bukan hanya tempat belajar, tetapi juga menjadi rumah kedua yang memberikan persahabatan, penguatan, serta dukungan penuh bagi siswa berkebutuhan khusus maupun reguler.
Sekolah ini menerima dan mendidik siswa berkebutuhan khusus dengan berbagai latar belakang, mulai dari down syndrome, tuna daksa, slow learner, hingga speech delay. Hingga kini, tercatat ada 56 siswa berkebutuhan khusus yang belajar bersama dengan siswa reguler di sekolah tersebut.
Baca juga: Kemendikdasmen Sediakan Program RPL bagi Guru yang Belum Sarjana, Ini Syaratnya
Kiky, salah satu siswa, mengaku senang bisa belajar di sekolah inklusi ini. “Seneng sekolah di sini karena banyak temannya. Temannya baik,” ujarnya polos. Hal senada diungkapkan Dea, siswa lainnya, yang merasa betah karena memiliki banyak teman yang ramah.

Untuk mendukung pembelajaran, SDN 5 Arcawinangun memiliki 14 tenaga pengajar, terdiri dari enam guru kelas dan enam guru pendamping khusus. Kehadiran guru pendamping membuat siswa dengan kebutuhan khusus bisa tetap mengikuti materi yang sama dengan siswa reguler, namun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Karena kebijakan pemerintah, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan. Jadi kami menerima anak-anak kebutuhan khusus yang belajar bersama dengan siswa reguler,” ujar Aminah Agustina, Kepala Sekolah SDN 5 Arcawinangun.

Aminah menjelaskan, dukungan dari Dinas Pendidikan sangat besar. Setiap awal tahun ajaran, sekolah mendapat bantuan asesmen bagi seluruh anak secara khusus, parenting untuk orang tua, hingga kegiatan tambahan yang dibiayai oleh dinas.
Selain ruang kelas reguler, sekolah ini juga menyediakan Ruang Bina Diri. Di tempat tersebut, siswa berkebutuhan khusus mendapat pelatihan motorik kasar, motorik halus, serta kesempatan untuk menggali minat dan bakat mereka.

“Untuk programnya, anak-anak belajar di kelas sesuai kurikuler. Ada juga ko-kurikuler berupa ekstrakurikuler anyaman, melukis, menyanyi, hingga bola boci yang memang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pagi hingga siang mereka belajar bersama di kelas, namun satu jam terakhir secara bergiliran dipisahkan di Ruang Bina Diri untuk fokus melatih keterampilan motorik dan menggali potensi,” jelas Aminah.
Dengan pendekatan inklusi, SDN 5 Arcawinangun bukan hanya tempat belajar, tetapi juga menjadi rumah kedua yang memberikan persahabatan, penguatan, serta dukungan penuh bagi siswa berkebutuhan khusus maupun reguler.
(nnz)
Lihat Juga :