Istiqomah Meneliti, 2 Dosen UNEJ Kembali Masuk Daftar Peneliti Berpengaruh Dunia 2025
Kamis, 02 Oktober 2025 - 16:41 WIB
loading...
A
A
A
Kedua harus adaptif dan siap untuk kolaboratif, sebab perubahan makin sering terjadi sehingga kerja sama menjadi kata kunci. Asrofi kini tidak lagi mengkotak-kotakkan diri hanya pada penelitian mengenai ilmu material dan keteknik mesinan saja. Salah satu buktinya dia banyak bekerja sama dengan Prof. Bambang Kuswandi yang berlatar belakang Kimia di Fakultas Farmasi.
“Namun di balik semua pencapaian ini, saya terus berusaha melandasi semua penelitian sebagai salah satu bentuk ibadah,” ungkap pria yang akrab disapa Asrofi ini.
Pria asli Sidoarjo ini kini banyak meneliti materi alam untuk plastik ramah lingkungan atau bidang bio compostable yang materinya berasal dari tanaman atau limbah hasil pertanian. Penelitian terbaru yang dikerjakan adalah plastik ramah lingkungan berbahan limbah pelepah pisang.
Pemilihan pelepah pisang mengingat bahannya mudah di dapat dan memiliki potensi besar dikembangkan di Jember dan sekitarnya yang memang wilayah subur pertanian dan perkebunan. Pelepah pisang selama ini dianggap limbah dan jarang dimanfaatkan, sehingga pemanfaatan ini sekaligus mendukung prinsip circular economy dan pengurangan limbah pertanian.
“Pilihan pada limbah pelepah pisang juga karena dari riset ditemukan kandungan selulosanya tinggi, antara enam puluh hingga delapan lima persen. Ini membuat pelepah pisang sangat potensial untuk diolah menjadi nano selulosa sebagai penguat biokomposit,” jelas Asrofi.
Ketiga, sifat mekaniknya kompetitif. Beberapa penelitian melaporkan serat pelepah pisang memiliki kekuatan tarik sekitar 500–900 MPa dan modulus elastisitas 5–25 GPa, yang sebanding bahkan kadang lebih tinggi dibandingkan serat alam lain seperti bambu atau sabut kelapa. Hal ini membuatnya sangat potensial untuk aplikasi green packaging yang memerlukan kekuatan, namun tetap ramah lingkungan.
Secara sederhana, prosesnya bisa digambarkan seperti ini: pelepah pisang yang biasanya dianggap limbah pertanian terlebih dahulu dibersihkan, kemudian seratnya diambil dan diolah menjadi serbuk halus. Serbuk ini kaya akan selulosa yang sifatnya kuat dan ramah lingkungan.
Selanjutnya, serbuk tersebut dicampurkan dengan bahan dasar biopolimer menggunakan alat khusus bernama extruder. Alat ini berfungsi mencampur sekaligus melelehkan bahan sehingga terbentuk benang panjang biokomposit, atau disebut filament. Dari filament inilah kemudian dipotong-potong kecil menjadi bentuk butiran, yang kita kenal sebagai pelet biokomposit.
“Namun di balik semua pencapaian ini, saya terus berusaha melandasi semua penelitian sebagai salah satu bentuk ibadah,” ungkap pria yang akrab disapa Asrofi ini.
Pria asli Sidoarjo ini kini banyak meneliti materi alam untuk plastik ramah lingkungan atau bidang bio compostable yang materinya berasal dari tanaman atau limbah hasil pertanian. Penelitian terbaru yang dikerjakan adalah plastik ramah lingkungan berbahan limbah pelepah pisang.
Pemilihan pelepah pisang mengingat bahannya mudah di dapat dan memiliki potensi besar dikembangkan di Jember dan sekitarnya yang memang wilayah subur pertanian dan perkebunan. Pelepah pisang selama ini dianggap limbah dan jarang dimanfaatkan, sehingga pemanfaatan ini sekaligus mendukung prinsip circular economy dan pengurangan limbah pertanian.
“Pilihan pada limbah pelepah pisang juga karena dari riset ditemukan kandungan selulosanya tinggi, antara enam puluh hingga delapan lima persen. Ini membuat pelepah pisang sangat potensial untuk diolah menjadi nano selulosa sebagai penguat biokomposit,” jelas Asrofi.
Ketiga, sifat mekaniknya kompetitif. Beberapa penelitian melaporkan serat pelepah pisang memiliki kekuatan tarik sekitar 500–900 MPa dan modulus elastisitas 5–25 GPa, yang sebanding bahkan kadang lebih tinggi dibandingkan serat alam lain seperti bambu atau sabut kelapa. Hal ini membuatnya sangat potensial untuk aplikasi green packaging yang memerlukan kekuatan, namun tetap ramah lingkungan.
Secara sederhana, prosesnya bisa digambarkan seperti ini: pelepah pisang yang biasanya dianggap limbah pertanian terlebih dahulu dibersihkan, kemudian seratnya diambil dan diolah menjadi serbuk halus. Serbuk ini kaya akan selulosa yang sifatnya kuat dan ramah lingkungan.
Selanjutnya, serbuk tersebut dicampurkan dengan bahan dasar biopolimer menggunakan alat khusus bernama extruder. Alat ini berfungsi mencampur sekaligus melelehkan bahan sehingga terbentuk benang panjang biokomposit, atau disebut filament. Dari filament inilah kemudian dipotong-potong kecil menjadi bentuk butiran, yang kita kenal sebagai pelet biokomposit.
Lihat Juga :