Jejak Pendidikan Gus Dur, Cucu Pendiri NU yang Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
Senin, 10 November 2025 - 16:14 WIB
loading...
A
A
A
Setelah lulus sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Gowongan, Yogyakarta, sambil tetap mengaji di Pondok Pesantren Krapyak.
Pendidikan pesantrennya berlanjut di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, selama dua tahun, kemudian pindah ke Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Baca juga: 10 Pahlawan Nasional Resmi Diumumkan, Ini Daftar Nama-namanya
Di masa muda, Gus Dur dikenal memiliki kegemaran membaca yang tinggi. Ia menamatkan berbagai karya sastra dan pemikiran dunia, mulai dari Ernest Hemingway, John Steinbeck, Will Durant, hingga Lenin dengan bukunya What Is To Be Done?
Pada usia 22 tahun, Gus Dur menunaikan ibadah haji sekaligus memperluas wawasan keilmuannya ke luar negeri. Ia menempuh studi di Al-Azhar University, Kairo, Mesir, pada Fakultas Syariah (Kulliyah al-Syari’ah) pada tahun 1964–1966.
Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Baghdad, Irak, di Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab hingga tahun 1970. Pernah pula ia mencoba melanjutkan studi ke Universitas Leiden, Belanda, namun terhalang masalah administrasi. Perjalanan intelektualnya sempat membawanya ke Jerman dan Prancis sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada 1971.
Pendidikan pesantrennya berlanjut di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, selama dua tahun, kemudian pindah ke Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Baca juga: 10 Pahlawan Nasional Resmi Diumumkan, Ini Daftar Nama-namanya
Di masa muda, Gus Dur dikenal memiliki kegemaran membaca yang tinggi. Ia menamatkan berbagai karya sastra dan pemikiran dunia, mulai dari Ernest Hemingway, John Steinbeck, Will Durant, hingga Lenin dengan bukunya What Is To Be Done?
Pada usia 22 tahun, Gus Dur menunaikan ibadah haji sekaligus memperluas wawasan keilmuannya ke luar negeri. Ia menempuh studi di Al-Azhar University, Kairo, Mesir, pada Fakultas Syariah (Kulliyah al-Syari’ah) pada tahun 1964–1966.
Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Baghdad, Irak, di Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab hingga tahun 1970. Pernah pula ia mencoba melanjutkan studi ke Universitas Leiden, Belanda, namun terhalang masalah administrasi. Perjalanan intelektualnya sempat membawanya ke Jerman dan Prancis sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada 1971.
Lihat Juga :