Lulusan Lembaga Kursus, Barista Indonesia Ini Raup Gaji Tinggi di Saudi
Selasa, 18 November 2025 - 06:30 WIB
loading...
Perjalanan Ismail Sigalingging yang kini menjadi barista di Arab Saudi. Foto/Vokasi Kemendikdasmen.
A
A
A
JAKARTA - Kopi mampu mengubah ketidaksukaan menjadi kecintaan. Hal inilah yang dialami Ismail Sigalingging. Dulu ia tidak menyukai kopi, namun kini justru bekerja sebagai barista hingga mendapat kesempatan terbang ke Najran, Arab Saudi.
Perjalanan Ismail bermula dari keprihatinannya melihat kesejahteraan petani kopi di kampung halamannya, Sidikalang. Banyak petani masih bergulat dengan persoalan ekonomi, padahal industri kopi memiliki peluang besar. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mulai belajar kopi dari awal.
“Saya mulai memahami proses kopi itu dari nol. Dari melihat petani-petani kopi di kampung saya,” ujar Ismail, dikutip dari laman Vokasi Kemendikdasmen, Selasa (18/11/2025).
Baca juga: Wajib Tahu, Segini Batas Aman Konsumsi Kafein Harian Bagi Pecinta Kopi
Ismail sempat merantau ke Gayo dan bekerja sebagai eksportir kopi, yang membuatnya memahami proses pengolahan di bagian hulu. Namun, ia merasa ilmu tersebut belum cukup. Saat kembali ke kampung halaman, ia mendapat informasi tentang program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) yang menawarkan kursus barista di LKP Merapi School, Klaten, Jawa Tengah.
“Saya langsung ikut mendaftar dan diterima. Ini mungkin jalannya untuk mempelajari tentang kopi secara lebih dalam,” tutur Ismail.
Baca juga: Universitas Jember Kembangkan Gel Herbal dari Kopi Robusta untuk Kesehatan Gigi dan Mulut
Melalui kursus barista, Ismail mempelajari dunia peracikan kopi secara menyeluruh. Meski sudah memiliki dasar ketika menjadi eksportir, ia semakin tertarik mendalami jenis-jenis seduhan dan teknik meraciknya.
“Meracik itu perlu ketelatenan dan ada ukurannya, gak bisa sembarang. Ini melatih keterampilan saya juga,” jelasnya.
Ia mulai mengenal berbagai alat dan metode yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dari espresso, latte, cold brew, hingga javanese coffee, semuanya ia pelajari selama pelatihan intensif. Program PKK juga membantunya mengukur kemampuan lewat ujian kompetensi, hingga akhirnya ia meraih sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK).
“Untung pernah ikut praktik dan magang di Lava Coffee Kitchen jadi bisa lulus. Lalu setelah lulus saya langsung kerja di kafe di Jombang,” ujar Ismail.
Tidak berhenti di situ, Ismail terus mengejar peluang hingga akhirnya diterima bekerja di 1K Coffee, salah satu kedai kopi ternama di Arab Saudi. Setelah melalui proses administrasi dan wawancara yang ketat, ia resmi ditempatkan di Kota Najran.
“Penempatannya di Kota Najran. Ini adalah babak baru di hidup saya,” katanya.
Meski sempat khawatir karena belum pernah ke luar negeri dan memikirkan keluarga di kampung, Ismail tetap mantap melangkah. Ia ingin memperluas pengalaman demi mewujudkan misinya membantu meningkatkan kesejahteraan petani kopi.
“Niatku cuma satu, para petani harus sejahtera,” tegasnya.
Dengan kontrak dua tahun dan gaji yang lebih besar daripada di Indonesia, Ismail kini dapat menabung lebih banyak. Ia bertekad menggunakan tabungan tersebut untuk keluarganya sekaligus membuka usaha kopi di kampung halaman.
Perjalanan Ismail bermula dari keprihatinannya melihat kesejahteraan petani kopi di kampung halamannya, Sidikalang. Banyak petani masih bergulat dengan persoalan ekonomi, padahal industri kopi memiliki peluang besar. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mulai belajar kopi dari awal.
“Saya mulai memahami proses kopi itu dari nol. Dari melihat petani-petani kopi di kampung saya,” ujar Ismail, dikutip dari laman Vokasi Kemendikdasmen, Selasa (18/11/2025).
Baca juga: Wajib Tahu, Segini Batas Aman Konsumsi Kafein Harian Bagi Pecinta Kopi
Ismail sempat merantau ke Gayo dan bekerja sebagai eksportir kopi, yang membuatnya memahami proses pengolahan di bagian hulu. Namun, ia merasa ilmu tersebut belum cukup. Saat kembali ke kampung halaman, ia mendapat informasi tentang program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) yang menawarkan kursus barista di LKP Merapi School, Klaten, Jawa Tengah.
“Saya langsung ikut mendaftar dan diterima. Ini mungkin jalannya untuk mempelajari tentang kopi secara lebih dalam,” tutur Ismail.
Baca juga: Universitas Jember Kembangkan Gel Herbal dari Kopi Robusta untuk Kesehatan Gigi dan Mulut
Belajar Meracik dan Memahami Kopi
Melalui kursus barista, Ismail mempelajari dunia peracikan kopi secara menyeluruh. Meski sudah memiliki dasar ketika menjadi eksportir, ia semakin tertarik mendalami jenis-jenis seduhan dan teknik meraciknya.
“Meracik itu perlu ketelatenan dan ada ukurannya, gak bisa sembarang. Ini melatih keterampilan saya juga,” jelasnya.
Ia mulai mengenal berbagai alat dan metode yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dari espresso, latte, cold brew, hingga javanese coffee, semuanya ia pelajari selama pelatihan intensif. Program PKK juga membantunya mengukur kemampuan lewat ujian kompetensi, hingga akhirnya ia meraih sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK).
“Untung pernah ikut praktik dan magang di Lava Coffee Kitchen jadi bisa lulus. Lalu setelah lulus saya langsung kerja di kafe di Jombang,” ujar Ismail.
Karier Baru di Arab Saudi
Tidak berhenti di situ, Ismail terus mengejar peluang hingga akhirnya diterima bekerja di 1K Coffee, salah satu kedai kopi ternama di Arab Saudi. Setelah melalui proses administrasi dan wawancara yang ketat, ia resmi ditempatkan di Kota Najran.
“Penempatannya di Kota Najran. Ini adalah babak baru di hidup saya,” katanya.
Meski sempat khawatir karena belum pernah ke luar negeri dan memikirkan keluarga di kampung, Ismail tetap mantap melangkah. Ia ingin memperluas pengalaman demi mewujudkan misinya membantu meningkatkan kesejahteraan petani kopi.
“Niatku cuma satu, para petani harus sejahtera,” tegasnya.
Dengan kontrak dua tahun dan gaji yang lebih besar daripada di Indonesia, Ismail kini dapat menabung lebih banyak. Ia bertekad menggunakan tabungan tersebut untuk keluarganya sekaligus membuka usaha kopi di kampung halaman.
(nnz)
Lihat Juga :