Membesarkan Pemikir Digital: Literasi AI Menjadi Kebutuhan Dasar Pendidikan Anak
Kamis, 20 November 2025 - 09:08 WIB
loading...
A
A
A
“AI bukan otoritas kebenaran. Kitalah yang memegang otoritas itu. Tugas kita adalah bertanya, memverifikasi, dan mengajarkan anak melakukan hal yang sama,” tegas Shelton. “Generasi pelajar hari ini tidak akan pernah hidup di dunia tanpa kehadiran AI.”
Para orang tua yang hadir, baik secara luring maupun daring, menyampaikan beragam harapan—seperti penguatan proses berpikir dan peningkatan produktivitas—serta kekhawatiran, seperti risiko ketergantungan, potensi penyalahgunaan untuk menyontek, hingga ancaman disinformasi.
Redea Institute menanggapi aspirasi dan kegelisahan ini dengan pendekatan yang menempatkan keterampilan berpikir, etika, dan karakter sebagai fondasi utama sebelum teknologi itu sendiri. Literasi AI, dalam pandangan Redea, bukan hanya persoalan kemampuan teknis, tetapi juga pembangunan empati, tanggung jawab, dan kesadaran atas konsekuensi penggunaan teknologi.
Selain berbicara dalam sesi untuk orang tua, Ken Shelton juga berdiskusi dengan siswa SMP dan SMA, serta memimpin rangkaian pelatihan bagi guru PAUD hingga SMA di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang. Keterlibatan aktif para pendidik ini penting untuk memastikan pendekatan literasi AI diterapkan secara konsisten di ruang kelas.
Antarina S.F. Amir, Pendiri dan CEO Redea Institute, menyampaikan apresiasi kepada seluruh partisipan. “Kini saatnya kita memikirkan kembali peran kecerdasan buatan dalam pendidikan dan bagaimana kita dapat mempersiapkan anak-anak sebagai pemikir digital yang siap menghadapi tantangan masa depan.”
Para orang tua yang hadir, baik secara luring maupun daring, menyampaikan beragam harapan—seperti penguatan proses berpikir dan peningkatan produktivitas—serta kekhawatiran, seperti risiko ketergantungan, potensi penyalahgunaan untuk menyontek, hingga ancaman disinformasi.
Redea Institute menanggapi aspirasi dan kegelisahan ini dengan pendekatan yang menempatkan keterampilan berpikir, etika, dan karakter sebagai fondasi utama sebelum teknologi itu sendiri. Literasi AI, dalam pandangan Redea, bukan hanya persoalan kemampuan teknis, tetapi juga pembangunan empati, tanggung jawab, dan kesadaran atas konsekuensi penggunaan teknologi.
Selain berbicara dalam sesi untuk orang tua, Ken Shelton juga berdiskusi dengan siswa SMP dan SMA, serta memimpin rangkaian pelatihan bagi guru PAUD hingga SMA di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang. Keterlibatan aktif para pendidik ini penting untuk memastikan pendekatan literasi AI diterapkan secara konsisten di ruang kelas.
Antarina S.F. Amir, Pendiri dan CEO Redea Institute, menyampaikan apresiasi kepada seluruh partisipan. “Kini saatnya kita memikirkan kembali peran kecerdasan buatan dalam pendidikan dan bagaimana kita dapat mempersiapkan anak-anak sebagai pemikir digital yang siap menghadapi tantangan masa depan.”
(unt)
Lihat Juga :