Asia Business Consulting Program 2025 Bekali Mahasiswa dengan Wawasan Bisnis Regional dan Global
Jum'at, 28 November 2025 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Interaksi antara mahasiswa dari Indonesia, Taiwan, dan Korea memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya kecerdasan budaya atau cultural intelligence dalam kepemimpinan modern di Asia.
Salah satu peserta program dari Magister Manajemen Universitas Prasetiya Mulya, Karyadi Gunawan, menilai ABC Program sebagai ruang pembelajaran yang memperluas cara pandangnya terhadap dunia bisnis.
“Dengan fokus pada sustainability, transforming business processes, global branding, hingga employee engagement dalam lingkungan multikultural, program ini menjadi inkubator bagi para calon pemimpin masa depan yang siap menghadapi kompleksitas bisnis regional maupun global,” ujarnya.
Selain itu, pengalaman kolaborasi dengan peserta dari berbagai negara memberikan pemahaman tersendiri terkait tuntutan kepemimpinan global. “ABC Program memberikan pengalaman langsung yang tidak hanya menajamkan analisis strategis, tetapi juga memperkuat kemampuan bekerja lintas budaya. Interaksi multinasional dan studi kasus nyata membuat saya memahami bahwa kepemimpinan global menuntut sensitivitas budaya sekaligus ketepatan berpikir,” ungkapnya.
Salah satu peserta program dari Magister Manajemen Universitas Prasetiya Mulya, Karyadi Gunawan, menilai ABC Program sebagai ruang pembelajaran yang memperluas cara pandangnya terhadap dunia bisnis.
“Dengan fokus pada sustainability, transforming business processes, global branding, hingga employee engagement dalam lingkungan multikultural, program ini menjadi inkubator bagi para calon pemimpin masa depan yang siap menghadapi kompleksitas bisnis regional maupun global,” ujarnya.
Selain itu, pengalaman kolaborasi dengan peserta dari berbagai negara memberikan pemahaman tersendiri terkait tuntutan kepemimpinan global. “ABC Program memberikan pengalaman langsung yang tidak hanya menajamkan analisis strategis, tetapi juga memperkuat kemampuan bekerja lintas budaya. Interaksi multinasional dan studi kasus nyata membuat saya memahami bahwa kepemimpinan global menuntut sensitivitas budaya sekaligus ketepatan berpikir,” ungkapnya.
(nnz)
Lihat Juga :