Naik 91 Peringkat, RSUI Masuk Daftar 100 Rumah Sakit Akademik Terbaik Dunia
Sabtu, 29 November 2025 - 19:27 WIB
loading...
Laporan terbaru World’s Top 100 Academic Medical Centre (AMC) Hospitals 2025 menempatkan RSUI di peringkat 62 dunia. Foto/IG UI.
A
A
A
JAKARTA - Laporan terbaru World’s Top 100 Academic Medical Centre (AMC) Hospitals 2025 menempatkan RSUI di peringkat 62 dunia. Capaian ini merupakan lompatan luar biasa mengingat tahun sebelumnya rumah sakit ini berada di posisi 153 dunia.
Dengan peningkatan 91 peringkat, RSUI kini masuk jajaran institusi medis akademik paling bergengsi di dunia, sejajar dengan pusat kesehatan ternama seperti Royal Infirmary of Edinburgh, University Hospital Heidelberg, dan King Fahad Medical City di Riyadh.
baca juga: 10 Perguruan Tinggi Ternama di Indonesia yang Mempunyai Rumah Sakit
Kenaikan signifikan tersebut menegaskan percepatan transformasi ekosistem kesehatan akademik UI di bawah kepemimpinan Rektor Universitas Indonesia , Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah.
“Dalam beberapa tahun terakhir, UI mengambil langkah strategis untuk memperkuat riset, memperluas kolaborasi internasional, dan mengintegrasikan teknologi mutakhir ke dalam layanan dan pendidikan kedokterannya. Capaian ini berkat sinergi semua pihak,” ujar Prof. Heri melalui keterangan tertulisnya, Jumat (28/11).
Baca juga: UI Buka 5 Jalur Penerimaan, Seleksi Mana yang Paling Mudah dan Paling Ketat di 2026?
Menurut Prof. Heri, capaian RSUI menjadi bukti nyata bahwa UI bergerak di jalur yang benar—jalur percepatan menuju kelas dunia yang selama ini dirancang dan dikawal secara konsisten. Pengakuan global tersebut mencerminkan reputasi UI yang semakin diperhitungkan dalam ranah kesehatan internasional.
“RSUI adalah simbol transformasi UI. Kenaikan 91 peringkat ini menunjukkan bahwa dunia kini melihat kualitas riset, layanan kesehatan, dan kekuatan akademik yang sedang kita bangun,” ujarnya.
Di tengah kompetisi global yang sangat ketat—di mana Johns Hopkins kembali menempati posisi terkuat dunia menggeser Mayo Clinic—kehadiran RSUI di peringkat 62 menjadi pencapaian monumental bagi Indonesia. Merujuk pada laporan Brand Finance tahun ini, lembaga-lembaga medis terdepan dunia berlomba dalam inovasi.
Johns Hopkins, misalnya, menonjol lewat terobosan rekayasa sistem imun untuk mencegah penyebaran sel kanker serta investasi besar pada data science dan kecerdasan buatan.
Adapun RSUI muncul sebagai salah satu rumah sakit akademik paling progresif di Asia. RSUI fokus pada penguatan riset klinis, modernisasi layanan berbasis teknologi, serta peningkatan standar keselamatan pasien. Kombinasi ini turut memperkuat posisi UI sebagai institusi pendidikan tinggi terdepan di tingkat global.
Prof. Heri menilai momentum ini harus menjadi bahan bakar baru untuk mempercepat program strategis UI, baik dalam kesehatan, riset, maupun kolaborasi internasional.
Ia menyebut pencapaian RSUI sebagai “tonggak sejarah” yang menegaskan keberadaan UI tidak hanya dalam peta akademik Indonesia, tetapi juga dalam ekosistem ilmiah dunia yang semakin kompetitif.
“UI sudah dan sedang bergerak menuju level global. RSUI adalah salah satu wajah utama yang menunjukkan bagaimana standar internasional kini menjadi budaya baru di Universitas Indonesia,” ujar Prof. Heri, alumnus Tohoku University yang baru-baru ini menerima penghargaan AFEO Honorary Fellow 2025.
“RSUI tidak hanya membanggakan UI, tetapi juga membawa citra baru bagi layanan kesehatan Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.
Dengan peningkatan 91 peringkat, RSUI kini masuk jajaran institusi medis akademik paling bergengsi di dunia, sejajar dengan pusat kesehatan ternama seperti Royal Infirmary of Edinburgh, University Hospital Heidelberg, dan King Fahad Medical City di Riyadh.
baca juga: 10 Perguruan Tinggi Ternama di Indonesia yang Mempunyai Rumah Sakit
Kenaikan signifikan tersebut menegaskan percepatan transformasi ekosistem kesehatan akademik UI di bawah kepemimpinan Rektor Universitas Indonesia , Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah.
“Dalam beberapa tahun terakhir, UI mengambil langkah strategis untuk memperkuat riset, memperluas kolaborasi internasional, dan mengintegrasikan teknologi mutakhir ke dalam layanan dan pendidikan kedokterannya. Capaian ini berkat sinergi semua pihak,” ujar Prof. Heri melalui keterangan tertulisnya, Jumat (28/11).
Baca juga: UI Buka 5 Jalur Penerimaan, Seleksi Mana yang Paling Mudah dan Paling Ketat di 2026?
Menurut Prof. Heri, capaian RSUI menjadi bukti nyata bahwa UI bergerak di jalur yang benar—jalur percepatan menuju kelas dunia yang selama ini dirancang dan dikawal secara konsisten. Pengakuan global tersebut mencerminkan reputasi UI yang semakin diperhitungkan dalam ranah kesehatan internasional.
“RSUI adalah simbol transformasi UI. Kenaikan 91 peringkat ini menunjukkan bahwa dunia kini melihat kualitas riset, layanan kesehatan, dan kekuatan akademik yang sedang kita bangun,” ujarnya.
Di tengah kompetisi global yang sangat ketat—di mana Johns Hopkins kembali menempati posisi terkuat dunia menggeser Mayo Clinic—kehadiran RSUI di peringkat 62 menjadi pencapaian monumental bagi Indonesia. Merujuk pada laporan Brand Finance tahun ini, lembaga-lembaga medis terdepan dunia berlomba dalam inovasi.
Johns Hopkins, misalnya, menonjol lewat terobosan rekayasa sistem imun untuk mencegah penyebaran sel kanker serta investasi besar pada data science dan kecerdasan buatan.
Adapun RSUI muncul sebagai salah satu rumah sakit akademik paling progresif di Asia. RSUI fokus pada penguatan riset klinis, modernisasi layanan berbasis teknologi, serta peningkatan standar keselamatan pasien. Kombinasi ini turut memperkuat posisi UI sebagai institusi pendidikan tinggi terdepan di tingkat global.
Prof. Heri menilai momentum ini harus menjadi bahan bakar baru untuk mempercepat program strategis UI, baik dalam kesehatan, riset, maupun kolaborasi internasional.
Ia menyebut pencapaian RSUI sebagai “tonggak sejarah” yang menegaskan keberadaan UI tidak hanya dalam peta akademik Indonesia, tetapi juga dalam ekosistem ilmiah dunia yang semakin kompetitif.
“UI sudah dan sedang bergerak menuju level global. RSUI adalah salah satu wajah utama yang menunjukkan bagaimana standar internasional kini menjadi budaya baru di Universitas Indonesia,” ujar Prof. Heri, alumnus Tohoku University yang baru-baru ini menerima penghargaan AFEO Honorary Fellow 2025.
“RSUI tidak hanya membanggakan UI, tetapi juga membawa citra baru bagi layanan kesehatan Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :