LKS Digital Interaktif Inovasi President University Bikin Belajar Lebih Seru
Senin, 01 Desember 2025 - 18:12 WIB
loading...
PKM dosen Universitas Presiden menggagas Lembar Kerja Siswa (LKS) kreatif berbasis gamifikasi, storytelling, emotional design, dan teknologi Augmented Reality (AR). Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) dosen President University menggagas Lembar Kerja Siswa (LKS) kreatif berbasis gamifikasi, storytelling, emotional design, dan teknologi Augmented Reality (AR). Program tersebut dilaksanakan pada 19–20 September 2025, melibatkan 16 guru dan menghasilkan enam LKS digital interaktif, melebihi target awal lima LKS.
Ketua tim PKM, Remandhia Mulcki yang juga KaProdi Desain Komunikasi Visual President University, mengatakan langkah ini diambil untuk menjawab tantangan pendidikan di era Generasi Z yang dikenal sebagai digital native.
Baca juga: 90.447 Sekolah Tidak Ada Guru Bahasa Inggris, Rencana Jadi Mapel Wajib Terancam?
“Gen Z mudah bosan kalau hanya mendengar ceramah. Mereka terbiasa dengan media visual, interaktif, dan serba cepat. Karena itu, kami hadirkan media belajar yang sesuai karakter mereka. Ada game, cerita, bahkan animasi 3D yang bisa dipindai lewat QR Code,” ujarnya, melalui siaran pers, Senin (1/12/2025).
Workshop selama dua hari menghadirkan suasana berbeda bagi guru-guru SMA Plus Muthahhari. Tidak hanya mendengarkan teori, para guru langsung praktik membuat LKS kreatif dengan memanfaatkan aplikasi Assemblr untuk menyematkan konten AR.
Baca juga: 1.009 Sekolah Terdampak Bencana Sumatera, Kemendikdasmen Salurkan Dana Darurat
Workshop tersebut berjudul, “Peningkatan Kualitas Pengalaman Belajar (Learning Experience) Siswa Generasi Z di SMA (Plus) Muthahhari Bandung melalui Perancangan Media Pembelajaran Berbasis Gamifikasi, Emotional Design, dan Storytelling”.
Sebanyak 10 guru aktif merancang prototipe LKS. Mata pelajaran yang berhasil dilengkapi media kreatif di antaranya Biologi, PPKN, Sejarah Indonesia, Sosiologi, Bahasa Indonesia, dan Ekonomi.
“Awalnya agak canggung, tapi lama-lama asyik. Kami belajar mendesain halaman, menambahkan cerita, sampai menaruh QR Code untuk animasi 3D. Rasanya seperti naik level,” ujar salah satu guru peserta workshop dengan antusias.
Tidak sedikit guru senior yang awalnya kesulitan mengikuti, namun akhirnya mampu beradaptasi berkat bantuan guru muda. Situasi ini menciptakan peer support antar-guru yang memperkuat semangat kolaborasi di sekolah.
Setelah workshop, tiga kelas (X-1, X-2, dan X-3) mendapat kesempatan mencoba langsung LKS digital tersebut. Hasilnya sungguh menggembirakan.
Data observasi dan kuesioner menunjukkan rata-rata kepuasan siswa mencapai 4,3–4,6 dari skala 5. Hampir semua siswa merasa lebih fokus, lebih bersemangat, dan menilai pembelajaran menjadi lebih menyenangkan serta bermakna.
“Biasanya cepat bosan, tapi kali ini seru banget. Ada QR Code, muncul gambar sel 3D, terus ada tantangan soal yang bikin penasaran. Semoga bisa dipakai di pelajaran lain juga,” kata salah satu siswa kelas X-2.
Uniknya, ada juga reward sederhana berupa cokelat bagi siswa yang berhasil menyelesaikan LKS dengan nilai sempurna. Hal ini menambah motivasi dan suasana belajar yang lebih hidup.
Kepala Sekolah Dewi Listia menegaskan bahwa inovasi ini memberi dampak nyata. “LKS ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Di dalam LKS ini sangat lengkap.
Ada pencapaian dan tujuan pembelajaran, visualisasi yang menarik, serta quiz-quiz berjenjang dari level 1 hingga level 5. Melalui gamifikasi dan storytelling, anak-anak jadi lebih fokus, lebih kritis, dan mampu memecahkan masalah dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya
Namun ia juga menyoroti masalah yang dihadapi sekolah. “Sekolah kami heterogen, baik dari sisi kemampuan maupun gaya belajar siswa. Jumlah kelas tidak besar, tapi guru harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang bisa memfasilitasi semua. Dukungan yang paling kami butuhkan adalah perangkat pembelajaran yang sesuai zaman, serta pelatihan guru untuk membuat media interaktif.”
Program PKM ini tidak hanya menambah variasi metode belajar, tapi juga menjawab persoalan strategis sekolah: lemahnya promosi digital.
Dokumentasi kegiatan pembelajaran kreatif melalui foto, video, dan testimoni siswa kini diproyeksikan menjadi konten promosi di media sosial sekolah.
“Sekolah jadi punya bahan promosi yang otentik. Bukan sekadar iklan, tapi menunjukkan kelas yang hidup dan sesuai kebutuhan zaman,” jelas Hadi Jaya Putra anggota tim PKM.
TimPresident University menargetkan keberlanjutan program ini hingga akhir 2025 dengan langkah-langkah strategis seperti, Panduan Media Pembelajaran, Konten Promosi Digital, Publikasi Ilmiah dan Media Massa, dan Pendaftaran HAKI.
“Target kita bukan hanya menghasilkan produk, tapi juga membangun kapasitas guru. Harapannya, LKS inovatif ini bisa masuk ke kurikulum rutin sekolah dan jadi daya tarik utama bagi masyarakat,” tegas Remandhia Mulcki.
Remandhia menambahkan, “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan Hibah Skema Pengabdian Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kemendiktisaintek2025. Tanpa dukungan ini, program tentu tidak akan berjalan sebaik ini.”
“Belajar itu seharusnya menyenangkan. Kalau siswa senang, guru juga ikut bahagia. Itulah inti dari inovasi ini,” tutup Fransiska Rachel, anggota tim PKM President University.
Ketua tim PKM, Remandhia Mulcki yang juga KaProdi Desain Komunikasi Visual President University, mengatakan langkah ini diambil untuk menjawab tantangan pendidikan di era Generasi Z yang dikenal sebagai digital native.
Baca juga: 90.447 Sekolah Tidak Ada Guru Bahasa Inggris, Rencana Jadi Mapel Wajib Terancam?
“Gen Z mudah bosan kalau hanya mendengar ceramah. Mereka terbiasa dengan media visual, interaktif, dan serba cepat. Karena itu, kami hadirkan media belajar yang sesuai karakter mereka. Ada game, cerita, bahkan animasi 3D yang bisa dipindai lewat QR Code,” ujarnya, melalui siaran pers, Senin (1/12/2025).
Workshop selama dua hari menghadirkan suasana berbeda bagi guru-guru SMA Plus Muthahhari. Tidak hanya mendengarkan teori, para guru langsung praktik membuat LKS kreatif dengan memanfaatkan aplikasi Assemblr untuk menyematkan konten AR.
Baca juga: 1.009 Sekolah Terdampak Bencana Sumatera, Kemendikdasmen Salurkan Dana Darurat
Workshop tersebut berjudul, “Peningkatan Kualitas Pengalaman Belajar (Learning Experience) Siswa Generasi Z di SMA (Plus) Muthahhari Bandung melalui Perancangan Media Pembelajaran Berbasis Gamifikasi, Emotional Design, dan Storytelling”.
Sebanyak 10 guru aktif merancang prototipe LKS. Mata pelajaran yang berhasil dilengkapi media kreatif di antaranya Biologi, PPKN, Sejarah Indonesia, Sosiologi, Bahasa Indonesia, dan Ekonomi.
“Awalnya agak canggung, tapi lama-lama asyik. Kami belajar mendesain halaman, menambahkan cerita, sampai menaruh QR Code untuk animasi 3D. Rasanya seperti naik level,” ujar salah satu guru peserta workshop dengan antusias.
Tidak sedikit guru senior yang awalnya kesulitan mengikuti, namun akhirnya mampu beradaptasi berkat bantuan guru muda. Situasi ini menciptakan peer support antar-guru yang memperkuat semangat kolaborasi di sekolah.
Setelah workshop, tiga kelas (X-1, X-2, dan X-3) mendapat kesempatan mencoba langsung LKS digital tersebut. Hasilnya sungguh menggembirakan.
Data observasi dan kuesioner menunjukkan rata-rata kepuasan siswa mencapai 4,3–4,6 dari skala 5. Hampir semua siswa merasa lebih fokus, lebih bersemangat, dan menilai pembelajaran menjadi lebih menyenangkan serta bermakna.
“Biasanya cepat bosan, tapi kali ini seru banget. Ada QR Code, muncul gambar sel 3D, terus ada tantangan soal yang bikin penasaran. Semoga bisa dipakai di pelajaran lain juga,” kata salah satu siswa kelas X-2.
Uniknya, ada juga reward sederhana berupa cokelat bagi siswa yang berhasil menyelesaikan LKS dengan nilai sempurna. Hal ini menambah motivasi dan suasana belajar yang lebih hidup.
Kepala Sekolah Dewi Listia menegaskan bahwa inovasi ini memberi dampak nyata. “LKS ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Di dalam LKS ini sangat lengkap.
Ada pencapaian dan tujuan pembelajaran, visualisasi yang menarik, serta quiz-quiz berjenjang dari level 1 hingga level 5. Melalui gamifikasi dan storytelling, anak-anak jadi lebih fokus, lebih kritis, dan mampu memecahkan masalah dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya
Namun ia juga menyoroti masalah yang dihadapi sekolah. “Sekolah kami heterogen, baik dari sisi kemampuan maupun gaya belajar siswa. Jumlah kelas tidak besar, tapi guru harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang bisa memfasilitasi semua. Dukungan yang paling kami butuhkan adalah perangkat pembelajaran yang sesuai zaman, serta pelatihan guru untuk membuat media interaktif.”
Program PKM ini tidak hanya menambah variasi metode belajar, tapi juga menjawab persoalan strategis sekolah: lemahnya promosi digital.
Dokumentasi kegiatan pembelajaran kreatif melalui foto, video, dan testimoni siswa kini diproyeksikan menjadi konten promosi di media sosial sekolah.
“Sekolah jadi punya bahan promosi yang otentik. Bukan sekadar iklan, tapi menunjukkan kelas yang hidup dan sesuai kebutuhan zaman,” jelas Hadi Jaya Putra anggota tim PKM.
TimPresident University menargetkan keberlanjutan program ini hingga akhir 2025 dengan langkah-langkah strategis seperti, Panduan Media Pembelajaran, Konten Promosi Digital, Publikasi Ilmiah dan Media Massa, dan Pendaftaran HAKI.
“Target kita bukan hanya menghasilkan produk, tapi juga membangun kapasitas guru. Harapannya, LKS inovatif ini bisa masuk ke kurikulum rutin sekolah dan jadi daya tarik utama bagi masyarakat,” tegas Remandhia Mulcki.
Remandhia menambahkan, “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan Hibah Skema Pengabdian Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kemendiktisaintek2025. Tanpa dukungan ini, program tentu tidak akan berjalan sebaik ini.”
“Belajar itu seharusnya menyenangkan. Kalau siswa senang, guru juga ikut bahagia. Itulah inti dari inovasi ini,” tutup Fransiska Rachel, anggota tim PKM President University.
(nnz)
Lihat Juga :