Mengapa 22 Desember Diperingati sebagai Hari Ibu? Ini Sejarah Lengkapnya
Senin, 22 Desember 2025 - 09:46 WIB
loading...
A
A
A
Pada awalnya, peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk mengenang semangat perjuangan perempuan dalam meningkatkan kualitas bangsa. Semangat persatuan, kerja bersama, dan pengabdian bagi masyarakat menjadi nilai utama yang diwariskan para pendahulu.
Sejumlah peringatan Hari Ibu pada era awal kemerdekaan sarat dengan aksi sosial dan perjuangan. Salah satunya pada peringatan 25 tahun Hari Ibu di Solo, yang diisi dengan pasar amal untuk mendukung kesejahteraan buruh perempuan dan beasiswa bagi anak perempuan. Bahkan, rapat umum kala itu mengeluarkan resolusi mendesak pemerintah mengendalikan harga bahan pokok.
Pada dekade 1950-an, peringatan Hari Ibu kerap diwarnai pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan perempuan secara terbuka. Dalam periode ini pula, sejarah mencatat pengangkatan Maria Ulfah sebagai Menteri Sosial perempuan pertama Indonesia pada tahun 1950 oleh Presiden Soekarno.
Perjuangan perempuan juga diwujudkan melalui pembangunan monumen. Kongres Perempuan di Bandung tahun 1952 mengusulkan pembangunan Balai Srikandi, yang kemudian diresmikan pada 1956. Pada 1983, Presiden Soeharto meresmikan kompleks Mandala Bhakti Wanitatama di Yogyakarta sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia.
Kiprah perempuan Indonesia bahkan meluas hingga tingkat internasional. Pada tahun 1973, Kowani resmi menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW), yang berperan sebagai badan konsultatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Seiring waktu, makna peringatan Hari Ibu mengalami pergeseran. Saat ini, Hari Ibu lebih sering dimaknai sebagai ungkapan kasih sayang dan penghargaan terhadap peran ibu dalam keluarga, seperti pemberian hadiah, bunga, hingga pembebasan dari tugas domestik sehari-hari.
Sejumlah peringatan Hari Ibu pada era awal kemerdekaan sarat dengan aksi sosial dan perjuangan. Salah satunya pada peringatan 25 tahun Hari Ibu di Solo, yang diisi dengan pasar amal untuk mendukung kesejahteraan buruh perempuan dan beasiswa bagi anak perempuan. Bahkan, rapat umum kala itu mengeluarkan resolusi mendesak pemerintah mengendalikan harga bahan pokok.
Pada dekade 1950-an, peringatan Hari Ibu kerap diwarnai pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan perempuan secara terbuka. Dalam periode ini pula, sejarah mencatat pengangkatan Maria Ulfah sebagai Menteri Sosial perempuan pertama Indonesia pada tahun 1950 oleh Presiden Soekarno.
Perjuangan perempuan juga diwujudkan melalui pembangunan monumen. Kongres Perempuan di Bandung tahun 1952 mengusulkan pembangunan Balai Srikandi, yang kemudian diresmikan pada 1956. Pada 1983, Presiden Soeharto meresmikan kompleks Mandala Bhakti Wanitatama di Yogyakarta sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia.
Kiprah perempuan Indonesia bahkan meluas hingga tingkat internasional. Pada tahun 1973, Kowani resmi menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW), yang berperan sebagai badan konsultatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Seiring waktu, makna peringatan Hari Ibu mengalami pergeseran. Saat ini, Hari Ibu lebih sering dimaknai sebagai ungkapan kasih sayang dan penghargaan terhadap peran ibu dalam keluarga, seperti pemberian hadiah, bunga, hingga pembebasan dari tugas domestik sehari-hari.
(nnz)
Lihat Juga :