Kemenag Rilis Indeks PAI 2025, Fokus Ukur Kompetensi Guru dan Siswa SD
Selasa, 30 Desember 2025 - 20:50 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan asesmen terhadap peserta didik SD difokuskan pada siswa kelas V. Survei dilakukan dengan metode sampel tingkat kepercayaan 95 persen, melibatkan 13.582 siswa dari total populasi nasional 23.836.575 siswa dan 3.251.617 siswa kelas 5 SD.
Hasil asesmen siswa menunjukkan pemahaman pada Aspek kognitif pemahaman ajaran dasar agama indikator terlemah adalah memahami rukun iman (57.43); indikator terkuat adalah memahami ihsan (74.15).
Untuk Aspek psikomotorik, pengamalan ibadah ritual indikator terlemah pada mendaras Al-Quran (77.46); indikator terkuat adalah berdoa (81.55). Aspek psikomotorik pengamalan ibadah sosial indikator terlemah pada shalat berjamaah (80.69); indikator terkuat adalah memberikan sebagian harta (infak dan sedekah) (87.26).
Selanjutnya, Aspek afektif sikap sosial indikator terendah pada sikap kesetaraan (64.03); indikator terkuat adalah kerjasama (82.60). Aspek afektif sikap terhadap lingkungan (alam, budaya, dan negara) indikator terendah pada sikap terhadap budaya (75.07); indikator terkuat adalah sikap terhadap alam (79.58).
Munir menambahkan, triangulasi kemampuan membaca Al Quran siswa dilakukan melalui pengujian langsung oleh 680 enumerator dan dinilai oleh guru serta pengawas PAI yang ditunjuk Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi. “Hasilnya, kategori mahir 3,2 persen, kategori madya 29,3 persen dan kategori pratama 67,5 persen,” terangnya.
“Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya karakter religiositas masyarakat Indonesia belum sepenuhnya ditopang oleh literasi dasar keagamaan yang memadai, khususnya kemampuan membaca kitab suci dan pemahaman ajaran dasar agama,” tandasnya.
Dia menegaskan pentingnya pengukuran keberhasilan pendidikan agama melalui pendekatan pedagogis yang spesifik.
“Keberhasilan pendidikan agama di sekolah tidak cukup diukur melalui indikator keberagamaan sosial semata, tetapi harus dilihat dari capaian pembelajaran peserta didik dan kompetensi guru,” ujar Munir.
Hasil asesmen siswa menunjukkan pemahaman pada Aspek kognitif pemahaman ajaran dasar agama indikator terlemah adalah memahami rukun iman (57.43); indikator terkuat adalah memahami ihsan (74.15).
Untuk Aspek psikomotorik, pengamalan ibadah ritual indikator terlemah pada mendaras Al-Quran (77.46); indikator terkuat adalah berdoa (81.55). Aspek psikomotorik pengamalan ibadah sosial indikator terlemah pada shalat berjamaah (80.69); indikator terkuat adalah memberikan sebagian harta (infak dan sedekah) (87.26).
Selanjutnya, Aspek afektif sikap sosial indikator terendah pada sikap kesetaraan (64.03); indikator terkuat adalah kerjasama (82.60). Aspek afektif sikap terhadap lingkungan (alam, budaya, dan negara) indikator terendah pada sikap terhadap budaya (75.07); indikator terkuat adalah sikap terhadap alam (79.58).
Munir menambahkan, triangulasi kemampuan membaca Al Quran siswa dilakukan melalui pengujian langsung oleh 680 enumerator dan dinilai oleh guru serta pengawas PAI yang ditunjuk Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi. “Hasilnya, kategori mahir 3,2 persen, kategori madya 29,3 persen dan kategori pratama 67,5 persen,” terangnya.
“Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya karakter religiositas masyarakat Indonesia belum sepenuhnya ditopang oleh literasi dasar keagamaan yang memadai, khususnya kemampuan membaca kitab suci dan pemahaman ajaran dasar agama,” tandasnya.
Dia menegaskan pentingnya pengukuran keberhasilan pendidikan agama melalui pendekatan pedagogis yang spesifik.
“Keberhasilan pendidikan agama di sekolah tidak cukup diukur melalui indikator keberagamaan sosial semata, tetapi harus dilihat dari capaian pembelajaran peserta didik dan kompetensi guru,” ujar Munir.
(nnz)
Lihat Juga :