Teknologi Turnitin Cegah Plagiarisme di Kalangan Siswa
Rabu, 16 September 2020 - 17:24 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Brazel, edukasi dengan cara mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang suatu kasus nyata plagiarsime seperti, “Apakah ini contoh plagiarisme? Mengapa atau mengapa tidak?" dan "Seberapa besar kemungkinan kemiripan ini adalah kebetulan?" membuat siswa dapat menyelidiki kasus dugaan plagiarisme sehingga berguna dalam membantu mereka memikirkan masalah tersebut secara mendalam. (Baca juga: Mendikbud: Kompetensi Guru untuk Kuasai Teknologi Menjadi Krusial )
“Ini mungkin tampak kecil, tetapi banyak siswa melaporkan bahwa mereka paham betul tentang apa yang diinginkan pengajar mereka dalam hal plagiarisme. Memberi mereka kesempatan untuk berperan sebagai penyidik di lingkungan tanpa konsekuensi dapat membantu mereka memahami sisi lain dari masalah tersebut dengan lebih baik,” ungkapnya.
Siswa, kata Brazel, bahkan sejak usia dini, sudah menyadari bahwa konsekuensi dunia nyata tidak selalu sejalan dengan apa yang seharusnya. “Misalnya, jika seorang novelis dituduh melakukan plagiarisme, tindakan apa yang harus dilakukan penerbitnya? Batalkan kontrak penerbitan? Perbaiki plagiarisme di edisi selanjutnya? Jawabannya sangat bergantung pada pandangan seseorang tentang plagiarisme dan sifat kasus itu sendiri.” terangnya.
Model dialog semacam ini tidak hanya membuat siswa berpikir tentang kompleksitas dalam menanggapi plagiarism, tetapi juga membantu guru untuk memahami seberapa serius (atau tidak serius) siswa mereka dalam merespon isu ini. (Baca juga: Logo Kampus Merdeka Diluncurkan, Sinergikan PT dan Dunia Kerja )
Mengajukan pertanyaan seperti "Apa yang Anda bayangkan akan terjadi jika ini terjadi di ruang kelas?" atau "Bagaimana ini akan diperlakukan berbeda jika X berbeda?" membuat siswa berpikir tentang berbagai hipotesis dapat membantu membingkai plagiarisme secara lebih luas.
Brazel juga menegaskan bahwa ini merupakan saat yang tepat untuk membahas perbedaan antara hak cipta dan plagiarisme. Pasalnya, di luar kelas, plagiarisme kerap kali menimbulkan masalah pelanggaran hak cipta yang mungkin perlu diwaspadai oleh siswa.
“Ini mungkin tampak kecil, tetapi banyak siswa melaporkan bahwa mereka paham betul tentang apa yang diinginkan pengajar mereka dalam hal plagiarisme. Memberi mereka kesempatan untuk berperan sebagai penyidik di lingkungan tanpa konsekuensi dapat membantu mereka memahami sisi lain dari masalah tersebut dengan lebih baik,” ungkapnya.
Siswa, kata Brazel, bahkan sejak usia dini, sudah menyadari bahwa konsekuensi dunia nyata tidak selalu sejalan dengan apa yang seharusnya. “Misalnya, jika seorang novelis dituduh melakukan plagiarisme, tindakan apa yang harus dilakukan penerbitnya? Batalkan kontrak penerbitan? Perbaiki plagiarisme di edisi selanjutnya? Jawabannya sangat bergantung pada pandangan seseorang tentang plagiarisme dan sifat kasus itu sendiri.” terangnya.
Model dialog semacam ini tidak hanya membuat siswa berpikir tentang kompleksitas dalam menanggapi plagiarism, tetapi juga membantu guru untuk memahami seberapa serius (atau tidak serius) siswa mereka dalam merespon isu ini. (Baca juga: Logo Kampus Merdeka Diluncurkan, Sinergikan PT dan Dunia Kerja )
Mengajukan pertanyaan seperti "Apa yang Anda bayangkan akan terjadi jika ini terjadi di ruang kelas?" atau "Bagaimana ini akan diperlakukan berbeda jika X berbeda?" membuat siswa berpikir tentang berbagai hipotesis dapat membantu membingkai plagiarisme secara lebih luas.
Brazel juga menegaskan bahwa ini merupakan saat yang tepat untuk membahas perbedaan antara hak cipta dan plagiarisme. Pasalnya, di luar kelas, plagiarisme kerap kali menimbulkan masalah pelanggaran hak cipta yang mungkin perlu diwaspadai oleh siswa.
Lihat Juga :