STTRII Kukuhkan Dua Guru Besar Bidang Teologi Sistematika Reformatoris dan Teologi Misi
Senin, 02 Februari 2026 - 16:29 WIB
loading...
A
A
A
Dalam orasinya yang berjudul “Masa Depan dan Potensi Teologi Reformed”, Pdt. Prof. Billy Kristanto, Dipl. Mus., Dr. phil., Dr. theol. mengawalinya dengan penekanan terhadap tugas teologi Reformed yang mengemban panggilan transformatif dengan menjadi teologi budaya transformasional, yakni teologi yang menafsirkan dan membentuk budaya, bukan sekadar membela doktrin tradisional secara isolatif.
Menurutnya, dengan melandaskan diri pada teologi kebangunan, masa depan teologi Reformed bukan terletak pada inovasi-inovasi yang paling mutakhir, melainkan pada komitmennya atas pembaruan rohani.
Sementara itu, orasi ilmiah Pdt. Prof. Dr. Stevri Lumintang, D.Th., Th.D., Ph.D. mengeksplorasi Tema Theologia Misi John Cavin dan Realisasinya pada Abad ke-16, serta Relevansinya dengan Reformed Injili Abad ke-21.
Studi mendalam mengenai tulisan-tulisannya dengan metode historis-theologis mengungkapkan bahwa Calvin memang tidak menulis khusus dogmatika misi. Akan tetapi, tema-tema misi Kristen yang mendasar dalam tulisan-tulisannya tersebut menunjukkan model misi Trinitas, misi Kerajaan Allah dalam dunia, misi gereja, tugas misionaris para rasul, misi holistik, dan misi inklusif kepada bangsa-bangsa.
Kepada media, Prof. Billy mengaku merasa terhormat mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar. Dia berharap tanggung jawab sebagai guru besar ini dapat menjadi berkat untuk masyarakat dan menjadi lebih peka dengan isu sosial yang terjadi, serta bagaimana mengaitkannya dengan refleksi teologis.
“Suatu tanggung jawab yang lebih besar, bisa lebih jadi berkat, bukan hanya untuk orang Kristen, tetapi juga bangsa Indonesia, masyarakat Kota Jakarta, dan beyond. Harapannya saya bisa lebih memacu diri untuk mengajar lebih baik, lebih berdedikasi, lebih peka dengan pergumulan masyarakat lalu bagaimana menjawabnya dari refleksi teologis,” katanya, Sabtu (31/1/2026).
Hal senada disampaikan oleh Prof Stevri yang memaknai pengukuhan guru besar sebagai amanah baru yang lebih berat. Dia menitikberatkan tanggung jawabnya kepada bangsa dan kemanusiaan ke depannya. Sebab, menurutnya, guru besar tak sekadar pencapaian belaka, tetapi merupakan titik awal.
“Menyandang guru besar itu suatu beban, karena masalah pertanggungjawaban apakah kita guru besar hanyalah seorang guru atau hanya membesar-besarkan diri? Beban ini harus dipertanggung jawabkan. Namun di sisi lain, ini merupakan kepercayaan, dari Tuhan, pemerintah, lembaga tempat saya mengajar, serta mahasiswa dan stakeholder di bidang pendidikan. Setelah ini kita mau berbuat apa untuk bangsa dan kemanusiaan,” tuturnya.
Dukung Lahirnya Guru Besar Baru
Menurutnya, dengan melandaskan diri pada teologi kebangunan, masa depan teologi Reformed bukan terletak pada inovasi-inovasi yang paling mutakhir, melainkan pada komitmennya atas pembaruan rohani.
Sementara itu, orasi ilmiah Pdt. Prof. Dr. Stevri Lumintang, D.Th., Th.D., Ph.D. mengeksplorasi Tema Theologia Misi John Cavin dan Realisasinya pada Abad ke-16, serta Relevansinya dengan Reformed Injili Abad ke-21.
Studi mendalam mengenai tulisan-tulisannya dengan metode historis-theologis mengungkapkan bahwa Calvin memang tidak menulis khusus dogmatika misi. Akan tetapi, tema-tema misi Kristen yang mendasar dalam tulisan-tulisannya tersebut menunjukkan model misi Trinitas, misi Kerajaan Allah dalam dunia, misi gereja, tugas misionaris para rasul, misi holistik, dan misi inklusif kepada bangsa-bangsa.
Kepada media, Prof. Billy mengaku merasa terhormat mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar. Dia berharap tanggung jawab sebagai guru besar ini dapat menjadi berkat untuk masyarakat dan menjadi lebih peka dengan isu sosial yang terjadi, serta bagaimana mengaitkannya dengan refleksi teologis.
“Suatu tanggung jawab yang lebih besar, bisa lebih jadi berkat, bukan hanya untuk orang Kristen, tetapi juga bangsa Indonesia, masyarakat Kota Jakarta, dan beyond. Harapannya saya bisa lebih memacu diri untuk mengajar lebih baik, lebih berdedikasi, lebih peka dengan pergumulan masyarakat lalu bagaimana menjawabnya dari refleksi teologis,” katanya, Sabtu (31/1/2026).
Hal senada disampaikan oleh Prof Stevri yang memaknai pengukuhan guru besar sebagai amanah baru yang lebih berat. Dia menitikberatkan tanggung jawabnya kepada bangsa dan kemanusiaan ke depannya. Sebab, menurutnya, guru besar tak sekadar pencapaian belaka, tetapi merupakan titik awal.
“Menyandang guru besar itu suatu beban, karena masalah pertanggungjawaban apakah kita guru besar hanyalah seorang guru atau hanya membesar-besarkan diri? Beban ini harus dipertanggung jawabkan. Namun di sisi lain, ini merupakan kepercayaan, dari Tuhan, pemerintah, lembaga tempat saya mengajar, serta mahasiswa dan stakeholder di bidang pendidikan. Setelah ini kita mau berbuat apa untuk bangsa dan kemanusiaan,” tuturnya.
Dukung Lahirnya Guru Besar Baru
Lihat Juga :