Kisah Audric Tsai dan SWA RoboKnights Tembus Kejuaraan Dunia Robotika
Kamis, 05 Februari 2026 - 18:47 WIB
loading...
A
A
A
Keunggulan Audric tampak pada penguasaan mekatronika, ketika mekanik, elektronik, dan pemrograman diperlakukan sebagai satu sistem utuh. Dalam situasi kritis, Audric mampu menyederhanakan desain tanpa mengorbankan presisi sehingga ia menjadi rujukan alami dalam tim.
Audric juga dikenal sebagai mentor yang baik bagi adik kelas, meluangkan waktu untuk menjelaskan proses dan membiasakan dokumentasi agar pengetahuan tidak berhenti pada satu tim atau satu musim.
Hasil perpaduan kepemimpinan, ketajaman teknis, dan semangat berbagi tercermin pada World Robot Olympiad International Final 2025 dimana Audric bersama SWA RoboKnights meraih tiga Gold Awards dan Start-Up Award melalui proyek LUMA (Language Using Mind & AI), sebuah komunikasi asistif bagi individu yang kehilangan kemampuan berbicara akibat ALS, stroke, atau kondisi neuromuskular lainnya.
LUMA menerjemahkan niat pengguna menjadi suara melalui kombinasi sinyal, pola input, dan interpretasi berbasis kecerdasan buatan, dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp10 juta, jauh lebih terjangkau dibandingkan teknologi antarmuka otak-komputer dan sistem pelacakan mata yang saat ini beredar di pasar dengan kisaran harga Rp150 juta hingga Rp210 juta.
Audric juga dikenal sebagai mentor yang baik bagi adik kelas, meluangkan waktu untuk menjelaskan proses dan membiasakan dokumentasi agar pengetahuan tidak berhenti pada satu tim atau satu musim.
Hasil perpaduan kepemimpinan, ketajaman teknis, dan semangat berbagi tercermin pada World Robot Olympiad International Final 2025 dimana Audric bersama SWA RoboKnights meraih tiga Gold Awards dan Start-Up Award melalui proyek LUMA (Language Using Mind & AI), sebuah komunikasi asistif bagi individu yang kehilangan kemampuan berbicara akibat ALS, stroke, atau kondisi neuromuskular lainnya.
LUMA menerjemahkan niat pengguna menjadi suara melalui kombinasi sinyal, pola input, dan interpretasi berbasis kecerdasan buatan, dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp10 juta, jauh lebih terjangkau dibandingkan teknologi antarmuka otak-komputer dan sistem pelacakan mata yang saat ini beredar di pasar dengan kisaran harga Rp150 juta hingga Rp210 juta.
(nnz)
Lihat Juga :