UNEJ Kukuhkan 4 Guru Besar, Jumlah Profesor Tembus 101 Orang
Jum'at, 13 Februari 2026 - 15:20 WIB
loading...
A
A
A
“Kita terus mendorong dosen untuk mencapai jabatan guru besar melalui beragam program, seperti hibah riset maupun insentif penulisan di jurnal bereputasi. Namun tentu saja kesemuanya dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku dan tidak sekedar memenuhi kuantitas,” tutur Iwan Taruna.
Selanjutnya rektor berharap keberadaan profesor baru memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, melalui pemikiran visionernya mampu menghasilkan beragam inovasi dan solusi permasalahan yang ada. Pencapaian jabatan guru besar bukan hanya prestasi pribadi, namun juga akan memperkokoh eksistensi UNEJ sebagai mercusuar keilmuan yang diharapkan turut memberikan solusi bagi permasalahan bangsa.
Acara pengukuhan guru besar kemudian dilanjutkan dengan orasi ilmiah yang diawali oleh Prof. Kiswara Agung Santoso dengan judul “Otentikasi Image Berbasis Magic Square Orde n”. Guru besar di Program Studi Matematika FMIPA ini menegaskan betapa matematika berperan besar dalam pengembangan komputasi, sehingga dunia digital bisa berkembang pesat seperti saat ini. Salah satunya melalui kajian bidang algoritma.
Menurut guru besar asli Malang ini, algoritma merupakan inti dari seluruh proses komputasi. Setiap sistem cerdas, perangkat lunak berskala besar, maupun teknologi mutakhir pada dasarnya bergantung pada kualitas algoritma yang dirancang di baliknya. Salah satu aplikasinya penggunaan magic square (persegi ajaib) orde n untuk memberikan otentifikasi sebuah citra.
Saat ini dengan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) maka umum ditemui saling mengirimkan dokumen berupa citra atau gambar semisal hasil scan ijazah dan sebagainya. Namun hasil scan tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab semisal dengan mengubah hasil scan tadi. Dengan sistem Magic Square Orde n maka dokumen atau citra tadi bisa diamankan, sekaligus bisa memeriksa apakah sebuah dokumen tadi otentik atau tidak.
“Keunggulan metode ini menggunakan teknik steganografi, sehingga memungkinkan penyisipan data yang tersembunyi tanpa mengubah kualitas visual citra secara signifikan sehingga dokumen atau citra tetap aman,” jelas Prof. Kiswara Agung Santoso.
Guru besar kedua yang tampil adalah Prof. Khairul Anam, dengan orasi ilmiah berjudul “Niat, Kecerdasan Buatan, dan Teknologi Asistif: Menuju Integrasi Manusia dan Mesin”. Orasi ilmiah ini berangkat dari kegelisahannya melihat kalangan difabel yang masih kesulitan menggunakan beragam peralatan asistif atau alat bantu yang awalnya diciptakan untuk membantu mobilitas. Penyebabnya semisal karena sistem antarmuka yang rumit, perintah yang kaku, serta kegagalan sistem. Semuanya sering kali justru menambah beban psikologis pengguna.
“Lantas muncul pertanyaan mendasar, bagaimana jika teknologi asistif tidak lagi menuntut manusia untuk beradaptasi, melainkan dirancang untuk mengikuti niat manusia itu sendiri ? Pertanyaan inilah yang menginspirasi riset saya selama sepuluh tahun terakhir,” ungkap guru besar kelahiran Buleleng Bali ini.
Pertanyaan tersebut lantas diwujudkan Prof. Khairul Anam dalam beragam karya, diantaranya kursi roda real-time yang bisa digerakkan dengan perintah verbal yang diproses menggunakan kecerdasan buatan. Tidak berhenti di inovasi kursi roda yang digerakkan melalui suara saja, dosen yang juga hafidz ini mengembangkan sistem kontrol berbasis niat dari sinyal otak atau electroencephalography (EEG). Pendekatan ini membuka peluang bagi pengguna dengan keterbatasan motorik yang sangat berat, yaitu niat tidak lagi diekspresikan melalui gerakan atau suara, tetapi langsung melalui aktivitas neural.
Selanjutnya tampil Prof. Evita Soliha Hani dengan orasinya berjudul “Bonus Demografi atau Krisis Petani? Telaah Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam Ketahanan Pangan Indonesia”. Prof. Evita mengingatkan hadirin bahwa Indonesia saat ini menghadapi krisis petani.
Selanjutnya rektor berharap keberadaan profesor baru memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, melalui pemikiran visionernya mampu menghasilkan beragam inovasi dan solusi permasalahan yang ada. Pencapaian jabatan guru besar bukan hanya prestasi pribadi, namun juga akan memperkokoh eksistensi UNEJ sebagai mercusuar keilmuan yang diharapkan turut memberikan solusi bagi permasalahan bangsa.
Acara pengukuhan guru besar kemudian dilanjutkan dengan orasi ilmiah yang diawali oleh Prof. Kiswara Agung Santoso dengan judul “Otentikasi Image Berbasis Magic Square Orde n”. Guru besar di Program Studi Matematika FMIPA ini menegaskan betapa matematika berperan besar dalam pengembangan komputasi, sehingga dunia digital bisa berkembang pesat seperti saat ini. Salah satunya melalui kajian bidang algoritma.
Menurut guru besar asli Malang ini, algoritma merupakan inti dari seluruh proses komputasi. Setiap sistem cerdas, perangkat lunak berskala besar, maupun teknologi mutakhir pada dasarnya bergantung pada kualitas algoritma yang dirancang di baliknya. Salah satu aplikasinya penggunaan magic square (persegi ajaib) orde n untuk memberikan otentifikasi sebuah citra.
Saat ini dengan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) maka umum ditemui saling mengirimkan dokumen berupa citra atau gambar semisal hasil scan ijazah dan sebagainya. Namun hasil scan tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab semisal dengan mengubah hasil scan tadi. Dengan sistem Magic Square Orde n maka dokumen atau citra tadi bisa diamankan, sekaligus bisa memeriksa apakah sebuah dokumen tadi otentik atau tidak.
“Keunggulan metode ini menggunakan teknik steganografi, sehingga memungkinkan penyisipan data yang tersembunyi tanpa mengubah kualitas visual citra secara signifikan sehingga dokumen atau citra tetap aman,” jelas Prof. Kiswara Agung Santoso.
Guru besar kedua yang tampil adalah Prof. Khairul Anam, dengan orasi ilmiah berjudul “Niat, Kecerdasan Buatan, dan Teknologi Asistif: Menuju Integrasi Manusia dan Mesin”. Orasi ilmiah ini berangkat dari kegelisahannya melihat kalangan difabel yang masih kesulitan menggunakan beragam peralatan asistif atau alat bantu yang awalnya diciptakan untuk membantu mobilitas. Penyebabnya semisal karena sistem antarmuka yang rumit, perintah yang kaku, serta kegagalan sistem. Semuanya sering kali justru menambah beban psikologis pengguna.
“Lantas muncul pertanyaan mendasar, bagaimana jika teknologi asistif tidak lagi menuntut manusia untuk beradaptasi, melainkan dirancang untuk mengikuti niat manusia itu sendiri ? Pertanyaan inilah yang menginspirasi riset saya selama sepuluh tahun terakhir,” ungkap guru besar kelahiran Buleleng Bali ini.
Pertanyaan tersebut lantas diwujudkan Prof. Khairul Anam dalam beragam karya, diantaranya kursi roda real-time yang bisa digerakkan dengan perintah verbal yang diproses menggunakan kecerdasan buatan. Tidak berhenti di inovasi kursi roda yang digerakkan melalui suara saja, dosen yang juga hafidz ini mengembangkan sistem kontrol berbasis niat dari sinyal otak atau electroencephalography (EEG). Pendekatan ini membuka peluang bagi pengguna dengan keterbatasan motorik yang sangat berat, yaitu niat tidak lagi diekspresikan melalui gerakan atau suara, tetapi langsung melalui aktivitas neural.
Selanjutnya tampil Prof. Evita Soliha Hani dengan orasinya berjudul “Bonus Demografi atau Krisis Petani? Telaah Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam Ketahanan Pangan Indonesia”. Prof. Evita mengingatkan hadirin bahwa Indonesia saat ini menghadapi krisis petani.
Lihat Juga :