UNEJ Kukuhkan 4 Guru Besar, Jumlah Profesor Tembus 101 Orang
Jum'at, 13 Februari 2026 - 15:20 WIB
loading...
A
A
A
Krisis ini tampak dari jumlah petani yang makin berkurang, jika tahun 2013 jumlahnya sebanyak 31,71 juta orang, namun di tahun 2023 berkurang menjadi 29,36 juta orang saja. Kedua, usia mayoritas petani Indonesia yang makin tua, data di tahun 2023 mayoritas usia petani kita di rentang usia 45-54 tahun dengan persentase sebesar 23,20 persen.
Komposisi petani yang makin sedikit dan makin tua ini tentu mempengaruhi performa pertanian Indonesia. Sebab petani yang menua cenderung menurunkan efisiensi teknis dan kapasitas produksi secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan, fisik petani yang semakin lemah seiring dengan tambahnya usia.
Sementara itu minat anak muda menjadi petani terus berkurang karena beranggapan dunia pertanian tidak memberikan kepastian pendapatan, risiko usaha yang tinggi, minimnya dukungan pemerintah dan penghargaan yang rendah.
“Solusinya, sektor pertanian harus menjadi sektor yang menarik dan mendapatkan insentif ekonomi dari pemerintah sehingga mampu menyerap sumber daya manusia yang produktif, terampil, serta adaptif terhadap perubahan teknologi. Petani sebagai aktor utama dalam penyedia pangan perlu diperhatikan lebih,” ungkap Prof. Evita Soliha Hani.
Rangkaian orasi ilmiah ditutup oleh Prof. Bambang Marhaenanto dengan orasi ilmiah berjudul “Implementasi Smart Greenhouse Pada Budidaya Sayuran Hidroponik”. Dalam paparannya, Guru besar yang piawai memainkan keyboards ini menawarkan sistem Smart Green House untuk pengembangan tanaman sayuran dengan pertanian hidroponik yang memanfaatkan air sebagai media tanam.
Implementasi teknologi Smart Greenhouse menjadi lompatan inovatif untuk mengoptimalkan potensi sistem hidroponik tersebut. Caranya melalui integrasi sensor berbasis Internet of Things (IoT), berbagai variabel kritis seperti suhu udara, kelembapan, intensitas cahaya, hingga nilai pH dan kepekatan nutrisi (EC) dapat dipantau serta dikendalikan secara otomatis.
“Penggunaan Smart Greenhouse menjadi jawaban permasalahan pangan global, khususnya kebutuhan sayuran berkualitas tinggi, seiring dengan pertumbuhan populasi dan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat yang membutuhkan bahan pangan berkualitas,” tuturnya.
Acara pengukuhan guru besar makin meriah dengan penampilan Rektor UNEJ yang turut nge-band bersama para profesor dari Fakultas Teknologi Pertanian, di antaranya Prof. Yuli Witono, Prof. I.B. Suryaningrat, Prof. Bayu Taruna dan tentu saja Prof. Bambang Marhaenanto yang dikukuhkan hari itu
Komposisi petani yang makin sedikit dan makin tua ini tentu mempengaruhi performa pertanian Indonesia. Sebab petani yang menua cenderung menurunkan efisiensi teknis dan kapasitas produksi secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan, fisik petani yang semakin lemah seiring dengan tambahnya usia.
Sementara itu minat anak muda menjadi petani terus berkurang karena beranggapan dunia pertanian tidak memberikan kepastian pendapatan, risiko usaha yang tinggi, minimnya dukungan pemerintah dan penghargaan yang rendah.
“Solusinya, sektor pertanian harus menjadi sektor yang menarik dan mendapatkan insentif ekonomi dari pemerintah sehingga mampu menyerap sumber daya manusia yang produktif, terampil, serta adaptif terhadap perubahan teknologi. Petani sebagai aktor utama dalam penyedia pangan perlu diperhatikan lebih,” ungkap Prof. Evita Soliha Hani.
Rangkaian orasi ilmiah ditutup oleh Prof. Bambang Marhaenanto dengan orasi ilmiah berjudul “Implementasi Smart Greenhouse Pada Budidaya Sayuran Hidroponik”. Dalam paparannya, Guru besar yang piawai memainkan keyboards ini menawarkan sistem Smart Green House untuk pengembangan tanaman sayuran dengan pertanian hidroponik yang memanfaatkan air sebagai media tanam.
Implementasi teknologi Smart Greenhouse menjadi lompatan inovatif untuk mengoptimalkan potensi sistem hidroponik tersebut. Caranya melalui integrasi sensor berbasis Internet of Things (IoT), berbagai variabel kritis seperti suhu udara, kelembapan, intensitas cahaya, hingga nilai pH dan kepekatan nutrisi (EC) dapat dipantau serta dikendalikan secara otomatis.
“Penggunaan Smart Greenhouse menjadi jawaban permasalahan pangan global, khususnya kebutuhan sayuran berkualitas tinggi, seiring dengan pertumbuhan populasi dan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat yang membutuhkan bahan pangan berkualitas,” tuturnya.
Acara pengukuhan guru besar makin meriah dengan penampilan Rektor UNEJ yang turut nge-band bersama para profesor dari Fakultas Teknologi Pertanian, di antaranya Prof. Yuli Witono, Prof. I.B. Suryaningrat, Prof. Bayu Taruna dan tentu saja Prof. Bambang Marhaenanto yang dikukuhkan hari itu
(nnz)
Lihat Juga :