Bukan Hanya Pangkat Akademik, Abdul Mu’ti Sebut Tiga Keteladanan yang Wajib Dimiliki Profesor
Selasa, 17 Februari 2026 - 08:10 WIB
loading...
A
A
A
Kehadiran ilmuwan, Ulul Albab, Ulul Abshor penting, memiliki visi jauh ke masa depan, dengan kualitas ilmunya bisa memandu umat, memandu masyarakat.
Dijelaskan, ilmu memiliki fungsi preskripsi, dengan ilmu seseorang bisa memproyeksi apa yang bakal terjadi dan bagaimana mengatasinya agar sesuatu itu tidak terjadi untuk memperkuat yang baik.
Menurut Mu’ti, kehadiran profesor tidaklah sekadar pangkat akademi, Profesor harus memiliki paling tidak 3 keteladanan.
Pertama keteladanan intelektual. Gelar Profesor sebuah capaian yang tidak mudah, karena itu para guru besar harus memiliki keteladanan intelektual sebagai seorang yang memiliki ilmu, mencintai ilmu dan menjunjung tinggi supremasi ilmu.
Kedua keteladanan sosial. Di Perguruan Tinggi sering disebut dengan berdampak, jadi tidak boleh orang yang berilmu, profesor hanya asyik dengan dirinya. Dia harus menjadi agent of change, menjadi agent of civilization, harus menjadi agen peradaban.
Ketiga keteladanan moral, harus menjadi agen moral spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru. “Guru besar itu di atasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar”, seloroh Mu’ti.
Terkait dengan keteladanan itu, Mu’ti berharap semua bisa memperkuat paling tidak dua kebenaran yang harus diperjuangkan bersama-sama.
Pertama kebenaran agama, kebenaran diniyah. Mu’ti memandang penting karena tantangannya tidak semakin ringan tapi semakin berat. Kebenaran agama yang membawa kepada keyakinan bahwa di tengah carut marut, agama menuntun kita dengan wahyu Illahi yang membuat kita yakin senantiasa berada pada jalan yang benar.
Kedua kebenaran aqliyah atau kebenaran ilmiyah. Dengan kekuatan ilmu memandu membantu masyarakat untuk maju. Inilah pentingnya para pendiri bangsa meletakkan dasar tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Saya yakin dengan tiga keteladanan dan dua kebenaran perjuangan itu kita semuanya semakin optimistis bahwa Indonesia ini akan semakin maju Indonesia akan semakin hebat ketika pendidikan Indonesia juga pendidikan maju dan berkualitas khususnya pendidikan dasar dan pendidikan menengah”, Mu’ti optimistis.
Mu’ti mengakhiri arahannya dengan pantun, “bunga mekar di pagi hari menghias indah taman kota, guru besar berilmu tinggi sang pencerah peradaban bangsa”.
Dijelaskan, ilmu memiliki fungsi preskripsi, dengan ilmu seseorang bisa memproyeksi apa yang bakal terjadi dan bagaimana mengatasinya agar sesuatu itu tidak terjadi untuk memperkuat yang baik.
Menurut Mu’ti, kehadiran profesor tidaklah sekadar pangkat akademi, Profesor harus memiliki paling tidak 3 keteladanan.
Pertama keteladanan intelektual. Gelar Profesor sebuah capaian yang tidak mudah, karena itu para guru besar harus memiliki keteladanan intelektual sebagai seorang yang memiliki ilmu, mencintai ilmu dan menjunjung tinggi supremasi ilmu.
Kedua keteladanan sosial. Di Perguruan Tinggi sering disebut dengan berdampak, jadi tidak boleh orang yang berilmu, profesor hanya asyik dengan dirinya. Dia harus menjadi agent of change, menjadi agent of civilization, harus menjadi agen peradaban.
Ketiga keteladanan moral, harus menjadi agen moral spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru. “Guru besar itu di atasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar”, seloroh Mu’ti.
Terkait dengan keteladanan itu, Mu’ti berharap semua bisa memperkuat paling tidak dua kebenaran yang harus diperjuangkan bersama-sama.
Pertama kebenaran agama, kebenaran diniyah. Mu’ti memandang penting karena tantangannya tidak semakin ringan tapi semakin berat. Kebenaran agama yang membawa kepada keyakinan bahwa di tengah carut marut, agama menuntun kita dengan wahyu Illahi yang membuat kita yakin senantiasa berada pada jalan yang benar.
Kedua kebenaran aqliyah atau kebenaran ilmiyah. Dengan kekuatan ilmu memandu membantu masyarakat untuk maju. Inilah pentingnya para pendiri bangsa meletakkan dasar tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Saya yakin dengan tiga keteladanan dan dua kebenaran perjuangan itu kita semuanya semakin optimistis bahwa Indonesia ini akan semakin maju Indonesia akan semakin hebat ketika pendidikan Indonesia juga pendidikan maju dan berkualitas khususnya pendidikan dasar dan pendidikan menengah”, Mu’ti optimistis.
Mu’ti mengakhiri arahannya dengan pantun, “bunga mekar di pagi hari menghias indah taman kota, guru besar berilmu tinggi sang pencerah peradaban bangsa”.
(nnz)
Lihat Juga :