Guru Besar UNEJ Rintis AI Ramah Disabilitas Berbasis Sinyal Otak
Jum'at, 27 Februari 2026 - 16:49 WIB
loading...
A
A
A
Pendekatan ini membuka peluang besar bagi penyandang disabilitas untuk mengendalikan perangkat bantu secara lebih alami dan adaptif.
Ketertarikan Prof. Anam pada teknologi asistif tidak semata-mata lahir dari ruang laboratorium, melainkan dari interaksi langsung dengan masyarakat. Salah satu momen paling membekas adalah perjumpaannya dengan seorang penyandang disabilitas bernama Pak Kusbandono.
“Beliau menyampaikan rasa haru karena merasa masih ada pihak yang peduli dan memikirkan kebutuhan mereka. Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa riset ini bukan sekedar persoalan teknis, melainkan menyangkut martabat dan harapan manusia,” ungkap Prof. Anam. Ia memegang teguh prinsip inklusivitas agar tidak ada satupun kelompok masyarakat yang tertinggal (no one left behind).
Selain pengembangan sistem kendali cerdas untuk teknologi asistif, Prof. Anam juga memperluas risetnya pada pengembangan robot terapi pascastroke untuk rehabilitasi tangan atas, serta sistem pengering kopi portabel berbasis AI dan Internet of Things (IoT) sebagai bagian dari penguatan teknologi tepat guna berbasis Industri 4.0.
Tantangan terbesar dalam bidang ini, menurutnya, adalah kompleksitas manusia itu sendiri. Sinyal biologis sangat dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor fisik maupun emosional. Di sisi lain, riset ini menuntut integrasi lintas disiplin, mulai dari teknik kontrol, kecerdasan buatan, ilmu saraf, kedokteran, keperawatan, hingga sosial humaniora dan etika.
Keunikan lain dari sosok Prof. Anam adalah rekam jejak akademik dan spiritualnya. Meski merupakan seorang pakar teknik, ia adalah seorang Hafidz Qur’an yang juga menempuh pendidikan Magister Studi Islam. Ia meyakini bahwa teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah kehidupan fisik, tetapi juga menguatkan nilai-nilai keagamaan.
Ketertarikan Prof. Anam pada teknologi asistif tidak semata-mata lahir dari ruang laboratorium, melainkan dari interaksi langsung dengan masyarakat. Salah satu momen paling membekas adalah perjumpaannya dengan seorang penyandang disabilitas bernama Pak Kusbandono.
“Beliau menyampaikan rasa haru karena merasa masih ada pihak yang peduli dan memikirkan kebutuhan mereka. Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa riset ini bukan sekedar persoalan teknis, melainkan menyangkut martabat dan harapan manusia,” ungkap Prof. Anam. Ia memegang teguh prinsip inklusivitas agar tidak ada satupun kelompok masyarakat yang tertinggal (no one left behind).
Selain pengembangan sistem kendali cerdas untuk teknologi asistif, Prof. Anam juga memperluas risetnya pada pengembangan robot terapi pascastroke untuk rehabilitasi tangan atas, serta sistem pengering kopi portabel berbasis AI dan Internet of Things (IoT) sebagai bagian dari penguatan teknologi tepat guna berbasis Industri 4.0.
Tantangan terbesar dalam bidang ini, menurutnya, adalah kompleksitas manusia itu sendiri. Sinyal biologis sangat dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor fisik maupun emosional. Di sisi lain, riset ini menuntut integrasi lintas disiplin, mulai dari teknik kontrol, kecerdasan buatan, ilmu saraf, kedokteran, keperawatan, hingga sosial humaniora dan etika.
Keunikan lain dari sosok Prof. Anam adalah rekam jejak akademik dan spiritualnya. Meski merupakan seorang pakar teknik, ia adalah seorang Hafidz Qur’an yang juga menempuh pendidikan Magister Studi Islam. Ia meyakini bahwa teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah kehidupan fisik, tetapi juga menguatkan nilai-nilai keagamaan.
Lihat Juga :