Kisah Rif’an, Anak Guru Ngaji yang Kini Kuliah S3 di Belanda Berkat Beasiswa LPDP
Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:08 WIB
loading...
A
A
A
Di semester akhir, Rif’an mendaftar menjadi mentor bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri. Program tersebut menyediakan tempat tinggal dan pelatihan, tetapi biaya hidup harus ditanggung sendiri.
Selama hampir sepuluh bulan, ia mengikuti program tersebut seraya menyelesaikan skripsi. Ia tetap selalu hidup hemat. Ia biasanya makan sekali sehari di sebuah warung sederhana yang menyediakan nasi dan mie dengan makan sepuasnya dengan harga sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000.
Di tempat itu pula kemampuan bahasa Inggrisnya meningkat pesat. Skor TOEFL yang sebelumnya berada di kisaran 456 akhirnya naik hingga sekitar 570. Namun untuk mengikuti tes TOEFL tersebut, Rif’an harus menghadapi kesulitan lain. Uang Rp1 juta yang ia bawa untuk membayar tes TOEFL justru dicopet saat turun dari bus di Kediri.
Dalam kondisi hampir tidak memiliki uang, teman-temannya di Pare kemudian patungan untuk membantunya bisa mendaftar hingga terkumpul sekitar Rp800 ribu. Dari jumlah itu, Rif’an akhirnya bisa membayar biaya tes TOEFL. “Teman-teman membantu dengan mengumpulkan uang. Dari situlah saya bisa ikut tes,” kenangnya.
Singkat cerita, hasil tes tersebut menjadi jalan baginya untuk lolos mendaftar beasiswa LPDP.
Pada Desember 2018, Rif’an berangkat ke Amerika Serikat untuk menempuh studi magister di Arizona State University. Saat keberangkatan itu, ibunya menyiapkan sesuatu yang sederhana namun sangat berarti, bekal kering tempe. Sepanjang hidupnya sebelumnya, Rif’an hampir tidak pernah mendapatkan bekal seperti itu dari rumah dan momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.
Bekal tersebut ia bawa dalam perjalanan panjang menuju Amerika. Setibanya di sana, ia dibantu komunitas mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia untuk mencari tempat tinggal dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Pandemi COVID-19 sempat mengubah rencana studinya. Setelah sekitar 15 bulan di Amerika, ia kembali ke Indonesia dan menyelesaikan program magisternya dari tanah air hingga lulus pada 2020.
Sepulang dari Amerika, Rif’an sempat bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan kini diterima a menjadi dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Namun perjalanan akademiknya belum berhenti. Pada 2024, ia kembali meraih beasiswa LPDP dan melanjutkan studi doktoral di Wageningen University & Research di Belanda dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
Bagi Rif’an, perjalanan akademik yang ia tempuh bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk kembali memberi kontribusi bagi masyarakat. “Kalau boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, saya selalu percaya satu hal: Gusti mboten sare—Tuhan tidak pernah tidur,” kata Rif’an.
Selama hampir sepuluh bulan, ia mengikuti program tersebut seraya menyelesaikan skripsi. Ia tetap selalu hidup hemat. Ia biasanya makan sekali sehari di sebuah warung sederhana yang menyediakan nasi dan mie dengan makan sepuasnya dengan harga sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000.
Di tempat itu pula kemampuan bahasa Inggrisnya meningkat pesat. Skor TOEFL yang sebelumnya berada di kisaran 456 akhirnya naik hingga sekitar 570. Namun untuk mengikuti tes TOEFL tersebut, Rif’an harus menghadapi kesulitan lain. Uang Rp1 juta yang ia bawa untuk membayar tes TOEFL justru dicopet saat turun dari bus di Kediri.
Dalam kondisi hampir tidak memiliki uang, teman-temannya di Pare kemudian patungan untuk membantunya bisa mendaftar hingga terkumpul sekitar Rp800 ribu. Dari jumlah itu, Rif’an akhirnya bisa membayar biaya tes TOEFL. “Teman-teman membantu dengan mengumpulkan uang. Dari situlah saya bisa ikut tes,” kenangnya.
Singkat cerita, hasil tes tersebut menjadi jalan baginya untuk lolos mendaftar beasiswa LPDP.
Bekal Kering Tempe dari Sang Ibu
Pada Desember 2018, Rif’an berangkat ke Amerika Serikat untuk menempuh studi magister di Arizona State University. Saat keberangkatan itu, ibunya menyiapkan sesuatu yang sederhana namun sangat berarti, bekal kering tempe. Sepanjang hidupnya sebelumnya, Rif’an hampir tidak pernah mendapatkan bekal seperti itu dari rumah dan momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.
Bekal tersebut ia bawa dalam perjalanan panjang menuju Amerika. Setibanya di sana, ia dibantu komunitas mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia untuk mencari tempat tinggal dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Pandemi COVID-19 sempat mengubah rencana studinya. Setelah sekitar 15 bulan di Amerika, ia kembali ke Indonesia dan menyelesaikan program magisternya dari tanah air hingga lulus pada 2020.
Melanjutkan Doktoral
Sepulang dari Amerika, Rif’an sempat bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan kini diterima a menjadi dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Namun perjalanan akademiknya belum berhenti. Pada 2024, ia kembali meraih beasiswa LPDP dan melanjutkan studi doktoral di Wageningen University & Research di Belanda dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
Bagi Rif’an, perjalanan akademik yang ia tempuh bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk kembali memberi kontribusi bagi masyarakat. “Kalau boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, saya selalu percaya satu hal: Gusti mboten sare—Tuhan tidak pernah tidur,” kata Rif’an.
(nnz)
Lihat Juga :