Kisah Rif’an, Anak Guru Ngaji yang Kini Kuliah S3 di Belanda Berkat Beasiswa LPDP
Sabtu, 14 Maret 2026 - 13:08 WIB
loading...
A
A
A
Penolakan dari keluarganya juga tidak berhenti sampai di situ. Dalam beberapa waktu, Rif’an bahkan merasa seolah kehilangan dukungan dari keluarganya sendiri karena keputusannya untuk tetap menempuh pendidikan di bangku kuliah.
Hari-hari awal kuliah di Fakultas Geografi UGM pada tahun 2012, bukanlah masa yang mudah bagi Rif’an. Tanpa dukungan finansial yang cukup dari keluarga, ia harus mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup sebagai mahasiswa. Beruntunglah ia mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang dapat membantunya menyokong kehidupan sehari-harinya hingga lulus kuliah.
Ia aktif di berbagai organisasi kampus. Bagi sebagian mahasiswa, organisasi menjadi ruang belajar dan berjejaring. Namun Rif’an punya alasan lain yang lebih sederhana, setidaknya ia bisa ikut makan saat ada kegiatan kepanitiaan di organisasi. “Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi,” kenangnya sambil tersenyum, dikutip dari laman UGM, Sabtu (14/3/2026).
Dalam kondisi tertentu, ia harus sangat berhemat untuk sekadar makan. Jika benar-benar lapar, ia mencari warung paling murah di sekitar kampus. Dengan sekitar uang saku Rp4.000, ia biasanya hanya membeli nasi, sayur, dan satu gorengan. “Yang penting makan,” katanya.
Pada masa itu Rif’an bahkan tidak memiliki komputer untuk mengerjakan tugas kuliah. Ia tidak hilang akal, memilih bekerja di sebuah warnet agar bisa mendapatkan gaji sekaligus menggunakan komputer di warnet.
Suatu hari ia memberanikan diri menemui Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan di Fakultas Geografi dan menceritakan alasannya memilih bekerja paruh waktu di warnet, di tengah segala stigma tentang mahasiswa yang bekerja di Warnet pasti akan lulus lama. Setelah mendengar ceritanya, sang dosen memberikan komputer bekas miliknya secara pribadi agar Rif’an dapat mengerjakan tugas dengan lebih mudah.
Perubahan besar dalam hidup Rif’an datang pada 2014 ketika ia diterima di program asrama pembinaan kepemimpinan yang kini dikenal sebagai Rumah Kepemimpinan. Program tersebut menyediakan tempat tinggal sekaligus uang saku bulanan sekitar Rp500 ribu. Bantuan itu menjadi titik balik penting dalam kehidupannya.
Untuk pertama kalinya ia bisa menabung dan mulai memikirkan masa depan. Dari tabungan itu pula, ia merasakan pengalaman pertama bepergian ke luar negeri saat mengikuti perjalanan singkat ke Kuala Lumpur bersama teman-teman asrama.
Meski demikian, hubungan dengan keluarganya masih terasa berjarak. Dalam satu kesempatan, ia mencoba mengajak keluarganya makan di luar menggunakan uang hadiah dari lomba yang ia menangkan. Namun ayahnya memilih tidak datang.
“Sepanjang hidup saya sebelumnya, kami belum pernah makan di luar bersama, dan ini untuk pertama kalinya saya mengajak keluarga saya makan di luar. Saya ajak makan di sate kambing Pak Pong,” kenangnya.
Bertahan Hidup sebagai Mahasiswa
Hari-hari awal kuliah di Fakultas Geografi UGM pada tahun 2012, bukanlah masa yang mudah bagi Rif’an. Tanpa dukungan finansial yang cukup dari keluarga, ia harus mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup sebagai mahasiswa. Beruntunglah ia mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang dapat membantunya menyokong kehidupan sehari-harinya hingga lulus kuliah.
Ia aktif di berbagai organisasi kampus. Bagi sebagian mahasiswa, organisasi menjadi ruang belajar dan berjejaring. Namun Rif’an punya alasan lain yang lebih sederhana, setidaknya ia bisa ikut makan saat ada kegiatan kepanitiaan di organisasi. “Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi,” kenangnya sambil tersenyum, dikutip dari laman UGM, Sabtu (14/3/2026).
Dalam kondisi tertentu, ia harus sangat berhemat untuk sekadar makan. Jika benar-benar lapar, ia mencari warung paling murah di sekitar kampus. Dengan sekitar uang saku Rp4.000, ia biasanya hanya membeli nasi, sayur, dan satu gorengan. “Yang penting makan,” katanya.
Pada masa itu Rif’an bahkan tidak memiliki komputer untuk mengerjakan tugas kuliah. Ia tidak hilang akal, memilih bekerja di sebuah warnet agar bisa mendapatkan gaji sekaligus menggunakan komputer di warnet.
Suatu hari ia memberanikan diri menemui Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan di Fakultas Geografi dan menceritakan alasannya memilih bekerja paruh waktu di warnet, di tengah segala stigma tentang mahasiswa yang bekerja di Warnet pasti akan lulus lama. Setelah mendengar ceritanya, sang dosen memberikan komputer bekas miliknya secara pribadi agar Rif’an dapat mengerjakan tugas dengan lebih mudah.
Titik Balik
Perubahan besar dalam hidup Rif’an datang pada 2014 ketika ia diterima di program asrama pembinaan kepemimpinan yang kini dikenal sebagai Rumah Kepemimpinan. Program tersebut menyediakan tempat tinggal sekaligus uang saku bulanan sekitar Rp500 ribu. Bantuan itu menjadi titik balik penting dalam kehidupannya.
Untuk pertama kalinya ia bisa menabung dan mulai memikirkan masa depan. Dari tabungan itu pula, ia merasakan pengalaman pertama bepergian ke luar negeri saat mengikuti perjalanan singkat ke Kuala Lumpur bersama teman-teman asrama.
Meski demikian, hubungan dengan keluarganya masih terasa berjarak. Dalam satu kesempatan, ia mencoba mengajak keluarganya makan di luar menggunakan uang hadiah dari lomba yang ia menangkan. Namun ayahnya memilih tidak datang.
“Sepanjang hidup saya sebelumnya, kami belum pernah makan di luar bersama, dan ini untuk pertama kalinya saya mengajak keluarga saya makan di luar. Saya ajak makan di sate kambing Pak Pong,” kenangnya.
Lihat Juga :