Pesona Tiga Kembar Mentari School: dari Podium Debat Internasional hingga Panggung Model Dunia
Sabtu, 09 Mei 2026 - 22:47 WIB
loading...
Tiga kembar Eiffel Paris Leonardi, Celine Alexandria Leonardi dan Bianca Milan Leonardi usai opening talk di konferensi The Cornerstone pada Sabtu, (9/5/2026) Jakarta.
A
A
A
JAKARTA - Kehadiran Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah ke berbagai sendi kehidupan, bahkan mulai mengambil alih peran-peran yang selama ini dilakukan manusia. Fenomena "AI taking over society" ini memicu kekhawatiran akan tumpulnya kemandirian masyarakat jika tidak disikapi dengan bijak.
Dalam gelaran konferensi The Cornerstone pada Sabtu, (9/5/2026) di Swasana Lippo Kuningan Grand Ballroom isu ini menjadi diskusi hangat dan kritis dari lintas generasi, termasuk pelajar. Acara yang diinisiasi oleh EduALL berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar ini mempertemukan pelajar lintas daerah dengan para pakar dan tokoh profesional. Mengusung tema besar “AI & The Future We Are Building”, forum berlangsung hangat dan menjadi ruang dialog kritis lintas generasi.
Salah satunya adalah tiga anak kembar dari Sekolah Mentari Intercultural School Jakarta grade 9, yakni Eiffel Paris Leonardi, Bianca Milan Leonardi dan Celine Alexandria Leonardi. Eiffel dan Bianca turut menyuguhkan gagasan konstruktifnya melalui opening talk. Sementara Alexa, turut aktif dalam penyelenggaraan acara akbar yang dihadiri ribuan peserta ini.
Eiffel melalui opening talk-nya dengan mengangkat topik Re-imagine education in the era of AI mengungkapkan bahwa meski AI menawarkan efisiensi tinggi, ada harga mahal yang harus dibayar jika teknologi ini digunakan tanpa porsi yang tepat. Menurutnya, penggunaan AI yang berlebihan dapat mengubah cara manusia berpikir, berbicara, hingga bersosialisasi.
“AI sangat mempengaruhi cara kita berpikir dan bersosialisasi. Jika kita tidak tahu cara belajar dan berinteraksi tanpa bantuan AI, kita akan terus bergantung dan tidak akan pernah menjadi masyarakat yang independen,” ujar Eiffel dalam sebuah sesi wawancara.
Sebagai seorang pelajar, Eiffel tidak menampik bahwa AI adalah peluang besar untuk berkembang. Namun, ia menyayangkan tren di kalangan generasi muda yang cenderung menggunakan AI secara instan dengan slogan "dikit-dikit AI" (DDA).
Ia menekankan bahwa banyak pelajar yang belum memahami cara menggunakan AI secara efisien. Bukannya menjadi alat bantu, AI justru sering dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa melewati proses berpikir yang mendalam.
“Dalam belajar harus ada struggle, usaha, dan kemandirian. Jangan mengikuti arus orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah dan instan. Kita butuh kerja keras untuk benar-benar memahami sesuatu,” tegasnya.
Eiffel menyoroti bahwa kepuasan mendapatkan jawaban dalam satu atau dua detik melalui AI justru menghambat proses pembelajaran yang sesungguhnya. Menurutnya, jika seseorang selalu mengambil cara instan, maka pada dasarnya ia tidak mempelajari apa pun.
“Kita jangan hanya mencari jawaban yang instan. Harus ada prosesnya, langkah-langkahnya, dan usaha. AI itu hadir untuk membantu, bukan untuk menyelesaikan seluruh persoalan kita,” tambahnya.
Sebagai solusi, Eiffel menawarkan metode kombinasi. Ia sendiri menggunakan AI hanya sebagai teman diskusi atau pemberi panduan (guideline) dalam tahap pencarian ide (brainstorming). Selebihnya, pengerjaan tetap mengandalkan kemampuan diri sendiri agar ketajaman berpikir tetap terjaga.
Pesan utama yang ingin disampaikan Eiffel kepada masyarakat, khususnya generasi muda, adalah pentingnya menjadi diri sendiri dan tidak menggantungkan nasib sepenuhnya pada teknologi.
![Pesona Tiga Kembar Mentari School: dari Podium Debat Internasional hingga Panggung Model Dunia]()
“Di dunia ini, pada akhirnya kamu hanya bisa bergantung pada diri sendiri. Gunakan AI sesuai porsinya, dan tetaplah berproses dengan kerja keras,” ucap Eiffel.
Di tengah euforia global terhadap AI, suara kritis muncul mengenai adanya ketimpangan tajam antara negara maju dan negara berkembang. Bianca melalui topik AI and Environmental responsibility, mengungkapkan bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan AI, terdapat beban ekologi yang tidak sebanding yang harus dipikul oleh negara-negara penyedia sumber daya.
Menurut Bianca, AI saat ini telah menciptakan jurang manfaat ekonomi yang lebar. Di negara-negara maju, implementasi AI mampu mendatangkan keuntungan finansial yang sangat besar melalui efisiensi industri dan inovasi digital. Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh negara berkembang.
Bianca menyoroti bahwa negara berkembang sering kali hanya diposisikan sebagai penyedia bahan mentah. Salah satu contoh nyata adalah kebutuhan nikel sebagai material penting dalam mendukung ekosistem perangkat keras AI.
"Negara berkembang yang notabenenya penyedia bahan mentah seperti nikel untuk material AI, justru harus menanggung risiko ekologi yang besar," ungkap Bianca. Ia menekankan bahwa eksploitasi sumber daya alam demi menyokong teknologi global tersebut meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang nyata di wilayah-wilayah penambangan.
Meskipun memberikan kritik tajam, Bianca tidak menyarankan agar penggunaan AI dihentikan sepenuhnya, melainkan mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan untuk lebih waspada dan selektif.
“Kita harus bijak dalam menggunakan AI. Bukan berarti tidak digunakan sama sekali, tetapi kita harus mampu memilah dan memilih mana yang benar-benar memberikan manfaat nyata,” tegasnya.
Hal senada dikatakan Alexa yang turut berkontribusi dalam konferensi tersebut.Di sela-sela acara ia berpesan mengenai pentingnya kesadaran kolektif bahwa setiap klik dan proses AI yang kita gunakan di satu sisi, memiliki dampak fisik dan lingkungan di sisi lain. Kebijakan dalam penggunaan teknologi menjadi kunci agar kemajuan digital tidak dibayar dengan kerusakan alam yang permanen.
Mental Sebagai Kunci Utama
Keberanian menyampaikan gagasan di hadapan publik bukan lagi hal asing bagi tiga saudara kembar putri dari pasangan pengusaha Sylvi Hidayana dan Wicky Leonardi. Di usia yang tergolong muda, ketiganya telah mengukir prestasi dengan kerap tampil dalam berbagai ajang debat dan acara berskala internasional.
Ketiga putri kembar ini juga dikenal piawai dalam berargumen dan menguasai panggung di depan audiens mancanegara. Kemampuan mereka dalam mengolah gagasan dan membedah isu-isu global menjadikannya sosok remaja yang vokal dan inspiratif.
Salah satu dari tiga kembar tersebut, Bianca, membagikan rahasia di balik keberanian mereka tampil di muka umum. Menurutnya, kepiawaian berbicara tidak datang secara instan, melainkan melalui persiapan yang matang dan latihan yang konsisten.
"Kunci untuk tampil di muka umum adalah mempersiapkan materi dengan matang, terus berlatih, dan belajar menguasai forum," ujar Bianca.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa aspek psikologis memegang peranan paling krusial saat berdiri di podium. "Yang paling penting tampil di muka umum adalah mental. Kita harus menyiapkan mental dengan baik sebelum menghadapi audiens," tambahnya.
Lebarkan Sayap ke Dunia Modeling
Tidak hanya cemerlang di jalur akademik dan debat, Alexa baru-baru ini juga membuktikan talenta di bidang lifestyle. Ia berhasil memenangkan kompetisi "JCM Model Scout 2026", sebuah pencapaian yang membawanya masuk ke dunia profesional.
Atas kemenangan tersebut, Alexa resmi mendapatkan kontrak dengan agensi ternama "Caption Model". Tak hanya itu, ia juga memperoleh beasiswa pendidikan di sekolah pemodelan bergengsi, "Top Model District", guna mengasah bakatnya lebih dalam.
Keberhasilan tiga saudara kembar ini menunjukkan bahwa kombinasi antara kecerdasan intelektual, ketahanan mental, dan kemauan untuk terus belajar mampu membuka pintu peluang di berbagai bidang, baik di podium debat maupun di panggung peragaan busana.
Dalam gelaran konferensi The Cornerstone pada Sabtu, (9/5/2026) di Swasana Lippo Kuningan Grand Ballroom isu ini menjadi diskusi hangat dan kritis dari lintas generasi, termasuk pelajar. Acara yang diinisiasi oleh EduALL berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar ini mempertemukan pelajar lintas daerah dengan para pakar dan tokoh profesional. Mengusung tema besar “AI & The Future We Are Building”, forum berlangsung hangat dan menjadi ruang dialog kritis lintas generasi.
Salah satunya adalah tiga anak kembar dari Sekolah Mentari Intercultural School Jakarta grade 9, yakni Eiffel Paris Leonardi, Bianca Milan Leonardi dan Celine Alexandria Leonardi. Eiffel dan Bianca turut menyuguhkan gagasan konstruktifnya melalui opening talk. Sementara Alexa, turut aktif dalam penyelenggaraan acara akbar yang dihadiri ribuan peserta ini.
Eiffel melalui opening talk-nya dengan mengangkat topik Re-imagine education in the era of AI mengungkapkan bahwa meski AI menawarkan efisiensi tinggi, ada harga mahal yang harus dibayar jika teknologi ini digunakan tanpa porsi yang tepat. Menurutnya, penggunaan AI yang berlebihan dapat mengubah cara manusia berpikir, berbicara, hingga bersosialisasi.
“AI sangat mempengaruhi cara kita berpikir dan bersosialisasi. Jika kita tidak tahu cara belajar dan berinteraksi tanpa bantuan AI, kita akan terus bergantung dan tidak akan pernah menjadi masyarakat yang independen,” ujar Eiffel dalam sebuah sesi wawancara.
Sebagai seorang pelajar, Eiffel tidak menampik bahwa AI adalah peluang besar untuk berkembang. Namun, ia menyayangkan tren di kalangan generasi muda yang cenderung menggunakan AI secara instan dengan slogan "dikit-dikit AI" (DDA).
Ia menekankan bahwa banyak pelajar yang belum memahami cara menggunakan AI secara efisien. Bukannya menjadi alat bantu, AI justru sering dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa melewati proses berpikir yang mendalam.
“Dalam belajar harus ada struggle, usaha, dan kemandirian. Jangan mengikuti arus orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah dan instan. Kita butuh kerja keras untuk benar-benar memahami sesuatu,” tegasnya.
Eiffel menyoroti bahwa kepuasan mendapatkan jawaban dalam satu atau dua detik melalui AI justru menghambat proses pembelajaran yang sesungguhnya. Menurutnya, jika seseorang selalu mengambil cara instan, maka pada dasarnya ia tidak mempelajari apa pun.
“Kita jangan hanya mencari jawaban yang instan. Harus ada prosesnya, langkah-langkahnya, dan usaha. AI itu hadir untuk membantu, bukan untuk menyelesaikan seluruh persoalan kita,” tambahnya.
Sebagai solusi, Eiffel menawarkan metode kombinasi. Ia sendiri menggunakan AI hanya sebagai teman diskusi atau pemberi panduan (guideline) dalam tahap pencarian ide (brainstorming). Selebihnya, pengerjaan tetap mengandalkan kemampuan diri sendiri agar ketajaman berpikir tetap terjaga.
Pesan utama yang ingin disampaikan Eiffel kepada masyarakat, khususnya generasi muda, adalah pentingnya menjadi diri sendiri dan tidak menggantungkan nasib sepenuhnya pada teknologi.
.jpg)
“Di dunia ini, pada akhirnya kamu hanya bisa bergantung pada diri sendiri. Gunakan AI sesuai porsinya, dan tetaplah berproses dengan kerja keras,” ucap Eiffel.
Di tengah euforia global terhadap AI, suara kritis muncul mengenai adanya ketimpangan tajam antara negara maju dan negara berkembang. Bianca melalui topik AI and Environmental responsibility, mengungkapkan bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan AI, terdapat beban ekologi yang tidak sebanding yang harus dipikul oleh negara-negara penyedia sumber daya.
Menurut Bianca, AI saat ini telah menciptakan jurang manfaat ekonomi yang lebar. Di negara-negara maju, implementasi AI mampu mendatangkan keuntungan finansial yang sangat besar melalui efisiensi industri dan inovasi digital. Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh negara berkembang.
Bianca menyoroti bahwa negara berkembang sering kali hanya diposisikan sebagai penyedia bahan mentah. Salah satu contoh nyata adalah kebutuhan nikel sebagai material penting dalam mendukung ekosistem perangkat keras AI.
"Negara berkembang yang notabenenya penyedia bahan mentah seperti nikel untuk material AI, justru harus menanggung risiko ekologi yang besar," ungkap Bianca. Ia menekankan bahwa eksploitasi sumber daya alam demi menyokong teknologi global tersebut meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang nyata di wilayah-wilayah penambangan.
Meskipun memberikan kritik tajam, Bianca tidak menyarankan agar penggunaan AI dihentikan sepenuhnya, melainkan mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan untuk lebih waspada dan selektif.
“Kita harus bijak dalam menggunakan AI. Bukan berarti tidak digunakan sama sekali, tetapi kita harus mampu memilah dan memilih mana yang benar-benar memberikan manfaat nyata,” tegasnya.
Hal senada dikatakan Alexa yang turut berkontribusi dalam konferensi tersebut.Di sela-sela acara ia berpesan mengenai pentingnya kesadaran kolektif bahwa setiap klik dan proses AI yang kita gunakan di satu sisi, memiliki dampak fisik dan lingkungan di sisi lain. Kebijakan dalam penggunaan teknologi menjadi kunci agar kemajuan digital tidak dibayar dengan kerusakan alam yang permanen.
Mental Sebagai Kunci Utama
Keberanian menyampaikan gagasan di hadapan publik bukan lagi hal asing bagi tiga saudara kembar putri dari pasangan pengusaha Sylvi Hidayana dan Wicky Leonardi. Di usia yang tergolong muda, ketiganya telah mengukir prestasi dengan kerap tampil dalam berbagai ajang debat dan acara berskala internasional.
Ketiga putri kembar ini juga dikenal piawai dalam berargumen dan menguasai panggung di depan audiens mancanegara. Kemampuan mereka dalam mengolah gagasan dan membedah isu-isu global menjadikannya sosok remaja yang vokal dan inspiratif.
Salah satu dari tiga kembar tersebut, Bianca, membagikan rahasia di balik keberanian mereka tampil di muka umum. Menurutnya, kepiawaian berbicara tidak datang secara instan, melainkan melalui persiapan yang matang dan latihan yang konsisten.
"Kunci untuk tampil di muka umum adalah mempersiapkan materi dengan matang, terus berlatih, dan belajar menguasai forum," ujar Bianca.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa aspek psikologis memegang peranan paling krusial saat berdiri di podium. "Yang paling penting tampil di muka umum adalah mental. Kita harus menyiapkan mental dengan baik sebelum menghadapi audiens," tambahnya.
Lebarkan Sayap ke Dunia Modeling
Tidak hanya cemerlang di jalur akademik dan debat, Alexa baru-baru ini juga membuktikan talenta di bidang lifestyle. Ia berhasil memenangkan kompetisi "JCM Model Scout 2026", sebuah pencapaian yang membawanya masuk ke dunia profesional.
Atas kemenangan tersebut, Alexa resmi mendapatkan kontrak dengan agensi ternama "Caption Model". Tak hanya itu, ia juga memperoleh beasiswa pendidikan di sekolah pemodelan bergengsi, "Top Model District", guna mengasah bakatnya lebih dalam.
Keberhasilan tiga saudara kembar ini menunjukkan bahwa kombinasi antara kecerdasan intelektual, ketahanan mental, dan kemauan untuk terus belajar mampu membuka pintu peluang di berbagai bidang, baik di podium debat maupun di panggung peragaan busana.
(unt)
Lihat Juga :