Ngkaji Pendidikan di Jogja: Ketika Pendidikan Lupa Memahami Manusia
Selasa, 12 Mei 2026 - 11:47 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Rizal, pendidikan hari ini terlalu sering melatih sistem pertama: hafalan, pengulangan, jawaban tunggal, serta kepatuhan tanpa refleksi. Akibatnya, manusia terbiasa menjawab cepat, tetapi tidak terbiasa memahami pikirannya sendiri. “Padahal, masa depan pendidikan seharusnya adalah melatih kesadaran,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan Rizal dalam forum tersebut.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Rizal memperkenalkan konsep “Saklar Kognitif”, yakni kemampuan manusia untuk mengamati pikirannya sendiri atau metakognisi. Konsep itu dijelaskan melalui tiga tahap.
Pertama, Interrupt (menghentikan respons otomatis). Kedua, Observe (mengamati proses berpikir sendiri). Ketiga, Reconstruct (memperbarui cara berpikir dan bertindak secara sadar). Dalam forum tersebut, konsep itu tidak diposisikan sekadar sebagai metode belajar, melainkan sebagai fondasi kesadaran manusia. Baca juga:
Ngkaji Pendidikan GSM Sebut Pendidikan Kehilangan Fondasi Kemanusiaan
Bagi banyak peserta, forum tersebut terasa sangat personal. “Ngkaji Pendidikan adalah kompas pendidikan bagi kami para guru Indonesia,” ungkap Rivai, seorang guru muda dari Yogyakarta.
Aji, seorang profesional yang turut hadir dalam forum tersebut, menyebut Ngkaji Pendidikan sebagai ruang yang langka dan unik, yang sulit ditemukan saat ini. Menurutnya, forum ini bukan sekadar tempat transfer materi, tetapi juga transfer energi, makna, dan harapan baru bagi siapa pun yang hadir di dalamnya.
Ia menilai Ngkaji Pendidikan mampu membangun imajinasi konstruktif. Peserta tidak hanya memahami persoalan pendidikan secara intelektual, tetapi juga menemukan makna terdalam melalui pengalaman batinnya masing-masing.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Rizal memperkenalkan konsep “Saklar Kognitif”, yakni kemampuan manusia untuk mengamati pikirannya sendiri atau metakognisi. Konsep itu dijelaskan melalui tiga tahap.
Pertama, Interrupt (menghentikan respons otomatis). Kedua, Observe (mengamati proses berpikir sendiri). Ketiga, Reconstruct (memperbarui cara berpikir dan bertindak secara sadar). Dalam forum tersebut, konsep itu tidak diposisikan sekadar sebagai metode belajar, melainkan sebagai fondasi kesadaran manusia. Baca juga:
Ngkaji Pendidikan GSM Sebut Pendidikan Kehilangan Fondasi Kemanusiaan
Bagi banyak peserta, forum tersebut terasa sangat personal. “Ngkaji Pendidikan adalah kompas pendidikan bagi kami para guru Indonesia,” ungkap Rivai, seorang guru muda dari Yogyakarta.
Aji, seorang profesional yang turut hadir dalam forum tersebut, menyebut Ngkaji Pendidikan sebagai ruang yang langka dan unik, yang sulit ditemukan saat ini. Menurutnya, forum ini bukan sekadar tempat transfer materi, tetapi juga transfer energi, makna, dan harapan baru bagi siapa pun yang hadir di dalamnya.
Ia menilai Ngkaji Pendidikan mampu membangun imajinasi konstruktif. Peserta tidak hanya memahami persoalan pendidikan secara intelektual, tetapi juga menemukan makna terdalam melalui pengalaman batinnya masing-masing.
(poe)
Lihat Juga :