Peneliti BRIN Siti Zuhro: Daerah Maju Kuncinya Inovasi dan Gotong Royong, Stop Mengeluh!
Sabtu, 04 Juli 2026 - 08:13 WIB
loading...
A
A
A
Aditya menyarankan adanya paradigma anyar tentang transformasi di daerah, oleh daerah sampai dari daerah. Yang berarti potensi lokal, institusi lokal, dan masyarakat lokal justru menjadi kemajuan secara nasional. Dengan demikian, seturut Aditya daerah adalah ruang hidup untuk budaya, norma sosial, politik dan institusi yang bisa didalamnya ada pesantren, petani, nelayan, komunitas lokal UMKM.
“Pembangunan nasional harus dimulai dari persoalan yang paling dekat dengan masyarakat agar menghasilkan kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan daerah,” katanya.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang mewakili kepala daerah Millenial kelahiran 1980-an dan juga mantan seorang konsultan Riset dan Politik Nasional menyatakan daerah Situbondo memang sejak lama produsen dua komoditas, yakni Tembakau dan Kopi.
Namun, ia bersandar pada para teknokrat dan pihak akademisi serta periset kampus untuk mendampinginya menemukan kembali inovasi kuat selain dua komoditas itu. Bupati muda ini kemudian menyampaikan bahwa dia tak mengeluhkan menyoal skema fiskal yang minimal di daerahnya, sebab dia terpilih dari perwakilan partai politik sebagai kepala daerah yang baru menjabat yang hanya ikhlas menerima.
Sarasehan Nasional ini, sebagai rangkaian KAUJE Fest 20026 yang mempertemukan akademisi, birokrat, dan alumni memantik ingatan kembali pada sosok Siti Zuhro. Sebagai peneliti tentang Otonomi Daerah, ia menyatakan persoalan utama yang dihadapi daerah di Indonesia bukanlah hanya keterbatasan anggaran atau kewenangan, tapi lemahnya kapasitas tata kelola, kurangnya kapabilitas kepemimpinan, budaya politik transaksional serta minimalnya partisipasi masyarakat.
“Pembangunan nasional harus dimulai dari persoalan yang paling dekat dengan masyarakat agar menghasilkan kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan daerah,” katanya.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang mewakili kepala daerah Millenial kelahiran 1980-an dan juga mantan seorang konsultan Riset dan Politik Nasional menyatakan daerah Situbondo memang sejak lama produsen dua komoditas, yakni Tembakau dan Kopi.
Namun, ia bersandar pada para teknokrat dan pihak akademisi serta periset kampus untuk mendampinginya menemukan kembali inovasi kuat selain dua komoditas itu. Bupati muda ini kemudian menyampaikan bahwa dia tak mengeluhkan menyoal skema fiskal yang minimal di daerahnya, sebab dia terpilih dari perwakilan partai politik sebagai kepala daerah yang baru menjabat yang hanya ikhlas menerima.
Sarasehan Nasional ini, sebagai rangkaian KAUJE Fest 20026 yang mempertemukan akademisi, birokrat, dan alumni memantik ingatan kembali pada sosok Siti Zuhro. Sebagai peneliti tentang Otonomi Daerah, ia menyatakan persoalan utama yang dihadapi daerah di Indonesia bukanlah hanya keterbatasan anggaran atau kewenangan, tapi lemahnya kapasitas tata kelola, kurangnya kapabilitas kepemimpinan, budaya politik transaksional serta minimalnya partisipasi masyarakat.
(cip)
Lihat Juga :